AUDREY
"Semalam sampai rumah jam berapa, Dre?" Mas Ezra, manajer marketing di tempatku bekerja bertanya saat kami keluar ruangan meeting.
"Jam sepuluh, mas."
"Kita nggak ditanya, mas?" Ivan menyambar dari arah belakang. Di sampingnya ada Rania yang baru saja menoyor kepalanya.
Dulu Rania dan Ivan bersikeras kalau Mas Ezra ini menyukaiku. Perlakuannya kepadaku memang bisa membuat orang lain mengira begitu. Dia lumayan sering mengajakku pulang bareng, menaruh minuman favoritku tanpa ku ketahui dan perhatian-perhatian kecil seperti mengingatkanku untuk tetap tidur cukup walaupun pekerjaan sedang hectic dan membawakan makanan ketika dia kembali dari meeting di luar. Hanya itu sebenarnya, aku dan Mas Ezra belum pernah benar-benar pergi berdua layaknya orang sedang pedekate.
Sampai akhirnya enam bulan lalu Ivan dan Rania dibuat terdiam dengan sebuah undangan pernikahan Mas Ezra dengan kekasihnya. Aku pun cukup kaget tapi mengingat aku dan Mas Ezra nggak pernah benar-benar pedekate jadi yasudah berlalu begitu aja. Kami kembali bekerja seperti biasanya dan perhatian-perhatiannya yang dulu juga sudah nggak ada lagi.
"Habis saya traktir semalam kerjanya jadi lebih rajin lagi, ya!"
"Kurang rajin apa lagi, mas? Apa sekalian aja kita nginep di sini?" Jawab Rania dengan wajah bersungut-sungut di belakang Mas Ezra. Sejak kejadian Mas Ezra yang tiba-tiba menikah, Rania memang masih sedikit kesal sampai saat ini.
Kami lalu bergegas ke meja masing-masing untuk beberes dan bersiap pulang. Sesuatu yang patut disyukuri karena hari ini bisa keluar kantor jam lima sore. Setengah jam kemudian aku turun ke bawah menemui mama dan papa. Papa baru tiba di Jakarta kemarin siang dan kami bertiga berencana makan malam di luar sekarang. Rasanya sudah lama sekali kami tidak pergi keluar bertiga. Tiga bulan ini papa lagi sering kerja di luar kota.
Aku mengambil alih kemudi dan menjalankan mobil menuju sebuah restoran yang terkenal dengan aneka seafood dan ikan bakarnya.
"Kelvan gimana, Dre?" tanya Papa. Dia pindah duduk di belakang bersama mama. Menjadikanku seperti sopir pribadi mereka.
"Apanya yang gimana?" Aku cukup terkejut dengan pembahasan Kelvan yang terkesan tiba-tiba ini.
"Memangnya kamu udah pacaran sama dia?"
"Ha?" Info ngawur dari mana coba?
"Kata bosnya Papa. Kemarin kalian ketemu kan pas kondangan? Papa kaget loh kalo bener kamu udah pacaran sama dia. Kok bisa-bisanya kita nggak tau?"
Aku melirik mama dari spion mobil. Dia pura-pura sedang memperhatikan kemacetan padahal aku yakin pasti mama yang menyuruh papa menanyakan tentang Kelvan padaku.
"Itu salah paham ya. Bosnya Papa yang langsung bilang begitu. Ngira Kelvan pacar aku. Aku nggak sempet klarifikasi dia udah buru-buru mau pergi."
"Memang Kelvan gimana, sih orangnya? Kayaknya dia anak baik-baik ya. Kapan ya papa bisa ketemu?" Papa memang terlalu cinta sama mama untuk menolak perjodohan ini.
"Nah iya papa belum pernah ketemu dia. Tau dari mana baik?"
"Dari ceritanya mamamu Kelvan sepertinya anak baik, sih."
"Mama kan kalo cerita suka melebih-lebihkan."
Mama yang disebut namanya menyahut, "Memang nyatanya baik kok."
"Minggu besok Papa mau ajak dia ngopi-ngopi deh," katanya dengan santai tapi membuatku nyaris mengerem mendadak di tengah jalan yang sedang ramai lancar ini.
"Ngapain?" pekikku tidak habis pikir. Rasanya belum lama aku sibuk menghindari pertanyaan soal masa lalu, sekarang Papa mau membawa orang lain masuk ke agenda keluarga.
"Ya biasalah laki-laki, Dre. Papa dengar dia arsitek kan? Boleh lah Papa ajak diskusi proyek-proyek kerjaan Papa. Papa kan juga mau tahu orangnya kayak apa," jelas papa yang langsung disambut anggukan antusias dari mama.
Lima belas menit kemudian, mobil terparkir di depan restoran yang kami tuju. Restoran itu tidak begitu ramai, mungkin karena bukan weekend. Aku bergegas turun, meninggalkan mama dan papa yang jalan sambil bergandengan tangan di belakang. Seorang pramusaji membukakan pintu, menanyakan untuk berapa orang dan mengarahkannya ke meja sesuai jumlah orang. Mama dan Papa segera duduk sedangkan aku perlu ke toilet.
Kakiku melangkah mengikuti arah petunjuk toilet. Seorang laki-laki baru saja keluar dari sana lalu duduk di deretan kursi tunggu untuk pemesanan take away. Dia mendongak. Langkahku yang tadinya mantap karena desakan buang air kecil sejak tadi mendadak jadi berbalik arah. Aku berjalan cepat, nyaris tersandung, berharap Kelvan terus melihat ke arah lain dan aku akan memboyong papa dan mama untuk pindah restoran saja.
"Kita pindah ke restoran lain aja, yuk!" ajakku dengan gelagapan sambil menutupi arah pandang mereka. Bahkan aku merasakan keringat dingin tipis muncul di pelipis.
"Kenapa sih kamu, Dre? Papamu nih udah lapar dari tadi." Mama terlihat jengkel. Wajar karena dia sudah mulai mencatat pesanannya.
"Kita udah duduk di sini, Dre. Ada-ada aja kamu nih ngajak pindah restoran pas udah di sini. Nggak enak lah. Nih kamu pilih mau apa." Papa menyerahkan buku menu yang langsung ku taruh kembali ke meja. Dia terkejut karena aku sedikit melemparnya.
Jariku mengetuk-ngetuk pinggiran meja dengan gelisah. Sepertinya memang mustahil untuk pindah restoran jadi aku berbalik dan menutupi wajahku dengan tas yang cukup besar untuk menyembunyikan wajahku. Aku akan berhasil kalau saja mama tidak berteriak kencang. Kurasa satu ruangan ini dapat mendengar teriakannya yang begitu heboh. Tubuhku mematung sampai aku merasakan tasku diturunkan oleh seseorang. Laki-laki itu berdiri di depanku dengan senyum menyebalkan, hanya sebentar, seperti memang dimaksudku untuk mengejek, kemudian berlalu menghampiri meja kami. Mataku mengikuti pergerakannya. Dia dengan percaya diri berkenalan dengan papa lalu mengambil duduk di depannya. Kelvan melirikku sebelum akhirnya meladeni papa yang pasti kini mulai melemparkan pertanyaan.
Lima menit kemudian setelah aku kembali dari toilet papa dan Kelvan sedang terlibat pembicaraan seru. Mereka kelihatan cepat akrab. Tinggal tunggu waktu kapan Kelvan akan diajak main catur oleh papa. Dari yang kutangkap mereka sedang membicarakan proyek-proyek di IKN. Aku menggeser sebuah kursi di samping Kelvan, menimbulkan suara berderit kecil namun mampu menghentikan obrolan mereka.
"Sering-sering Dre ajak Kelvan ke rumah kalo papa lagi libur." Kata Papa. Aku begitu kenal ekspresinya saat ini. Dia sangat menyukai Kelvan sama seperti mama. Semuanya menyukai Kelvan langsung pada pertemuan pertama.
Aku hanya berdeham sementara Kelvan, aku tau dia sedang menahan diri untuk tidak menertawaiku. Di dalam kepalaku, ada daftar alasan kenapa Kelvan dan orang tuaku tidak boleh akrab. Mama akan baper, papa akan ajak ngopi sambil main catur, dan aku harus jadi aktor dalam sandiwara kecil yang entah bagaimana dimulai oleh pria tak kenal malu ini.
"Rumah mamanya Kelvan dekat sini, Dre. Sepuluh menit lah dari sini." Mama menepuk-nepuk lenganku lalu beralih memandang Kelvan lagi. Seakan-akan aku perlu tahu itu.