Ratusan tahun yang lalu, kedamaian itu pernah terjadi pada sosok yang dulu pernah menyaksikan perang antar Dewa dan Iblis. Suara gemericik air masih bisa terdengar sejauh manapun kamu berdiri dan rumah-rumah yang terbuat dari kayu pun akan terasa sangat kokoh meski kau tiduri. Namun, kebencian yang menciptakan sosok mengerikan semakin membesar dan meluap, di sebuah tempat yang telah disegel oleh beberapa dewa. Gerbang antara dimensi manusia dan iblis perlahan retak. Sayangnya tak ada satupun manusia yang menyadari keanehan itu terjadi.
Pegunungan Xin Yue, di tepi barat benua Xuanyuan. Benua yang didominasi oleh warna oranye dan putih ini menjadi tempat para Dewa menyegel semua kebencian yang ada pada diri manusia. Di sebuah tempat dengan tanah merah dan pohon yang gagal tumbuh. Tak jauh dari sebuah batu nisan raksasa yang tertancap di tanah yang konon merupakan kuburan dari salah satu Dewa yang dihukum oleh langit. Sebuah mantra tulis, menutupi sebuah lubang berwarna gelap dan memancarkan debu serta asap berwarna merah. Teriakan para iblis yang terkurung di dalamnya akan selalu terdengar. Meski kamu tinggal dan menetap di sana selama ratusan tahun, suara itu akan tetap ada sampai segel yang mengunci mereka itu hancur berkeping-keping.
Karena lemahnya perasaan manusia, kebencian itu semakin membesar di satu tempat yang lama kelamaan, akan menghancurkan dirinya sendiri. Sosok iblis muncul, menapak di tanah yang telah ditinggali oleh manusia selama berabad-abad. Karena tercipta dari kebencian yang tersimpan cukup lama, Iblis itu akan menyerang apapun yang mereka lihat dan menghancurkannya. Di sanalah, semua kekacauan itu mulai terjadi.
Sosok iblis yang akhirnya bisa keluar dari tempat persembunyiannya dan manusia yang tanpa daya mencoba mempertahankan apa yang mereka miliki. Sebatang kayu lapuk, tak akan bisa menggores kulit para iblis yang sekeras baja. Apa yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menyerah, dan menyerahkan nyawa mereka pada kematian.
Satu kota hancur dan terbakar dalam satu malam. Tak ada suara teriakan ataupun tangisan. Hanya ada sosok mengerikan, berlumuran darah yang saat ini berdiri di atas tumpukan mayat manusia yang sengaja dikumpulkan untuk disantap. Sang bulan yang selalu memberikan dongeng sebelum tidur pada manusia itupun menangis. Melihat semua orang di bawah sana akhirnya tidur untuk selamanya.
"Sungguh kejam! Tega sekali! Iblis-iblis itu tak bisa dimaafkan."
Air mata bulan jatuh ke dalam sebuah sungai yang kini berubah menjadi merah. Ratusan mayat manusia telah dibuang ke sana dan menjadikannya sungai yang paling kotor. Begitu juga dengan sosok yang muncul dari dalam sungai, berdiri tegak diantara tubuh-tubuh yang kini sedang mengambang.
Para iblis yang sedang menyantap makanannya menatap sosok bercahaya itu cukup lama. Sosok yang tanpa ragu menelanjangi salah satu mayat pria dan dengan mudah memakai pakaiannya. Wajahnya tak terlihat dibawah bayangan bulan yang seperti datang untuk melindunginya. Mereka pikir, ada satu manusia yang mereka lewatkan dan dibiarkan hidup di dalam sungai dalam waktu seharian. Tak ada pancaran kekuatan spiritual menyerupai Dewa dalam dirinya. Para Iblis itu rupanya belum menyadari, bahwa sosok laki-laki itu adalah perwujudan dari air mata bulan yang jatuh ke bumi.
Perlahan, sosok laki-laki itupun mendekat tanpa ragu bahkan getar melihat beberapa iblis yang masih menyantap potongan tubuh manusia. Orang itu hanya memakai sehelai kain yang masih utuh, yang ia curi dari mayat dalam sungai tadi. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Hanya ada tetesan air mata yang terlihat menetes dari wajahnya.
Seolah waktu tak berpihak pada para iblis, sosok laki-laki itu sekarang telah berdiri ditengah-tengah mereka dengan wajah menunduk. Tangannya yang putih masih tampak bersih. Namun, apa yang sudah dilakukannya sampai membuat beberapa iblis di belakangnya tiba-tiba terpenggal kepalanya dan mati di tempat?
Tak hanya bisa memanipulasi waktu, dia juga bisa memanipulasi iblis dengan gerakan tipuan yang ia ciptakan. Bahkan setetes darahpun tak terlihat begitu ia membunuh beberapa iblis lagi dengan jentikan jarinya. Seolah, dialah yang mengendalikan semua kematian mereka, dengan cara apapun yang ia mau.
"Sial! Apakah dia- AKKHH!"