I Bet You Love Me

ND
Chapter #7

Cara Kerja Jodoh

AUDREY

Kesialan pertamaku hari ini dimulai dengan datang terlambat ke kantor akibat demo yang berlangsung di sekitar bundaran HI membuat ojek online yang kutumpangi berputar-putar mencari jalan lain.

"Ow!" Lalu ini kesialan keduaku. Aku memekik memegang kepala yang terbentur ujung meja membuat Rania dan Ivan yang sedang serius berdiskusi menoleh ke arahku.

"Mbak lo nggak apa-apa? Nyari apa sih dari tadi?"

Aku tidak menjawab, hanya memberi isyarat tangan tanda aku baik-baik saja dan melanjutkan pencarianku ke segala penjuru meja kerja dan area sekitarnya. Dari tadi aku tidak menemukan buku catatanku padahal kurang dari sepuluh menit lagi kami akan meeting dengan beberapa pihak KOL dan tim produk. Sebenarnya tidak ada masalah berarti, namun buatku sudah menjadi seperti kebiasaan mencatat di buku ketimbang di media lain.

"Entar kalian yang kasih brief, ya!" Tukasku karena masih tidak menemukan keberadaan buku catatan itu lalu berlalu memimpin jalan menuju ruang meeting.

Barulah menjelang waktu pulang, teka-teki keberadaan buku itu terjawab lewat sebuah telpon dari nomor tidak dikenal.

"Halo." Aku menjawabnya pada panggilan kedua. Kupikir awalnya itu hanya telpon dari telesales yang biasa menawarkan produk bank.

"Audrey, ya? Ini Kelvan." Tanyanya dengan hati-hati karena sapaanku pasti terdengar agak ketus padanya.

Butuh waktu beberapa detik untuk otakku memproses, merespon telponnya sampai Kelvan di sana kembali memastikan bahwa ini benar nomorku.

"Ya?"

"Buku catatan kamu ketinggalan di mobilku."

Sial.

"Audrey?" Ulangnya lagi karena aku hanya diam.

"Oh." Bibirku mendadak kaku. "Oh iya aku tadi cari-cari nggak ada. Nggak kepikiran kalo ketinggalan di mobil kamu." Aku menyingkir menjauhi resepsionis karena sekarang Ivan, Rania dan Sapto tengah memperhatikan gerak-gerikku.

"Iya tadi pagi aku temuin di bawah jok mobilku. Sorry ya aku baru mau balikin sekarang. Tadi pagi nggak sempat karena buru-buru banyak kerjaan. Apa tadi kamu butuhin?"

"Iya tadi ada meeting tapi nggak apa-apa, sih." Anehnya, Rania dan Ivan manggut-manggut seakan mengerti apa yang sedang kami bicarakan. "Kalo aku minta tolong kirim pakai gojek aja bisa? Besok aja kalo nggak ngerepotin kamu."

"Kalo itu ngerepotin aku, sih. Nggak perlu pakai gojek. Sekarang aku udah di loby nungguin kamu, nih. Kamu jam segini udah selesai? Aku tunggu sekarang, ya." Sambungan telpon itu diputus begitu saja membuatku mengernyit menatap ponselku yang kini sudah kembali menampilkan wallpaper.

Aku tidak tahu sejak kapan Kelvan begitu mempengaruhiku karena kini aku menjadi lumayan gugup. Selama di lift beberapa kali otakku tanpa kusuruh, memutar sendiri kejadian-kejadian yang kulewati bersama Kelvan beberapa jam yang lalu. Kelvan mengirimkanku coklat, dia benar-benar menjemputku, kami makan bersama di warung pinggir jalan, dan mengobrol. Perubahan yang cukup drastis mengingat beberapa hari sebelumnya dia selalu membuat emosiku meledak-ledak. Entah karena aku yang terlalu lelah bekerja sehingga malas untuk meladeninya atau memang suasana hatiku yang berubah.

Gue rasa perjodohan ini layak dikasih kesempatan, sih. Begitu kata Dinar kemarin siang. Apa alam bawah sadarku sudah menggerakan diriku yang semalam? Aku bahkan menceritakan padanya apa yang aku suka dan kebiasaanku saat makan. Kamu hanya bisa menceritakan hal-hal seperti itu ke orang yang membuat kamu nyaman, kan? Teman atau gebetan dan Kelvan sudah pasti bukan keduanya.

Aku menemukan Kelvan sedang duduk sambil mengerjakan sesuatu di iPadnya. Pergerakannya nampak nyaman. Dia masih mengenakan kemeja dengan bagian lengan yang sudah digulung dan dasi yang sudah longgar. Dia beberapa kali juga menyugar rambutnya, gerakannya berhasil menyita perhatian beberapa perempuan yang lewat di depannya. Entah dia sadar atau tidak bahwa dirinya menjadi pusat perhatian para perempuan yang lewat. Saat dia mengangkat kepalanya, saat itu pula dia melihatku lalu tersenyum sangat lebar. Dia memasukkan iPadnya, berdiri, memasukkan salah satu tangannya ke saku celana.

"Kamu sampai datang ke sini cuma buat antar buku catatanku? Itu justru malah repot nggak sih?" tanyaku sambil melihat ke sekeliling memastikan nggak ada teman-teman kantorku yang melihat kami.

"Ya namanya juga usaha." Kelvan terkekeh.

"Kamu tuh sering banget muncul tiba-tiba kayak gini ya? Bikin orang jadi nggak siap."

"Loh siap apa memangnya? Aku kan belum mau ngelamar."

Aku melotot. Sepertinya wajahku berubah merah karena Kelvan menunjuk-nunjuk pipinya sambil cengengesan.

Dia kembali mengecek tasnya lalu mengambil gelas kopi yang kosong di meja. "Aku tadi ada meeting sekitar sini. Di kedai kopi samping situ. Jadi sekalian aja." Jelasnya santai. Dia berjalan ke tong sampah membuang kopinya yang sudah habis. "Ada di mobilku. Yuk! Sekalian pulang bareng ya." Kelvan melenggang pergi begitu saja meninggalkanku yang saat ini sedang termenung karena perintahnya.

Kupikir aku baru saja menemukan julukan baru untuknya. Tukang Perintah. Dia bahkan nggak menawarkan atau menanyakan apakah aku ingin ikut pulang bareng dengannya.

Kesialan ketigaku adalah aku bertemu Bella dan suaminya di depan rumah Rudy yang berujung Kelvan tidak jadi langsung pulang. Bella mendorong Kelvan sampai berhasil masuk ke dalam rumah Rudy. Kelvan terlihat santai saja namun aku justru yang sedikit was-was mengingat teman-temanku sangat menantikan bertemu dengannya.

"Jadi ini ada acara apa? Gue malah tiba-tiba gabung dan ikut makan lagi." Kelvan terkekeh saat kami semua sedang duduk melingkar sambil melahap sate ayam yang tadi Bella bawa.

"Nggak ada apa-apa. Memang mereka demen ngerecokin hidup gue aja." Celetuk Rudy yang langsung disenggol tangannya oleh Bella sehingga sate ayam yang sudah dipegangnya kini jatuh lagi ke piring.

Selama makan semua aman terkendali, Bella dan Dinar nampak masih bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya yang macam-macam. Hanya beberapa kali bertanya tentang pertanyaan yang sifatnya basic saja. Sahabat-sahabatku belum membuat Kelvan merasa kesulitan.

Sekarang para laki-laki sedang asyik ngobrol di depan televisi sambil ngemil kacang kulit. Rudy, Bimo suaminya Bella, dan Akas pacarnya Dinar. Sedangkan kami para perempuan, minus pacarnya Rudy yang sedang ada di luar kota, duduk mengelilingi meja makan yang penuh dengan suguhan camilan.

"Keren juga calon menantu pilihan nyokap lo, Dre." Celetuk Dinar

"Gue sih heran lo nggak mau pedekate sama dia." Bella bertopang dagu melihat keempat laki-laki itu. Lebih tepatnya melihat Kelvan. "Dia tuh paket komplit banget nggak sih?"

"Bisa-bisanya cowok kayak dia susah dapat cewek dan harus terima dijodohin." Dinar menimpali.

"Kalo gue jadi lo mungkin gue udah klepek-klepek kali, Dre. Nggak pakai ba bi bu gue kayaknya langsung mau deh dijodohin sama dia," kata Bella lalu mendapat lemparan tisu kotor dari Dinar.

"Yeeee, inget noh lakilo lagi di sana!"

Bella terkikik. Dia menyodorkan bungkusan hitam kepada Dinar yang ternyata isinya mangga muda. Dia juga menyerahkan sebilah pisau, menyuruh Dinar untuk mengupasnya.

"Kalian chattingan juga? Kayak gimana tuh?"

Aku tertegun Baru sadar selama ini aku dan Kelvan belum pernah sekalipun saling berbalas pesan. "Chatting apaan? Gue sama dia belum pernah chattingan." Dari pada mengirimkan chat, Kelvan lebih memilih untuk muncul sendiri di hadapanku kapanpun dia mau.

Lihat selengkapnya