AUDREY
Kupikir aku sudah mulai gila karena menjadikan kantor sebagai escape planku weekend ini. Hari Sabtu di mana biasanya seorang perempuan dewasa pergi berkencan atau sekedar hang out bersama teman, tapi aku justru secara suka rela memilih di kantor sampai sore begini. Lengkap dengan bertumpuk-tumpuk berkas, laptop yang terus menampilkan deretan gambar dan huruf serta cangkir kopi yang sudah kuisi ulang entah untuk keberapa kali. Kopi yang rasanya makin lama makin hambar, tapi tetap kuteguk hanya karena diri ini butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran.
Di luar sana hujan terus turun semenjak siang tadi hingga saat ini jam menunjukan pukul enam sore. Hujan nampaknya masih enggan untuk berhenti meskipun derasnya kini sudah berganti menjadi rintik-rintik. Rintik yang memantul di kaca jendela membuat pendar lampu kota terlihat berbayang, seolah kota ini sedang berkabut perasaan sendu. Belum lagi hening yang menusuk, hanya suara jarum jam di dinding yang terdengar jelas seperti pengingat waktuku sudah habis di sini.
Aku melepas kaca mataku, memijitnya pelan, merasakan mataku rasanya mulai perih karena terlalu lama menatap layar. Tatapku melebar ke ruangan dan baru saja menyadari tidak ada orang lain lagi selain aku.
Di weekend seperti ini biasanya karyawan yang lembur mereka hanya rela menghabiskan waktu sampai maksimal jam tiga sore. Niatku awalnya juga begitu. Siapa juga yang mau secara suka rela menghabiskan waktu di kantor saat weekend begini padahal pekerjaan tidak sedang mendesak.
Di saat aku sedang meratapi nasib kesendirianku, deringan ponsel yang entah sudah keberapa kali sejak lima jam terakhir membuatku semakin enggan meninggalkan kantor. Nama mama terus muncul tiap satu jam sekali lalu dia meningkatkannya menjadi tiap sepuluh menit sekali
"Kamu udah keluar kantor kan, Dre?"
"Iya udah, Ma." Mama tidak melihatku jadi aku berani berbohong.
"Pulang naik apa? Udah sampe mana? Masih hujan ya? Kira-kira sampai rumah jam berapa ya, Dre? Bisa cepat nggak ya?"
Aku memutar bola mata mendengar pertanyaan borongan itu. "Dua jam lagi mungkin sampai rumah."
"Jangan bercanda kamu!" Dia terdengar menghela napas. "Yasudah diusahakan cepat ya, Dre. Kasihan kan kalo Tante Lastri sama Kelvan sudah sampai nanti nunggu lama. Mereka sudah dekat sini."
Kalian sudah mulai mengerti sekarang apa masalahku? Mama yang lagi bercanda dengan hidupku, membawa Tante Lastri dan anaknya yang bernama Kelvan itu . Ironisnya, aku bahkan bisa lebih menerima rasa pahit kopi ketimbang rasa getir karena mendengar kata perjodohan.
Ide perjodohan ini muncul setelah aku berulang tahun yang ketiga puluh. Dua tahun setelah aku gagal menikah. Pertanyaan mengenai pernikahan terus terdengar apalagi ketika teman-teman dan tetangga seumuranku satu persatu mulai menikah. Mama mulai gencar menginterview teman-temannya yang punya anak laki-laki. Dia menyebutkan nama-nama lelaki hampir setiap minggu, terkadang juga menunjukkan fotonya, kecuali Kelvan, mama belum pernah menunjukkannya tapi cerita tentangnya justru lebih heboh dan nggak habis-habis. Bahkan pertemuan yang sudah dirancang hampir sebulan lalu tetap dilanjutkan meskipun beberapa kali aku sengaja membuatnya gagal. Rupanya Tante Lastri dan anaknya cukup keras kepala kali ini
Aku mengklik shut down di laptop kemudian dengan malas mulai meninggalkan kantor. Mencari taksi di tengah cuaca yang sedang seperti ini bukan perkara mudah. Aku harus menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan taksi online. Hujan, macet dan banjir adalah kombinasi yang bagus sebenarnya untuk menahanku lebih lama lagi tapi sialnya aku justru merasakan perjalananku dari kantor ke rumah berlangsung sangat cepat.
Aku menemukan sebuah Hyundai Creta milik si tamu spesial terparkir di depan rumah. Dengan malas aku menyeret langkahku, memutuskan untuk berbelok ke arah pintu samping saja. Jantungku mendadak berdetak lebih cepat. Mungkin ini sekadar refleks tubuh. Bukan berarti aku antusias. Ya Tuhan bahkan kurasa aku lebih antusias kalau ketemu kurir paket belanjaanku daripada calon jodoh pesanan ini.
Tujuan pertamaku begitu sampai rumah adalah dapur karena saat ini tenggorokanku tiba tiba saja terasa kering meskipun cuaca sedang dingin. Aku melempar tasku, mengikat rambut dengan asal lalu berjalan ke arah kulkas mengambil botol air minum. Ku teguk air putih dingin itu banyak-banyak seakan aku ini dehidrasi. Bersandar ke dinding, aku melepas jaket denimku dan membebaskan kakiku dari heels setinggi tujuh senti, sedikit menyesali kenapa aku hari ini memilih untuk memakainya.
Sayup-sayup kudengar suara mama yang sedang berbicara dengan seseorang. Suara laki-laki dewasa lalu mereka tertawa seakan-akan sudah sangat akrab. Aku mencoba menguping namun nggak ada yang bisa kudengar lagi karena kepala mama tiba-tiba saja sudah muncul di pintu dapur. Aku buru-buru menenggak habis minumanku sampai sedikit tersedak karena gaya minumku yang mirip preman.
Mama berjalan di depanku. Mataku mengikuti pergerakannya yang masih nampak anggun di usia tuanya. Sedikit terkejut karena sempat-sempatnya ia menyanggul rambut dan memulas wajah cantik keriputnya dengan riasan tipis.
"Wow cantik banget, Ma." Pujiku dengan tulus.
"Kayak kucing aja kamu masuk dapur diam-diam begitu," balasnya. Rupanya pujianku tidak mempan. Mama terus mengisi nampan dengan berbagai toples kue kering. Dia benar-benar menyiapkan semuanya untuk pertemuan ini, pasalnya tadi pagi kue-kue itu belum ada.
Aku menegakkan tubuh seperti baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang salah. " Aku haus jadi ke dapur dulu buat minum."
"Ayo sekarang ke depan! Mereka udah nunggu lama satu jam lebih lho. Mama nggak enak sama Tante Lastri dan Kelvan. Ini udah toples ke berapa yang mama keluarin."
Titahnya membuatku mematung di tempat. Tidak yakin dengan penampilanku sekarang. Rambutku mencuat sana-sini, make up di wajahku pasti sudah amburadul, dan bau taksi ketinggalan di tubuhku. Dan tiba-tiba saja rasanya aku kepengen mandi air hangat karena merasa tubuhku mulai berkeringat dingin.
Aku baru saja berniat melewati mama tapi beliau memberikanku tatapan tajam, membuat aku mengurungkan niat tersebut. Titahnya sekarang tidak bisa kubantah jadi kuseret langkahku mengekor di belakangnya sambil menggurutu dan membenahi kunciran rambut yang sialnya justru semakin berantakan.
Di ruang tengah sudah ada dua orang yang menunggu kedatanganku dari tadi. Seorang perempuan tua gemuk memakai blouse bunga-bunga yang umurnya tidak jauh beda dengan mama dan seorang laki-laki yang saat ini membelakangi kami sambil berbicara di telpon. Punggung lebar itu berbalut kemeja slim fit biru tua. Siluet bahunya yang tegap membuatku mendadak menegakkan postur tubuhku sendiri tanpa sadar. Ya setidaknya bukan laki-laki tua yang dikenalkan mama kepadaku.