AUDREY
"Jadi namanya Kelvan, ya."
"Kayak apa orangnya?"
"Spill kek! Kita nih udah penasaran dari semalam."
Topik mengenai perjodohanku dengan Kelvan sudah pasti akan terus dibahas oleh sahabat-sahabatku. Saat ini kami tengah berada di salah satu restoran all you can eat daerah Bintaro. Sebenarnya aku nggak ada rencana keluar hari Minggu ini tapi mereka terus mengganguku dengan mengirim ratusan pesan di grup whatsapp dari semalam.
Selama sepuluh menit ceritaku mengalir begitu saja. Mulai dari escape planku sampai apa yang aku bicarakan dengan Kelvan berdua semalam. Bella dan Dinar nampak antusias mendengarkan sedangkan Rudy lebih peduli dengan daging yang sedang dipanggangnya. Dia sudah mengeluh kelaparan sejak kami pergi tadi.
"Apa coba maksudnya dia ngomong begitu?"
Bella terlihat gemas. "Berarti tuh dia sebenarnya tertarik sama lo, Dre. Ya memang sih dia nggak bilang mau, tapi dia juga nggak nolak kalo dijodohin."
"Maksudnya dia mau coba dulu kali. Mau coba deket dulu sama lo. Gitu." Tambah Dinar.
Malam itu, setelah pembicaraan singkat aku dengannya, Kelvan langsung masuk ke dalam rumah. Tidak lama dia dan mamanya langsung pulang. Dia sukses membuatku tidak tidur sampai menjelang subuh tadi karena terus menebak apa maksud dari kata-katanya. Rasanya Kelvan tidak mungkin mau menerima perjodohan konyol ini. Kelvan punya segalanya yang diinginkan perempuan. Kuakui dia memang tampan, pekerjaannya pun kata mama sudah mapan. Apa dirinya nggak bisa cari pasangan hidup sendiri?
"Mungkin selama ini cewek-ceweknya Kelvan ini nggak sesuai sama kriteria emaknya kali. Jadi emaknya yang harus turun tangan cariin jodoh buat anaknya," kata Rudy. Mulutnya penuh dengan daging dan selada.
"Lagian harusnya tuh lo tanya-tanya dulu gitu kek. Ini mah langsung lo ajak berantem dia," sambar Dinar sambil geleng-geleng kepala.
"Dicoba dulu aja sih, Dre. Kenal lebih deket dulu. Chattingan dulu atau jalan dulu kek. Ini kan nyokap lo yang cariin. Pastinya nyokap lo cari yang baik-baik, kan."
Bahuku turun. "Masa sih gue harus dapat pasangan hidup lewat perjodohan? Konyol banget nggak sih hidup gue?" tanyaku melas.
Rudy terbahak. "Konyol dan pantas ditertawakan hahaha."
"Ya karena nunggu lo yang gerak kelamaan, Dre. Dua tahun lu single gitu-gitu aja. Cowok yang kita kenalin juga nggak ada yang lo mau. Betah banget tuh dua tahun menjomblo. Sekalian aja jadi duta jomblo." Sahut Bella. Dia baru saja selesai mengambil foto-foto makanan kami.
"Nyokap lo mulai khawatir kayaknya deh. Bella udah nikah, si monyet ini bentar lagi juga nikah. Wajar lah nyokap lo berusaha cariin pasangan buat lo. Apa lagi lo anak satu-satunya. Gue paham sih perasaan nyokap lo."
"Tapi lo kan juga belum nikah, Dinar. Kenapa nyokap gue sampai sekhawatir itu, sih!" Ujarku berusaha membela diri yang justru semakin memperlihatkan betapa mengenaskannya hidupku. Tiga puluh tahun, single, berujung harus dijodohkan. Hidupku saat ini memang pantas ditertawakan seperti kata Rudy.
"Ya gue sih ada pacar, ya. Udah dilamar pula. Nah elo?" Dinar menjawab dengan mantap sambil memamerkan cincin di jari manis sebelah kirinya. Akhirnya kutundukkan kepalaku dan hanya berfokus pada makanan saja.
"Kenapa sih lo jadi takut nikah emang?"
Pertanyaan Bella barusan membuatku menerawang. Apa memang kegagalanku di masa lalu membuatku jadi takut menikah sekarang? Setelah kupikir-pikir, sebetulnya aku tidak takut dengan pernikahannya, hanya saja untuk menemukan Mr Right, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Waktuku selama empat tahun sudah terbuang percuma dengan orang yang salah. Bandingkan waktu empat tahun dengan waktu perjodohan yang singkat dan terkesan dipaksakan? Kami dua pribadi berbeda yang dipertemukan dengan sengaja dan diharapkan bersatu dalam sebuah pernikahan. Bayangkan! Yang sudah empat tahun saja bisa tiba-tiba gagal, apalagi ini.
"Nggak takut sih cuma waktunya kayaknya nggak sekarang-sekarang ini," jawabku. Itupun tidak yakin.
Ya menikah memang bukan prioritasku saat ini meskipun kata mama usia akhir tiga puluh itu sudah berada di ujung tanduk. Dinar juga belum menikah, kan? Ya meskipun sudah dilamar, sih.
Entah hanya perasaanku saja ataukah memang suasana menjadi hening tiba-tiba. Bella berdeham diikuti Rudy dan Dinar yang menghentikan sementara aktivitas makan mereka.
"Dre. Kita sebenarnya agak takut nih mau nanya sama lo tapi karena udah dua tahun lo masih gini-gini aja, kita jadi penasaran mau nanya."
Aku meletakkan alat makan dan menatap mereka satu persatu.
"Lo jomblo sampai selama ini...nggak masih berharap sama Adjie, kan? Lo masih belum bisa move on dari Adjie, ya?"
Aku tertegun. Adjie mantan terakhirku. Mantan tunangan lebih tepatnya. Laki-laki yang selama empat tahun bersamaku namun berakhir kandas. Empat tahun sialan yang aku ceritakan tadi. Laki-laki yang membuatku kini harus berpikir ribuan kali tentang pernikahan. Segalanya berakhir sebulan sebelum kami melangsungkan pernikahan. Masalahnya terlalu rumit, Adjie memutuskan pergi dari Jakarta, dari hidupku.
"Nggak lah!" jawabku yakin. Aku memang betah menjomblo dua tahun tapi bukan berarti aku bodoh masih mengharapkan Adjie. Kesalahannya terlalu fatal buatku.
"Syukurlah. Gila sih kalo lo masih berharap sama dia. Gue dapat info dari teman kalau dia sudah balik ke Jakarta. Nggak tau deh benar atau enggak. " Kata Dinar, dia masih mengelus-elus dadanya.
"Dia beneran mau nikah kan ya waktu itu? Awas aja tuh anak kalo sampe nanti berani ganggu elo lagi!" sembur Bella dengan berapi-api.
"Gue belum sempet tonjok pipinya yang sebelah lagi. Kalo dia macam-macam entar gue pastiin pipi yang satunya lagi gue buat babak belur," timpal Rudy juga nggak mau kalah.
Dinar memperlihatkan ekspresi tidak suka. "Udah ah jangan bahas si brengsek itu!"
Awal-awal aku dan Adjie putus dia jadi orang yang merasa paling bersalah karena dia yang memperkenalkan Adjie padaku dulu. Tidak sengaja dikenalkan sebenarnya karena Dinar dan Adjie adalah teman masa SD yang baru bertemu lagi saat Adjie pindah ke Jakarta.