"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai, dan saya rela dengan hal itu. Semoga Allah selalu memberikan anugerah."
Hening sejenak. Seperti dunia menahan napas. Lalu, seruan lantang menggema di seluruh ruangan.
"SAH!"
Sorak-sorai tamu undangan pecah, memenuhi ruangan dengan kehangatan. Aku mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan seluruh ketegangan yang tadi mengikat dadaku. Ijab kabul telah terucap tanpa satu pun kata yang terlewat. Aku resmi menjadi suami Tari.
Dalam hati, aku tahu bahwa aku mampu memberikan lebih dari sekadar seperangkat alat salat sebagai mahar. Harta dan benda bukan masalah bagiku. Tapi, ayah dan ibu Tari menolak segala bentuk kemewahan. Bahkan Tari sendiri pun tidak menginginkannya. Baginya, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa mahal mas kawin yang kuberikan, melainkan dari kesungguhan dan komitmenku untuk menjaganya. Yang mereka harapkan hanyalah satu hal—aku mencintai dan membahagiakan putri mereka sebagaimana mereka telah membesarkannya dengan penuh kasih.
Setelah ijab kabul, Pak Penghulu memimpin doa. Semua hadirin menundukkan kepala, memohon keberkahan agar aku dan Tari menjadi pasangan yang senantiasa sakinah, penuh cinta, dan diridhoi oleh Tuhan.
Saat acara selesai, Tari mendekat perlahan. Gaun putihnya melambai anggun setiap kali ia melangkah. Wajahnya berseri-seri, matanya berkaca-kaca. Lalu, dengan penuh kelembutan, ia meraih tanganku dan menciumnya dengan khidmat. Seketika, hatiku menghangat. Sentuhan itu, begitu lembut dan penuh makna. Ia menatapku, bibirnya melengkung dalam senyum haru.
"Aku bahagia, Andra."
Dan aku tahu, aku pun merasakan hal yang sama.
-II-
Tari berjalan di belakangku, mengikuti langkahku menuju kamar. Gaun putihnya yang menyerupai kebaya masih membalut tubuhnya dengan anggun, begitu juga riasan di wajahnya yang belum pudar. Aku bisa melihat keindahannya lebih jelas dari biasanya—lebih dekat, lebih nyata.
Semua barang-barang Tari sudah lebih dulu dipindahkan ke kamarku. Kini, ruang ini bukan lagi hanya milikku, tetapi juga miliknya. Namun, Tari tampak masih canggung. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya saling meremas di pangkuannya, pandangannya tertunduk.
Aku melepas jas hitam, lalu membuka kancing kemeja putihku satu per satu. “Kamu kenapa?” tanyaku, penasaran dengan sikapnya yang tiba-tiba gugup.
Tari tak menjawab. Aku mendekat, duduk di sebelahnya, mencoba mencari tatapan matanya. Tapi dia justru semakin menghindar. Entah karena malu atau ada hal lain yang tengah berkecamuk di kepalanya.
“Kenapa, sih?” tanyaku lagi, berharap ia mau bicara.
Tari menggigit bibirnya sesaat, lalu akhirnya berucap, “Kamu ... keluar dulu, ya, Ndra. Aku mau ganti pakaian.”
Aku mengerutkan kening. “Loh, kenapa? K-kita ‘kan suami istri, jadi—”
“Udah, keluar dulu sana, keluar!” potongnya cepat.
Sebelum aku sempat membantah, Tari menarik lenganku, menyeretku ke pintu, lalu mendorongku keluar. Pintu kamar pun tertutup rapat di hadapanku. Aku mengembuskan napas panjang, pasrah dengan sikapnya. Mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa menyandarkan punggung ke dinding, menunggu.
Setelah beberapa saat, aku mengetuk pintu. “Tari, udah belum?”
Tak ada jawaban. Aku mencoba lagi, kali ini lebih manja. “Sayang, udah apa belum, sih? Masa aku ditinggal di luar?”
Dari dalam kamar, suara Tari terdengar, “Belum! Kamu tunggu di luar aja dulu. Biarin aku menyiapkan diri.”