AUDREY
"Mbak Audrey ini ada paket." Sapto, office boy baru di kantor melongok ke meja tempat di mana aku tenggelam bersama design-design brosur sebelum makan siang setengah jam lagi.
Sebuah goody bag berwarna merah muda disodorkannya padaku. Seingatku aku tidak pesan apa-apa namun dia bersikeras bahwa goody bag itu punyaku. Tanpa mendebat lagi, aku terima goody bag itu dan kudapati isinya sekotak coklat mahal dari toko cokelat kenamaan dengan kartu ucapan.

Aku memastikannya beberapa kali sebelum benar-benar mengakui bahwa tidak ada laki-laki lain yang ku kenal dengan huruf K selain Kelvan. Bersamaan dengan itu rasanya ada kepakan sayap kupu-kupu di dalam perutku sekarang.
Tentu saja kabar mengenai aku yang baru saja menerima coklat tersebar seantero departemen marketing. Satu ruangan menjadi heboh begitu Rania dan Ivan melihatku sedang melamun sambil menggenggam kotak coklat. Ivan merebut kartu ucapan dari tanganku, Rania membawa kotak coklat untuk diteliti lebih dekat, dan bahkan Mas Ezra ikut meledekku. Mereka menanyakan siapa si pengirim misterius.
"Siapa nih namanya dari K?" Kepala Ivan menoleh ke sana ke mari mencari jawaban namun semuanya justru berakhir saling tanya dan tebak-tebakkan.
"Jangan-jangan Karno tukang gorengan di belakang gedung?" sahut Rania sambil ngakak.
"Anjir kalo Karno bisa ngirimin cokelat mahal gini, berarti dia udah franchise gorengan se-Indonesia."
"Lah benar berarti. Coklat mahal ini, mbak." Timpal Rania.
Lalu komentar-komentar lainnya.
"Udah punya pacar lo mbak sekarang?"
"Romantis juga cowoklo."
"Anak mana nih?"
Aku hanya mendengus. "Terus abis ini kalian mau bikin list semua orang yang huruf depannya K?"
"Boleh juga tuh, kita bikin kuis: Tebak K Misterius!" Rania sudah heboh sendiri.
"Pernah ke kantor ini nggak sih? Kenalin dong!" Mas Ezra menjadi orang terakhir yang bertanya setelah dia selesai dengan urusannya di telepon.
Mereka tidak berhenti bicara sampai tiba jam makan siang. Sekotak coklat lezat tersebut juga sudah tandas menjadi santapan beramai-ramai. Rania kelihatan bingung melihatku yang pasrah saja coklatnya diembat oleh mereka.
Bukan sekali dua kali aku mendapat bingkisan coklat tapi ketika Kelvan yang mengirimkanya rasanya sungguh berbeda. Sejak pembicaraan di mobil Sabtu lalu, pertempuan nggak sengaja di mall di mana dia menyelamatkanku dari ajakan pulang Adjie, dan kejadian aku menendang kakinya semalam, Kelvan memang layak kuberi predikat sebagai perusak mood nomor satu buatku. Tapi sikapnya juga selalu sukses membuat kepalaku dihinggapi banyak pertanyaan mengenai perasaannya.
"Kok lo nggak cerita, sih?" Bella sedikit jengkel karena aku baru menceritakan semua kejadian yang aku alami kepadanya sekarang. Begitu juga Rudy, Dinar dan pacarnya.
Sudah hampir dua minggu kami tidak ketemu karena Rudy sibuk dengan persiapan pernikahan dan Dinar beberapa kali ada pekerjaan di luar kota. Saat ini kami janjian makan siang di tengah-tengah antara gedung kantorku dan mereka.
"Kalo gue cerita di grup pasti tuh hape udah mau meledak gara-gara chat lo semua." Aku teringat dengan sekitar empat ratus chat dari mereka saat pertama kali aku bertemu Kelvan.
"Si Adjie beneran sendirian di mall?" Dinar tidak percaya. Dia sampai bertanya beberapa kali untuk memastikan.
"Dia sih munculnya sendiri. Emang kenapa, sih?" Ujarku, sedikit sebal karena itu bukan urusanku.
Bella menatap Dinar dengan bingung. "Memang lo pikir dia seharusnya sama siapa?"
"Dia kan katanya udah nikah, kan? Harusnya ajak anak istrinya nggak, sih?" Tanya Dinar mulai curiga.
Bella nampak berpikir lalu kepalanya mengangguk-angguk setuju dengan Dinar. "Iya juga, ya. Ngapain dia sendirian di mall. Apalagi kata lo dia kelihatan nggak baik-baik aja, kan?"
"Dia ada masalah mungkin sama istrinya, ya."
Rudy berdecak. "Udah ah! Nggak usah peduli lagi sama dia. Bodo amat apapun yang terjadi sama dia. Mau dia sampai jungkir balik kek sekarang hidupnya, lo nggak boleh terpengaruh, Dre! Karma is real. Mungkin dia lagi menuai apa yang diperbuat ke lo dulu." Rudy mengatakannya dengan cukup emosi. Sumpitnya sampai digerak-gerakkan ke udara.
"Iya ya bikin nggak nafsu makan dah." Timpal Dinar dengan suara malas.
"Omongin yang penting aja." Usul Bella. "Jadi Kelvan gimana?"
Aku melototinya sedangkan, Dinar, Rudy, dan Akas tersenyum menyeringai.
"Lo yakin pertemuan lo dan Kelvan di mall dan semalam itu cuma kebetulan, Dre?"
"Maksud lo?"
"Apa lo nggak berpikir kalo itu pertanda bahwa Kelvan memang jodohlo?"
Aku menggeleng kuat-kuat. "Gampang banget nggak sih teori jodohnya begitu? Gue sama OB di kantor gue bahkan ketemu Senin sampai Jumat. Apa itu artinya dia juga jodoh gue?" Ucapanku nyaris membuat Rudy tersedak egg roll yang sedang dimakannya.
"Yeee dodol. Maksud si Bella bukan begitu." Dinar melempar tisu yang habis dipakai untuk mengelap bibirnya.
"Gue tahu lo pasti ngerti maksud gue." Kini wajah Bella nampak serius mengatakannya.
Aku meletakkan sumpit dan membuang napas kasar. Di antara ketiga sahabatku ini, Bella selalu punya teori tersendiri. Sialnya kadang teori itu benar. Seperti dulu saat Adjie dan aku ternyata satu member di tempat gym yang sama membuatku beberapa kali bertemu dengannya, dan benar tiga bulan setelahnya kami memang berpacaran.
"Lo mau jadi kayak si Kelvan, ya? Berharap ini jadi kayak sinetron 'Takdir Mempertemukan Kita' gitu?"
"Iya mau gue." Bella menjawab capat. "Tapi gue jadi sutradaranya. Entar gue bikin lo sama Kelvan beneran jodoh dah. Terus gue buat adegan-adegan berantem lucu tapi akhirnya lo berdua sama-sama mau."
Semua langsung ngakak.