I Bet You Love Me

ND
Chapter #8

Pertama Kali

KELVAN

Gue baru saja keluar dari ruang meeting dengan perasaan yang sulit gue jelaskan. Nggak tahu, nggak jelas kenapa rasanya ada yang ganjal aja setelah pulang dari rumah temannya Audrey semalam. Ditambah sekarang gue dapat tugas keluar kota secara mendadak gini. Proyek di Bandung harusnya ditangani oleh tim lain, namun ada kendala nggak terduga yang terjadi di sini, sehingga tim tersebut harus dipecah, gue dan Gilang rekan setim gue, ditugaskan untuk menggantikan dua orang dari tim tersebut. Kami akan melakukan survey site.

Gilang sedang mengecek kembali alat-alat yang akan kami bawa. Dia mengabsen satu persatu mulai dari meteran, alat tulis sampai kamera. Semuanya sudah disiapkan oleh tim sebelumnya jadi kami tinggal memastikan kembali sebelum berangkat siang ini juga.

"Senang deh kita bisa satu tim lagi." Suara itu datang dari arah samping di mana cewek bernama Clara sedang duduk sambil memutar-mutar kursinya.

Ini juga yang membuat perasaan gue jadi nggak jelas sekarang. Rasanya kayak salah aja gue pergi bareng dia meskipun ini terkait pekerjaan. Clara, cewek blasteran Indo Jerman itu sempat dekat dengan gue sebelum gue kenal Audrey. Kami lebih dari dekat sebenarnya tapi nggak pacaran. Gimana ya jelasinnya? Teman rasa lebih? Teman tapi mesra? Ya kita bersenang-bersenang tanpa status yang jelas karena Clara masih berstatus tunangan orang lain. Dia datang sendiri ke gue dan gue sebagai laki-laki normal yang nggak terikat dengan siapapun tentu terima-terima saja. Gue nggak salah, kan? Mau bilang gue brengsek? Gue sudah bilang di awal kalau gue memang brengsek.

"Sudah setahun yang lalu kayaknya kita bareng di proyek yang sama." Tambahnya lagi kali ini dengan memainkan rambutnya yang dia bentuk curly. Dia ngomong santai, tapi gue bisa ngerasain tatapannya lebih dari sekadar basa-basi.

"Wah iya, ya?" Gue memandangnya sejenak lalu mencoba terlihat sibuk di depan komputer. Gilang mengerling ke arah gue dengan senyum meledek. Gue pengen lempar stapler ke dia tapi dia keburu balik fokus ke tas besar yang dia isi.

"Udah nih. Kalo nggak ada apa-apa lagi gue balik sekarang ya. Mau siap-siap." Gilang langsung ngacir padahal gue belum merespon apa-apa.

Kami sama-sama berangkat menuju Bandung menggunakan mobil yang kantor sediakan. Seperti di sengaja, Gilang dan Bang Rahmat menempatkan gue duduk di belakang bersama Clara.

"Udah lah. Gue yang tahu lokasinya sama Bang Rahmat." Kata Gilang tadi dan Bang Rahmat yang tersenyum penuh maksud.

Hubungan gue dengan Clara hampir nggak diketahui siapapun kecuali Gilang dan Bang Rahmat. Bram dan Rafi juga tahu. Orang-orang kantor tahu Clara sudah bertunangan tapi nggak tau kalau dia ada main di belakang dengan gue. Kami selalu bersikap biasa layaknya sebatas rekan kerja dan baru dekat di luar jam kantor.

Clara masih terus mengajak gue ngobrol sepanjang jalan. Nyatanya, Gilang yang tadi bilang tahu lokasinya justru sekarang sudah kedengaran suara dengkurannya, sedangkan Bang Rahmat dia nyetir sambil terus bernyanyi sepanjang jalan dari kantor sampai kini di jalan tol.

"Kayaknya kamu akhir-akhir ini sibuk banget, ya?" tanyanya sambil melepas blazer yang dia kenakan, menyisakan blouse tipis yang dibuka kancingnya sampai dada. Padahal suhu di dalam mobil ini cukup dingin ditambah hujan mulai turun semenjak kami memasuki tol tadi.

"Iya proyek yang di Bali kemaren tuh masih ada beberapa perubahan." Gue teringat ponsel yang sejak tadi nggak bersuara dan berharap pada siapapun untuk menghubungi gue saat ini juga. Nggak apa-apa deh sales yang hubungin juga.

"Udah lama lho kita nggak jalan." Clara mengerucutkan bibirnya. "Kamu beneran sibuk atau sibuk dibuat-buat sih? Pesan-pesan aku juga jarang kamu balas."

"Beneran sibuk lah, Clara. Tanya tuh Gilang."

Gue mengeluarkan ponsel dari saku jeans, mengotak atik benda itu dan memutuskan untuk membuka sebuah aplikasi pesan berwarna hijau. Jari gue menskrol daftar kontak di sana dan berhenti di sebuah kontak dengan photo profile seorang perempuan yang semalam gue antar pulang. Gue mengetik sebuah pesan untuknya dan menyadari belum sehari saja gue nggak bisa menjauhkan Audrey dari pikiran ini.

Gue paham jika Audrey mungkin baru akan membacanya beberapa jam kemudian. Dia memang lagi sibuk-sibuknya. Semalam dia cerita kemungkinan beberapa hari ke depan dia akan sering lembur, tapi ternyata Tuhan seperti mendengar permohonan gue. Mata gue melebar melihat nama Audrey sedang mengetik pesan balasan.



Seulas senyuman muncul di wajah gue, membayangkan Audrey di sana dengan ekspresi jengkelnya meladeni chat nggak penting dari gue. Padahal dia balas pendek-pendek dan terkesan ketus tapi entah kenapa bisa membuat perut gue rasanya seperti dihinggapi banyak kupu-kupu. Dan ini pertama kalinya kami saling berbalas pesan. Lucu juga kalau ingat selama ini gue nggak pernah mengirimkan pesan ke dia padahal kami sudah beberapa kali bertemu.

Sepuluh menit berlalu tapi pesan terakhir masih belum dibaca. Mungkin dia kembali sibuk dengan pekerjaannya, nggak ada waktu bahkan untuk sekedar membaca pesan receh begini. Dari ekor mata gue, Clara mencoba ingin tahu apa yang menarik perhatian gue di ponsel. Dia sekarang semakin merapatkan posisi duduknya, beruntung saat itu Bang Rahmat menginterupsi.

Sisa perjalanan itu gue sengaja habiskan dengan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang bisa gue kerjakan di mobil. Seenggaknya ini bisa menyelamatkan gue dari Clara. Dia nampak bosan sedangkan Gilang masih berada di alam mimpi sampai kami tiba di lokasi proyek.

***

Saat kami tiba di lokasi hujan sudah berhenti namun tanah menjadi sangat basah. Clara semakin jengkel karena heelsnya beberapa kali menancap di tanah. Dia juga beberapa kali menggelayutkan tangannya di lengan gue karena takut terjatuh.

Ketika hampir jam lima sore, kami mempercepat kerja kami, gue memisahkan diri dari Clara, mendapati beberapa bagian lahan nggak rata dan mencatatnya. Kami menuju hotel menjelang jam enam, beberes, mandi dan kami bertiga ambruk di kasur hotel karena terlalu malas hanya untuk sekedar keluar. Sekitar jam sembilan setelah makan malam, gue kembali sendirian ke kamar hotel setelah merokok bareng Gilang dan Bang Rahmat. Mereka masih mau cari angin katanya, sedangkan gue udah merasa lelah dan memutuskan stay di kamar saja.

Lihat selengkapnya