KELVAN
Dalam sebulan, paling enggak ada minimal dua kali gue pulang ke rumah orang tua. Kadang sekedar mampir aja pas mama masak makanan favorit gue atau kadang juga menginap pas lagi kebetulan weekend. Kayak sekarang ini. Setelah kerjaan selesai gue langsung minta pulang pagi-pagi, mampir membeli oleh-oleh seperlunya dan minta diantar ke rumah. Ini gue lakukan juga demi menghindari Clara. Kalau gue pulang ke apartemen, kemungkinan besar dia bakalan minta ikut dan melancarkan kembali aksinya yang sempat gagal.
Sambil menenteng bungkusan berisi oleh-oleh dan menyampirkan drafting tube ke bahu, gue melongok ke samping rumah dan menemukan Namira sedang tertawa-tawa melihat sesuatu di ponselnya. Dia duduk di sebuah kursi panjang yang mengarah ke kebun belakang, sesekali mengelus perutnya yang masih belum kelihatan buncit itu.
"Hai sis!" Gue merentangkan tangan yang langsung disambut dengan teriakan kencangnya. Sumpah Namira tuh cempreng banget suaranya.
"Mas Kelvaaaaannn." Dia meneriakan nama gue begitu panjang.
Kami berpelukan sebentar lalu dia segera merebut bungkusan oleh-oleh, tersenyum sumringah karena gue membawa bolen Kartika Sari favoritnya.
"Kamu nginep apa gimana?" Namira mengenakan daster berwarna ungu dengan rambut diikat dan wajah tanpa make up.
"Iya aku udah tiga hari nginep. Aku lumayan mual muntah. Kan kalo di sini jadi ada mama yang urusin." Dia nyengir sambi berjalan masuk lewat pintu belakang, menaruh bungkusan di meja, lalu bergerak ke arah wastafel untuk mencuci tangan.
"Sama Anton?"
"Anton ke Banjarmasin. Makanya pas banget aku mending nginep di sini. Kalau aku ada perlu apa-apa bisa langsung dibantu mama."
Selagi Namira membuka satu persatu bungkusan makanan, gue meninggalkannya untuk bertemu mama. Gue menemukannya sedang menonton acara gossip televisi sedangkan di sebelahnya ada papa yang sedang membaca buku arsitektur. Yap! Gue dan papa menggeluti bidang yang sama.
Seperti biasa hanya mama dan Namira yang menyambut senang setiap kali gue pulang ke rumah. Gue nggak tau perasaan papa kayak apa karena dia selalu menampilkan ekspresi datar saja dan ini sudah berlangsung lama semenjak gue pindah ke Jakarta. Gue nggak begitu ambil pusing. Buat gue yang penting dia sehat-sehat saja udah buat gue bersyukur.
"Kamu nggak ngabarin kalo mau ke rumah. Tau gitu tadi mama masakin ayam rica-rica kemangi," katanya, menyebutkan salah satu makanan favorit gue dan Namira. Setiap gue dan Namira mengabari kalau mau nginep pasti mama berusaha masak makanan kesukaan kami.
"Dadakan tadi tuh langsung dari Bandung." Ujar gue santai lalu mengambil remote tv untuk mengganti acara lain.
"Nginep ya! Entar malam deh mama masakin."
"Mas Kelvan nggak bakal makan malam di rumah deh kayaknya, Ma." Namira tiba-tiba saja muncul dengan dua tangan yang penuh. Satu tangannya memegang bungkus kue dan keripik basreng, satunya lagi memegang ponsel. Gue reflek memegang saku celana dan baru menyadari tadi gue meninggalkan ponsel begitu saja di meja dapur.
"Dia mau jalan sama Mbak Audrey. Iya, kan, Mas?" kata Namira lagi dengan wajah sok polosnya. Gue langsung merebut ponsel gue. Ada satu balasan pesan dari Audrey dan beberapa pesan lainnya.
"Nggak sopan baca-baca pesan orang lain."
"Lah pas banget itu di samping aku. Terus bunyi mulu. Pesannya minta banget dibaca sama aku kayaknya."
Selain pesan dari Audrey, ada juga lima pesan dan satu missed called dari Clara. Entah Clara kirim pesan apa karena gue putuskan untuk nggak membuka pesannya dan segera membalas pesan Audrey. Gue menutup aplikasi pesan segera setelah pesan tersebut terkirim. Tangan gue nggak berhenti di sana, kini membuka aplikasi lainnya sambil terlihat serius demi menghindari tatapan mama yang gue tau sekarang sedang tertuju ke gue.
"Wey!" Namira menyenggol kaki gue lalu melempar bantal sofa, membuat ponsel terjatuh menelungkup. Memang kadang adik gue ini bisa kurang ajar.
"Cuma mau jemput doang, Ma." Jelas gue pendek saja.
"Udah sering kamu jalan sama Audrey?" Suara mama selalu terdengar antusias saat membahas Audrey.
"Enggak. Cuma jemput doang."
Mama mengangguk. "Ajak makan deh ke rumah, biar papa dan Namira bisa kenal juga sama Audrey. Semakin semua kenal kan semakin baik dan cepat juga."
"Cepat apanya? Ma, Audrey tuh nggak bisa terlalu dikejar kayak gitu, nggak bisa buru-buru. Yang ada dia malah kabur." Gue berdecak. "Udah deh. Kelvan aja yang urus, ya. Lagian aku cuma mau jemput, Ma. Astaga. Jangan berharap ketinggian!" Perkara mau jemput perempuan doang sampai kayak mau ngelamar.
"Bulan depan aja pas ulang tahun pernikahan mama sama papa. Kita kan udah lama nggak bikin acara. Makan malam bareng aja ajak Mbak Audrey. Gimana, Pa?" Namira tersenyum lebar, merasa bangga dengan ide briliannya itu. Belum sempat gue menjewernya dia sudah kabur pindah duduk di samping mama sambil menjulurkan lidahnya beberapa kali.
"Boleh banget itu. Iya kan, Pa?" Mama begitu sumringah, Tangannya menepuk pelan pundak papa.
Papa mengalihkan tatap dari buku yang dibacanya, hanya sebentar untuk mengeluarkan komentar, "Iya boleh." Lalu kembali menekuni buku bacaannya.
Gue pamit ke kemar ketika Namira mulai ngalor ngidul membahas lebih lanjut ide briliannya itu. Audrey keluar kantor jam tiga, berarti gue berangkat sekitar jam dua siang. Masih satu jam lagi yang bisa gue pakai untuk istirahat. Gue membuka pintu kamar dan mendapati kamar bernuansa putih abu-abu itu rapih seperti biasanya setiap kali gue pulang.
Kata mama kamar gue selalu dibersihkan setiap hari meskipun gue jarang banget pulang. Baju-baju gue pun masih ada beberapa di sini jadi nggak khawatir nggak ada baju. Gue mengganti celana jeans dengan celana pendek, kemeja dengan kaos tanpa lengan lalu merebahkan diri di atas kasur. Rasanya selalu lebih nyaman tidur di sini ketimbang kasur di apartemen. Mungkin karena interiornya yang berbeda dengan kamar gue di rumah.

***
Gue merasa tubuh gue diguncang dengan begitu hebat, lalu teriakan yang memekakkan telinga terdengar, memanggil-manggil nama gue sambil bertepuk tangan dan bernyanyi nggak karuan. Sumpah suaranya parah banget. Siapa lagi kalau bukan Namira. Nggak ada orang lain yang bangunin gue dengan cara seperti itu selain adik gue ini.
"Ya ampun kebo banget, sih, Mas! Katanya mau jemput cewek. Ayo bangun! Udah jam dua siang nih."
Gue terperanjat di atas kasur, menyibak dengan kasar selimut yang menutup seluruh tubuh gue dan melihat ke jam dinding. Detik itu juga rasanya gue pengen jitak kepala Namira. Dia terkikik seraya meninggalkan kamar.
Jam dua belas lewat gue turun ke garasi, menyiapkan motor untuk nanti gue pakai. Gue mengeluarkannya lalu memindahkannya ke carport bersebelahan dengan mobil papa. Gue lap motor yang nggak gue pakai beberapa hari itu lalu memanaskan mesinnya.
Motor Ducati gue model Scrambler tahun 2018. Gue membelinya saat kembali ke Jakarta. Motor ini sudah menjadi bagian dalam diri gue selama dua tahunan ini. Motor yang gue beli second dari salah seorang kenalan. Awalnya sih impulsif aja beli itu motor tapi justru lebih sering pake itu ke mana-mana ketimbang mobil. Namira bahkan lebih senang karena dia bisa sering pakai mobil gue buat berangkat kerja sendiri. Sialnya ini motor yang jadi barang taruhan gue dan Bram.
Setelah makan, mandi, dan mendengar nasehat mama agar pelan-pelan bawa motor, gue jalan dari rumah jam dua lewat. Di weekend seperti ini cuma butuh waktu tiga puluh menit dari rumah gue ke kantor Audrey.
Gue melihat Audrey sudah menunggu di halte tempat kami janjian ketemu. Tangannya menghalau terik matahari yang menerpa wajahnya. Ada sesuatu di dada gue yang berdesir aneh. Kayak... ya, kayak pulang ketemu seseorang yang udah ditunggu-tunggu.
Penampilannya agak berbeda. Mungkin karena ini weekend jadi dia berpakaian lebih bebas dan santai, memakai cargo jeans, sneaker dan jaket denim. Simple, tapi entah kenapa di mata gue justru keliatan makin menarik. Dalam hati gue bersyukur karena nggak salah memilih naik motor ketimbang mobil. Seenggaknya, style kita nyambung.
Gue berhenti tepat di hadapannya seraya membuka kaca helm tapi dia menyingkir ke samping. Gue mundur lagi ke hadapannya dan dia berdecak, mengalihkan tubuhnya ke arah lain. Rupanya Audrey nggak bisa mengenali gue, jadi gue buka helm itu lalu melambaikan tangan. Wajahnya berubah seketika—mata mengerjap beberapa kali, bibirnya terangkat sedikit, kayak antara kaget sama malu. Gue hampir ngakak liat tingkahnya, tapi gue tahan.
"Maaf nggak ngenalin kamu," katanya sambil membenarkan tas di bahunya. Suaranya terdengar agak kikuk, dan entah kenapa gue suka sisi kayak gitu darinya.
"It's okay. Kaget, ya? Nggak apa-apa, kan, kita pakai motor? Beberapa hari nggak kepake nih jadi sekalian panasin." Gue berusaha santai, padahal jantung gue nggak santai sama sekali. Udah kayak anak SMA yang jemput ceweknya kencan pertama kali.
"Iya nggak apa-apa. Pas banget aku pakai jeans sama sneaker." Audrey melirik sneakernya.
Tangannya hendak meminta helm yang gue pegang tapi gue berinisiatif untuk langsung memakaikannya. Ada momen kecil di mana jarak kami dekat banget, sampe gue bisa ngerasain aroma parfumnya yang lembut. Gue memasangkan tali helmet dengan hati-hati, lalu tergoda buat merapihkan poninya yang jadi sedikit berantakan. Dia berjengit ketika jari gue menyentuh dahinya.
"Eh—" Audrey reflek mundur sedikit, pipinya merona samar.
"Sorry," gue buru-buru menarik tangan, meskipun dalam hati gue agak nyesel kenapa harus buru-buru begitu.
Dia hanya mengangguk kecil, matanya nggak berani lihat lama ke arah gue.
"Naik aja, kan?" tanyanya, seolah butuh konfirmasi hanya untuk menyamarkan gugupnya.
"Ya iyalah. Masa nungguin bus kota lewat dulu?" Gue nyengir sambil meliriknya. Audrey hanya mendelik. "Pegangan yang bener ya, jangan sampe jatuh."
Dia mendengus kecil tapi akhirnya duduk di jok belakang tanpa pegangan sedikitpun.
Selama beberapa menit, gue nggak merasa lagi bonceng cewek. Audrey duduknya jauh banget kayaknya. Gue bisa ngerasain dari belakang kalau dia benar-benar hati-hati. Kayak kalo nempel ke gue sedikit aja dia bakal ketularan virus dan sakit selama dua minggu.
Di lampu merah, gue sempet nengok dikit ke samping. Audrey lagi nunduk, mungkin biar nggak silau kena matahari langsung. Begitu lampu berubah hijau gue gas motor. Rasanya udah kayak pembalap-pembalap MotoGP yang lagi start dari garis awal. Ada jeda beberapa detik sebelum tangannya perlahan meraih jaket gue. Awalnya cuma nyentuh ujung kain doang, kayak ragu, tapi lalu tiap motor ngebut dikit di tikungan dia benar-benar meremas jaket gue.
"Eh, pelan-pelan dong!" teriaknya, suaranya hampir kalah sama deru angin.
"Ini udah pelan, kali! Kalau kenceng beneran kamu udah terbang." Gue nahan ketawa, sengaja ngegoda.
Beberapa kali saat ngerem mendadak karena kendaraan depan melambat, tubuh Audrey otomatis nempel ke punggung gue. Rasanya gue kayak ditampar rasa bersalah sendiri karena mendadak jadi pengen ngerem terus. Gue cuma bisa senyum sendiri di balik helm. Senyum itu bertahan sampai kami tiba di mall. Biasanya gue naik sendirian, cuek, nggak peduli sekitar. Kalau sekarang rasanya aneh—kayak motor ini jadi saksi sesuatu yang beda dari biasanya.
***
AUDREY
Kata Ivan aku seperti cacing kepanasan hari ini. Kata Rania aku seperti ABG yang baru kenal cowok. Sebenarnya aku merasa sikapku biasa saja kecuali memang aku meretouch kembali make upku sehabis makan siang tadi, menambahkan blush on pada pipiku dan memulas kembali lipstik karena sudah mulai pudar. Dan yang paling tidak biasa, aku mencatok rambutku dengan catokan punya Rania yang selalu dia simpan di laci mejanya. Rania berulang kali menawariku membuatku tidak tahan juga untuk memakainya.
Satu hal yang aku sesali adalah pemilihan outfitku hari ini. Aku memang biasa memilih outfit yang santai ketika lembur di weekend. Seringnya pakai kaos, celana jeans, sneaker, terkadang juga sandal, tapi untuk hari ini rasanya tidak tepat ketika aku diajak nonton oleh seorang laki-laki. Demi Tuhan, Audrey. Ini bukan kencan, kenapa aku harus ambil pusing begini, sih!