I Bet You Love Me

ND
Chapter #4

Taruhan Bodoh

KELVAN

Rafi, Bram, dan gue saat ini sedang bersama di kedai kopi. Letaknya di mall sebelah gedung kantornya Rafi. Gedung kantornya Audrey juga, tapi gue bukan sengaja ke sini buat ketemu dia. Gue baru saja bertemu klien di sini dan Bram yang kebetulan sedang dekat sini juga tadi langsung menyusul.

Aroma kopi bercampur suara mesin espresso memenuhi udara. Suasana kedai lumayan rame, ada yang meeting, ada juga pasangan yang ngobrol mesra di pojokkan. Kontras banget sama meja kami yang dipenuhi ceng-cengan nggak jelas.

Mereka berdua masih juga menertawai gue ketika gue baru kembali sehabis mengambil pesanan. Bram si mulut besar, si paling heboh. Ternyata dia juga menghadiri resepsi yang sama dengan gue dan Audrey Sabtu malam lalu. Bram membeberkan apa yang dilihatnya waktu itu antara gue dan Audrey dengan cerita yang dilebih-lebihkan.

"Baru kali ini gue liat ada cewek yang nggak suka sama Kelvan. Sekarang gue percaya waktu lo bilang lo langsung ditolak pas pertemuan pertama hahahaha." Bram masih terbahak. Bram tuh memang bocor banget anaknya.

"Sialnya lagi itu cewek yang justru dipengenin nyokapnya, ya." Rafi menimpali dan mereka terbahak lagi. Kali ini lebih kencang membuat beberapa orang di sekitar kami penasaran.

"Tadinya gue mau samperin kalian tapi waktunya lagi inggak tepat ya. Lebih seru nontonin kalian sih. Sumpah sih muka lo tuh."

"Berisik lo ah!" Gue melempar tisu kotor ke arahnya. Pokoknya kalau ada sesuatu yang memalukan diketahui Bram, pasti akan dibahas seumur hidupnya.

"Jadi gimana? Jadi dilanjutkan itu perjodohan? Udah sampai mana nih?" tanya Rafi sambil menyikut lengan gue yang untungnya nggak lagi megang gelas kopi.

Gue mendesah panjang. "Gue lagi malas bahas beginian."

"Yaelah. Cowok biasanya kalau bilang 'males bahas' tuh justru lagi kepikiran. Gue udah lama kenal lo, Van. Cewek kayak gimana coba yang bisa bikin lo kayak gini?"

"Cewek kayak Audrey lah," celetuk Bram. "Eh tapi temboknya tinggi banget, ya. Tembok Cina apa Berlin itu," tambahnya lagi, ketawa sampai nyaris batuk-batuk.

"Kayak gini gimana, sih? Gue biasa aja."

"Kayak nggak berdaya. Biasanya jadi buaya darat eh cuma jadi cicak di dinding diam-diam merayap."

"Kemarin juga tuh udah kayak bocah baru pertama kali masuk club."

"Jadi cupu ya dia?"

"Gue kan emang cupu. Yang suhu kan dia doang." Telunjuk gue mengarah ke Bram. Dia cuma nyengir.

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Jadi gimana?" Rafi bertanya lagi.

Gue belum mau menceritakan apa yang terjadi di mobil kepada mereka karena Audrey juga belum kasih jawaban apa-apa. Kemarin Audrey cuma bengong sambil natap gue lalu dia pamit keluar, membanting pintu mobil tepat di depan wajah gue. Dia pasti terkejut banget sih. Nggak nyangka gue bakal ngajak dia pedekate. Sebenarnya kalo boleh jujur gue lebih nggak nyangka dengan diri gue sendiri yang bisa sefrontal itu. Awalnya gue cuma mau godain dia aja tapi karena sikapnya itu bikin gue gemas sekaligus frustasi, gue malah tanpa sadar ngomong begitu.

"Gue biasa aja. Beneran."

Gue tahu Bram dan Rafi nggak puas dengan jawaban tersebut namun mereka untuk sementara waktu memilih sibuk masing-masing. Rafi dengan pekerjaan yang dia kerjakan di iPadnya dan Bram yang sedang telepon cewek entah yang mana lagi.

Mata gue menyapu ke segala penjuru kedai. Suara orang-orang tertawa terdengar begitu pintu kedai kopi dibuka. Kepala gue otomatis menoleh. Masuklah dua orang perempuan dan satu laki-laki. Mata gue mengerjap nggak percaya dengan apa yang gue lihat sekarang. Ini benar-benar kayaknya Tuhan memang kirim Audrey sebagai jodoh gue apa, ya? Belum empat puluh delapan jam gue sudah bertemu dia lagi.

Audrey dan dua temannya sedang berjalan menuju konter pemesanan. Dia nggak menyadari gue yang sedang duduk di pojok terhalang tanaman hias. Perempuan itu mengenakan rok span hitam dengan atasan blouse berwarna biru laut dan flat shoes. Harus gue akui Audrey selalu bisa membuat gue terpana setiap kali bertemu apalagi dengan poninya yang lucu itu bikin pengen gue elus-elus. Eh?

"Audrey yang itu?" Suara Rafi membuat gue kaget. Gue menoleh ke Rafi yang ternyata sedang sama-sama melihat ke arah Audrey dan teman-temannya.

"Eh iya ada dia tuh. Bohong lu ya ketemu klien? Emang niat mau nyamperin dia lo? Ajak sini aja gimana?" usul Bram ngeselin. Gue menendang kakinya di bawah untuk segera diam. Gue belum siap kayaknya ketemu Audrey lagi. Mau taruh mana muka gue?

"Lo kenal, Raf?" Rafi dan Audrey memang satu gedung perkantoran tapi gue nggak pernah nyangka mereka bakal kenal. Kemungkinannya kecil banget.

Rafi menggeleng. "Ya cuma sekedar tau aja orangnya. Dulu gebetannya teman gue tuh. Teman gue pernah nembak dia."

Bram menoleh ke gue. "Biasa aja dong muka lo!"

Perasaan muka gue biasa aja deh. Kalau jantung gue kayaknya memang lagi ada yang pukul-pukul.

"Terus teman lo diterima nggak?" Pertanyaan Bram sudah mewakilkan. Dia menepuk-nepuk lengan gue seolah-olah menyuruh gue untuk tetap tenang.

"Teman gue ditolak."

Bram menepuk-nepuk lengan gue lagi. "Tenang. Lo masih ada kesempatan, boy."

"Lo kenal sama cowok yang sekarang sama dia nggak?" Gue kembali memastikan rasa penasaran gue seakan-akan gue belum merasa lega. Audrey nampak sangat akrab dengan laki-laki itu. Atau mungkin hanya perasaan gue saja.

"Ada yang cemburu," ledek Bram. Dia mengangkat iPad punya Rafi untuk melindungi kepalanya dari jitakan gue. "Wow akhirnya ada lagi cewek yang bisa buat Kelvan cemburu setelah dua tahun," tambahnya lagi.

"Udah beneran suka lo sama Audrey? Suka buat didekatin yang serius maksud gue." Rafi mengamati gue layaknya seperti pengamat ekspresi para artis di acara-acara gosip. Setelah gue berpikir, dari pada gue simpan sendiri, akhirnya gue cerita juga mengenai Sabtu malam kemarin ke mereka.

"Terus lo menyesal udah bilang begitu?"

Bram menggebrak meja. "Jadi sebenarnya lo mau atau enggak sih dijodohin? Entar dia baper. Jangan bikin anak orang jadi galau!"

Pandangan gue kembali ke Audrey yang sekarang mulai berjalan meninggalkan kedai kopi ini, masih tertawa-tawa dengan dua orang temannya. Dia memegang gelas kopinya yang dari warnanya gue tebak adalah Americano. Bahkan kopi yang biasa dia minum aja sepekat hatinya.

Gue menerawang mencari jawaban atas pembenaran sikap gue. "Mungkin gue tuh ketrigger aja karena Audrey beda sama cewek-cewek lain yang selama ini ngejar-ngejar gue. Jadi gue merasa tertantang karena dia terus-terusan bersikap denial dengan keberadaan gue. Iya, kan? Pasti begitu, kan?"

"Ya mana kita tau. Lo tanya dong tuh sama hati lo yang udah lama kosong melompong itu!" Ujar Bram agak sewot.

"Kalo lo beneran suka sama Audrey, gue sih dukung, ya. Kelihatan anaknya baik kok. Gue sih nggak tau ya alasan kenapa teman gue ditolak, padahal teman gue ini jelas lebih baik dari lo ke mana-mana."

Gue tergelak mendengar penjelasan Rafi sementara Bram mulai tertawa sumbang.

"Ya teman lo aja yang baik-baik ditolak apalagi si brengsek ini yang sering mainin perasaan perempuan."

"Ya sebelum Audrey tau lo brengsek, mending lo cepat berubah, sih. Gue rasa pilihan nyokap lo pasti yang baik. Iya nggak, sih?"

"Lo akhiri deh tuh hubungan-hubungan nggak jelas lo. Sama siapa itu yang terakhir?"

"Iya. Baliklah jadi Kelvan yang dulu lagi."

Gue terdiam. Kata-kata mereka agak nyelekit tapi jujur ada benarnya juga. Kadang gue berpikir kenapa gue nggak kembali ke sosok Kelvan yang dulu, Kelvan yang dua tahun lalu, bukan Kelvan sekarang yang brengsek, yang mainin perasaan perempuan, yang menganggap semua perempuan sama aja dan manipulative. Kenapa gue nggak mulai serius mencari pasangan hidup gue sendiri. Kayaknya sudah cukup dua tahun gue gini-gini aja. Dua tahun ini gue kayak sengaja jadi versi brengsek dari diri gue sendiri.

"Taruhan yok!" Bram baru saja mencetuskan ide gila.

"Gila lo!" pekik Rafi. Di kepala Bram memang selalu tersimpan hal-hal gila.

***

Lihat selengkapnya