KELVAN
Gue baru saja mengaktifkan ponsel lagi. Benda itu sekarang terus berbunyi menampilkan banyak pesan dan beberapa missed called. Begitu sampai di Jakarta, gue memang memilih untuk nggak ke mana-mana seharian meskipun ini weekend. Tidur dari siang sampai sore. Pesan makan online, Netflix terus lanjut tidur lagi dan baru bangun menjelang jam enam sore. Ponsel sengaja gue matiin biar nggak ada yang ganggu.
Dengan mata sipit karena baru bangun, gue bergerak menuju dapur. Suara perut gue yang keroncongan kembali terdengar. Seingat gue, gue makan jam satu siang tadi. Pantas saja kalau sekarang perut ini lapar lagi. Gue mengecek ke dapur apakah ada yang bisa dimakan tapi cuma menemukan sisa kue bolu pandan buatan Namira yang gue makan tadi pagi. Dengan terpaksa gue makan itu bolu.
Namira lagi gemar mencoba resep-resep masakan semenjak nikah dan seringnya gue jadi korban eksperimen makanannya. Kayak bolu pandan yang bantet ini. Katanya kemarin dia ke sini sama mama buat membasmi makanan-makanan yang menurut mereka nggak sehat. Begitu gue buka lemari makanan, keripik kentang dan beberapa botol soda yang baru gue beli sudah raib.
Sambil mengunyah bolu, gue memilih-milih pesan mana yang mau gue balas lebih dulu. Beberapa dari teman kantor dan bos gue menanyakan laporan pekerjaan gue kemarin, paling banyak chat nggak jelas dari teman-teman di grup, juga ada ajakan jalan dari beberapa teman perempuan gue. Dan missed called sebanyak enam kali dari mama. Penting banget kayaknya. Terakhir sepuluh menit yang lalu.
"Gimana ma? Udah dapat tanggal kapan kita makan malam lagi dengan Audrey?" tanya gue dengan mulut penuh dengan kue bolu. Ya paling ini kan yang mama mau bicarakan dengan gue?!
"Kalo jawab telpon tuh kasih salam dulu!" Semprotnya. "Nggak usah nunggu itu. Kamu sekarang anterin Audrey ya. Jemput dia. Temanin Audrey kondangan."
"Kondangan ke mana? Emangnya dia mau aku temanin kondangan?" Nggak mungkin banget sih karena itu beresiko teman-temannya bakalan penasaran sama gue dan dia.
"Nanti juga kamu tau. Sudah ya. Ini mama buru-buru juga mau nemenin Namira ke dokter. Hamil deh kayaknya dia," katanya dengan heboh. Sambungan telpon langsung dimatikan sepihak sebelum gue menjawab.
Gue malah bengong. Bukan karena kabar dari Namira melainkan nggak percaya rasanya Audrey mau gue temanin kondangan. Apa ini akal bulus nyokap gue dengan nyokapnya dia? Wah parah sih kalo begitu. Gue masih capek tapi sudah harus berhadapan sama mood perempuan itu.
Namun sebagai anak yang berbakti tentu saja gue nggak membantah. Selesai menenggak segelas kopi hitam, gue pergi ke rumah Audrey. Empat puluh lima menit kemudian gue sedang menunggu dia keluar di teras rumahnya. Untung masih ada beberapa kotak pie susu yang gue beli, jadi bisa gue kasih ke Tante Wulan sebagai oleh-oleh.
Nggak lama gue mendengar bunyi ketukan heelsnya Audrey. Dia lewat begitu saja dengan anggunnya, langsung menuju mobil gue yang terparkir di depan rumah. Buset dah. Jangankan senyum, lihat gue saja nggak dan ini bukan pertanda baik. Gue mengatur napas beberapa kali sebelum mengikutinya ke mobil.
"Namanya Gedung Aneka Bhakti di Salemba." Titahnya ketika pantat gue baru juga nempel di jok pengemudi. Tanpa mendebat, gue mencari lokasinya di maps dan bersiap menjalankan mobil. Enaknya pasang argo berapa buat penumpang model begini ya?
"Apa kabar, Dre?" Dengan alasan kesopanan, gue bertanya saat mobil baru keluar dari area komplek rumahnya.
"Nggak begitu baik, sih," balasnya sambil melipat tangan di dada dan wajah ditekuk.
Maksudnya nggak begitu baik karena gue nemenin dia kondangan begitu, ya? Berarti beneran ini akal bulus nyokap kita?
"Kamu lagi sakit apa gimana?" Pura-pura aja nggak tahu.
"Cuma agak capek aja."
"Seminggu ini sering lembur, ya? Jangan kesehatan, Dre. Sekarang lagi musim pada sakit flu sama batuk. Kalau perlu minum vitamin, deh."
Audrey melirik gue sekilas, suaranya dingin, "Iya makasih. By the way, mama saya sama mama kamu yang atur ini. Saya nggak minta kamu temanin saya."
Audrey memang orangnya nggak bisa basa-basi, ya?
"Waaah kena tipu dong ya. Mamaku sih tadi nggak jelasin apa-apa." Respon gue berusaha terdengar santai padahal dalam hati gue sudah mulai dongkol.
"Kalau kamu keberatan, kamu bisa pulang sekarang. Saya bisa pergi sendiri." Audrey menambahkan dengan nada menantang.
Gue sempat diam.
"Tapi aku senang ketemu kamu lagi sih," Gue mencoba menggodanya tapi nggak mempan. Audrey justru lebih memilih memperhatikan jalan ketimbang gue yang jelas-jelas lebih menarik ini.
Biasanya nggak butuh waktu lama untuk perempuan lain tersenyum malu-malu sehabis gue rayu, tapi di Audrey nggak begitu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, rayuan gue gagal. Jangan sampai Bram mengetahui ini.
Sampai kami hampir tiba di lokasi resepsi, dia masih menutup mulutnya rapat-rapat padahal gue sudah begitu frustasinya dengan keberadaannya di mobil gue. Dia sadar nggak, sih kalau penampilannya malam ini bisa menarik perhatian laki-laki manapun?
Setelah berputar-putar cari tempat parkir yang penuh ini, akhirnya mobil harus parkir di tempat yang agak jauh. Kami masih harus berjalan sekitar seratus meter. Gue bisa menyamai langkahnya yang menurut gue lumayan cepat padahal dia pakai heels yang gue kira-kira tingginya tujuh senti itu. Heels yang sama saat gue lihat dia pertama kali waktu itu. Gue mengusap wajah karena tiba-tiba saja bayangan Audrey malam itu muncul lagi.
Malam ini Audrey memakai dress selutut yang sederhana berwarna navy. Nggak nyambung sih sama gue yang pake batik warna marun ini tapi gue nggak peduli. Hampir keseluruhan dress itu tertutup dengan sopan kecuali bagian lengannya yang dibuat transparan nampak sangat manis ketika dia pakai. Rambutnya bergelombang dibiarkan tergerai, sesekali tertiup angin. Audrey nampak nggak peduli, menyelipkan helaian rambut itu di telinganya, rasanya lelah gue seakan menguap begitu saja.
Saat kami tiba di depan gedung, antrian sudah mengular sampai keluar. Gue nggak tau harus bersyukur atau mengeluh, menghitung berapa lama lagi waktu yang harus gue lewati bersama Audrey. Gue membiarkan dia berdiri di depan gue, menghirup aroma tubuh Audrey di dekat gue, sambil sesekali memperhatikan beberapa laki-laki yang menatapnya. Kepala gue menggeleng karena sempat-sempatnya terlintas bagaimana caranya memberitahu semua laki-laki di sini kalau Audrey datang bersama gue. Konyol banget.
Kami mengantri hampir tiga puluh menit sampai akhirnya bisa memberi selamat kepada kedua mempelai. Setelahnya Audrey berjalan ke samping tempat berbagai stand makanan berada. Jika di bagian depan tadi antrian mulai terurai, di bagian makanan justru cukup padat. Di bagian makanan prasmanan, terlihat mungkin belasan orang sedang mengantri. Audrey berhenti kemudian menoleh ke gue di belakangnya.
"Capek, ya? Aku yang ambilin makanannya. Kamu mau makan apa?" tanya gue cepat karena melihat Audrey sedikit meringis sambil memegang lututnya. Mungkin kakinya mulai pegal akibat berjalan dan mengantri cukup lama tadi.
Dia nampak ragu, mungkin gengsi. Dia kan perempuan serba mandiri.
"Saya pengen sate aja, sih kalau kamu nggak keberatan ambilin," jawabnya sambil menunjuk stand makanan sate yang nggak begitu ramai seperti yang lain. Mungkin dia sengaja pilih itu biar cepat juga.
Gue melesat ke sana. Meminta dua porsi sate ayam. Sekalian saja gue makan itu meskipun sepertinya nggak bakal cukup menutupi rasa lapar gue karena porsinya sedikit.
Sekitar sepuluh menit kemudian akhirnya dua porsi sate berhasil gue dapatkan. Gue mencari-cari di mana Audrey duduk. Gue lihat dia sedang mengobrol dengan seorang bapak tua dan istrinya serta ada dua orang anak laki-laki kembar yang gue tebak adalah cucu mereka. Mereka nampak seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Ketika jarak semakin dekat dengan mereka, gue mencoba sepelan mungkin bergerak ke samping. Gue nggak ingin menarik perhatian, apalagi Audrey, dia pasti nggak ingin kerabat ayahnya mengenal gue.
"Saya memang nyuruh papa kamu seminggu lagi, Dre di sana. Kalau ditanganin yang lain khawatir nggak-"
Bapak tua itu berhenti bicara. Dia melihat gue yang sedang membawa dua porsi makanan mendekat. Dia menurunkan kaca mata bulannya.
"Wah ini calon kamu? Ayo cepat deh nyusul. Papa kamu kayaknya udah mau juga tuh momong cucu kayak saya gini," katanya sambil menunjuk kedua cucunya yang mulai bergerak nggak karuan. Yang satu berputar-putar, yang satunya lagi lompat-lompat di kursi membuat nenek mereka kewalahan
"Halo. Saya Kelvan. Maaf jadi ganggu ngobrolnya." Gue mengulurkan tangan untuk berjabat tanpa ada niatan untuk mengklarifikasi katanya-katanya. Malangnya Audrey, bos papanya langsung pamit undur diri begitu istrinya mengeluh tidak bisa lagi memegang kedua cucunya, meninggalkan kesan yang salah mengenai hubungan kami.