I Bet You Love Me

ND
Chapter #10

Can't Take My Eyes Off You

KELVAN

"Pilih satu saja!" Gue berusaha merebut salah satu mainan dari seorang bocah kecil berumur empat tahun.

"Tapi kata Papi Om Kelvan bakalan beliin apa aja yang aku mau," katanya dengan raut wajah agak kecewa ketika mainan building blocksnya gue kembalikan ke rak.

"Zavier, Om memang bakal beliin apa aja yang kamu mau, tapi kalau mainan cuma boleh satu. Nggak boleh dua. Papi kamu udah pesan ke Om cuma boleh beli satu." Gue berbohong. Rafi nggak ada pesan apa-apa. Masalahnya ini Zavier beli mainan di Kidz Station, bukan di tukang mainan pasar malam yang harganya cuma belasan ribu.

"Aku mau dua-duanya!" Zavier agak berteriak.

"Pilih salah satu atau enggak sama sekali!"

Bocah itu nampak menimbang-nimbang mainan mana yang mau dipilih. Antara mobil remote control atau building blocks. Dengan bibir dikerecutkan dia mengambil kembali mainan building blocks yang ada di rak dan menyerahkan ke gue mobil remote controlnya.

"Good boy!" kata gue sambil membelai rambutnya. Zavier segera berlari menuju kasir. Siap membobol ATM gue.

Hari Minggu gue janjian bertemu Rafi, Siska, dan anaknya di Mall. Gue memenuhi janji kepada Zavier untuk membelikan apa saja yang di mau sebagai balas budi kepada bapaknya yang telah memberikan informasi maha penting beberapa waktu lalu. Rafi dan istrinya izin belanja ke Supermarket sedangkan Zavier langsung menuntun gue menuju Kidz Station. Bocah itu sudah nggak sabar memilih mainan.

Selesai membelikannya mainan, Zavier menarik tangan gue ke sebuah kedai ice cream. Dia melompat-lompat minta digendong agar bisa melihat macam-macam menu.

"Memangnya kamu boleh makan ice cream sama Mami?"

"Boleh kok. Tanya aja ke Mami kalo Om nggak percaya."

"Om telepon Mami kamu dulu."

Gue menelepon Siska untuk memastikannya karena Zavier ini lumayan diatur makannya sejak bayi. Nggak boleh terlalu sering makan atau minum yang manis dan nggak boleh kebanyakan UPF. Terlebih lagi dia pernah keracunan sampai dilarikan ke IGD. Setelah dapat izin, gue membelikan Zavier ice cream tersebut. Sekarang bocah itu sedang asyik menyendok campuran ice cream vanilla cookies dan cokelat ke mulutnya. Total sudah hampir lima ratus ribu uang yang gue keluarkan hanya untuk bocah berumur empat tahun ini.

Selagi Zavier makan sendiri dengan anteng, gue mengalihkan fokus ke ponsel yang dari tadi bergetar di kantong celana. Senyum gue terbit ketika nama Audrey muncul di deretan pesan paling atas. Sehabis urusan hutang budi ini selesai gue akan menjemput Audrey. Dia ada rencana ke pameran buku gitu dan kemarin gue menawarkan untuk mengantarnya siang ini.

Selama setengah jam gue menemani Zavier, mendengarkan celoteh riang bocah itu mengenai sekolahnya, liburan bersama orang tuanya, cerita menginap di rumah nenek dan lain sebagainya. Zavier mempunyai kemampuan bicara di atas rata-rata anak seumurnya.

"Om Kelvan kenapa baru jajanin aku sekarang?" Zavier mengelap bibirnya dengan tisu yang gue berikan. Bocah empat tahun itu sudah cukup mandiri melakukannya sendiri.

Gue tergelak mendengar pertanyaannya. "Om sering sibuk. Lagi pula kamu nggak boleh sering-sering minta dijajanin sama orang lain."

"Sibuk karena pekerjaan?"

"Iya karena pekerjaan."

"Om Bram kemaren baru beliin aku mainan juga. Bukan aku yang minta."

"Oh kamu ketemu Om Bram juga."

"Iya. Soalnya bibi kan masih pulang kampung terus aku ketemu Om Bram. Mami sama Papi pergi sebentar."

Waktu umur tiga tahun Zavier pernah dititipin ke gue dan Bram. Di apartemen gue. Cuma dititipin satu jam tapi setelahnya kami dapat ceramah panjang lebar dari Siska karena kami memberinya makan dua kotak coklat dan satu lollipop.

"Itu Mami Papi." Zavier berseru sambil menunjuk ke arah depan kami.

Rafi dan Siska menghampiri kami dengan langkah terburu-buru. Mereka juga nggak membawa belanjaannya. Gue menyadari ada yang nggak beres di sini karena raut wajah Siska nampak khawatir. Siska langsung menggamit Zavier sedangkan Rafi berupaya mengatur napasnya dulu sebelum bicara.

"Mertua gue. Serangan jantung. IGD," katanya terputus-putus. "Gue titip Zavier, ya. Nggak mungkin kita bawa dia juga."

"Waduh tapi gue ada janji mau pergi sama Audrey. Mau nganter dia. Gimana, ya?" Gue ikutan panik sekaligus serba salah.

"Mau ke mana, sih? Ajak aja si Zavier ikut bisa, kan? Kegiatan mengasuh anak pasti seru buat kalian." Sempat-sempatnya si Rafi bilang begini.

"Van, tolongin kita ya. Kalau keadaan di rumah sakit udah kondusif pasti langsung kita jemput kok. Sekarang kita buru-buru banget nggak mungkin antar dia dulu ke rumah nyokapnya Rafi. Please tolongin, ya!" Siska sudah berurai air mata yang membuat gue nggak tega untuk menolaknya.

"Aku mau main sama Om Kelvan!" Zavier berseru sambil melompat-lompat. Nampaknya masih belum mengerti keadaan yang sesungguhnya di mana neneknya sedang terbaring lemah di rumah sakit.

Jadilah satu jam kemudian gue sedang menunggu Audrey keluar dari rumahnya dengan Zavier yang duduk anteng di belakang, sibuk dengan mainan yang dibawanya dari rumah.

"Ingat ya. Jangan buat Om atau Tante Audrey repot. Yang anteng. Oke? Dan jangan minta coklat ataupun permen." Gue memperingatkannya sekali lagi. Zavier nggak menjawab, hanya memberi jempol tanpa melihat gue.

"Hai." Suara Audrey nampak riang ketika membuka pintu mobil.

"Hai juga!" Zavier sudah mendahului gue menyapa Audrey.

Audrey terkejut dengan kehadiran makhluk kecil di kursi belakang. Matanya mengerjap beberapa kali, bergantian melihat ke gue dan Zavier sebelum akhirnya dapat menguasai diri.

"Hai. Aku Audrey. Nama kamu siapa?" Audrey mengulurkan tangannya yang langsung disambut antusias oleh Zavier.

"Hai Tante Audrey. Aku Zavier."

"Hai Zavier. Senang berkenalan dengan kamu."

"Apa Tante pacarnya Om Kelvan?" Kami tergelak. Pasti Rafi yang bilang. "Kata Papi aku bakal dikenalin ke pacarnya Om Kelvan."

"Oh bukan. Tante temannya Om Kelvan." Audrey menyangkalnya dengan cepat yang anehnya membuat gue mencengkram setir dengan kuat.

Selama perjalanan Zavier menepati janjinya untuk bersikap manis. Dia membiarkan gue dan Audrey mengobrol, hanya saja minta diputarkan lagu anak-anak kemudian dia bernyanyi, nyaris hapal semua lagu yang diputar. Mobil gue sudah selayaknya seperti odong-odong di pasar malam.

"Dre, aku benar-benar minta maaf, ya. Kamu beneran nggak apa-apa kita bawa dia ke sana?" Gue meminta maaf lagi untuk yang kedua kalinya diiringi lagu pelangi-pelangi yang sudah diputar ketiga kalinya.

"Iya nggak apa-apa kok. Ini, kan dadakan banget. Semoga sih dia betah kita bawa ke sana," jawabnya nggak yakin lalu menoleh ke jok belakang. "Atau kita nggak jadi aja, deh."

Gue ikut menoleh ke belakang dan menemukan Zavier sudah terkulai sambil memejamkan matanya dengan tangannya yang masih memeluk mainan robot. Padahal lima menit sebelumnya dia masih ikut bernyanyi lagu anak-anak. Bagus Zavier bagus. Dia menggagalkan kencan gue dan Audrey padahal kurang dari setengah jam lagi kami akan sampai.

"Nanti dibangunin aja pas sampai sana," ujar gue dengan nggak sabar.

"Mungkin ini jam tidur siangnya. Kasihan sih kalo dia dibangunin."

"Terus gimana?" Kami akan berhenti di lampu merah depan.

Gue sempat melihat ke langit di mana suara petir menggema diikuti langit yang berubah drastis dari panas ke mendung. "Tapi masa nggak jadi, Dre? Kata kamu ini pamerannya hari terakhir, kan?"

"Masih ada tahun depan kok. Nggak apa-apa batal. Tapi masa kita biarin dia tidur di mobil? Dia juga kayaknya baru tidur."

"Belok di depan bisa ke apartemenku, sih. Kalo kamu nggak keberatan kita ke apartemenku. Ini yang paling dekat." Semoga Audrey nggak berpikir yang macam-macam karena niat gue memang ingin Zavier tidur di tempat yang lebih nyaman dan apartemen gue yang paling dekat dari lokasi kami saat ini.

Audrey menoleh lagi ke belakang, nampak sambil berpikir, menimbang-nimbang. "Ke apartemen kamu aja nggak apa-apa biar Zavier bisa tidur."

Sampai di parkiran gue memindahkan tubuh Zavier pelan-pelan ke tubuh gue sementara Audrey menenteng ransel yang isinya keperluan Zavier. Siska selalu menyiapkannya setiap mereka pergi ke manapun. Nggak lupa juga mainan-mainannya.

Gue menggendong anak kecil yang beratnya setara dengan dua puluh kilogram beras itu, membuat napas gue cukup ngos-ngosan sampai di depan pintu. Audrey sampai meringis ketika tadi di lift gue kesusahan menekan tombol. Dia dengan sigap melepaskan sepatunya, menyalakan AC di kamar dan menyelimuti tubuh bocah itu dengan selimut tipis yang diambil dari tas ranselnya.

"Capek banget memang, ya? Nggak bangun sama sekali sampai sini," gumam Audrey lalu menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Ia berjalan ke rak sepatu untuk meletakkan sepatu bocah itu.

Gue bergerak ke dapur, membuka kulkas dan hanya menemukan dua kaleng soda dan beberapa buah jeruk.

"Zavier tadi udah makan? Kira-kira nanti dia bangun tidur bakal kelaparan nggak?" Audrey menyadarkan sesuatu yang nggak gue pikirkan. Rafi dan Siska juga nggak ada pesan apa-apa. Gue hanya melihat makanan ringan dan susu kotak di dalam tasnya tadi.

"Pesan online aja gimana?" Bertepatan dengan itu hujan turun dengan derasnya. Masih jam satu siang tapi di luar sana sudah seperti sore menjelang malam.

"Kayaknya bakal susah." Audrey melihat ke jendela. "Samping sini ada supermarketnya, kan? Aku belanja aja. Aku masak."

Gagasan yang menarik. Berdua di apartemen gue, kecualikan Zavier yang sedang tidur di kamar, hujan, dan Audrey yang memasak makanan. Gue sangat menyukai gagasan tersebut.

"Aku aja yang belanja. Perlu beli apa aja?"

Audrey mengambil sticky notes berukuran kecil dan pulpen dari dalam tasnya, membuat gue cukup takjub karena dia membawanya ke mana-mana. Dia menulis daftar belanjaan cukup cepat setelah bolak-balik mengecek apa saja yang sudah ada di dapur gue.

Letak supermarket tepat berada di sebelah apartemen ini. Paling hanya butuh setengah jam untuk mendapatkan semua bahan makanan tersebut. Gue nggak begitu tahu Audrey mau masak apa tapi gue percaya makanannya akan kami sukai.

Ketika gue sampai, Audrey sudah berada di dapur, sudah menjepit rambutnya tinggi-tinggi, menyisingkan lengan baju dan sibuk dengan penanak nasi. Dia memakai rok yang memperlihatkan kaki rampingnya dan nampak nyaman bertelanjang kaki di dapur. Gue jarang di dapur tapi kalau ada Audrey rasanya gue akan betah berlama-lama di sana. Benar-benar pemandangan sempurna yang dapat ditangkap oleh mata gue.

Damn. Tiba-tiba gue membayangkan bagaimana jika situasi seperti ini terjadi setiap hari. Kami berdua di apartemen, Audrey sibuk memasak dan gue akan memeluknya dari belakang, mengganggunya dengan sentuhan-sentuhan gue. Gue penasaran bagaimana tubuh indah itu akan bereaksi. Lebih gila lagi gue membayangkan bagaimana rasanya jika kami berciuman di dapur. Rupanya otak gue benar-benar sudah nggak beres.

Setelah memberikannya hasil belanjaan dan dari pada gue terus membayangkan yang enggak-enggak, akhirnya gue meninggalkan dapur untuk mengecek Zavier. Sepertinya gue harus memberinya imbalan lagi karena telah membuat hari ini lebih baik ketimbang menghabiskan waktu berdua di pameran buku. Jauh lebih baik.

***

AUDREY

Setiap kali aku bersama Kelvan, seringnya ada hal-hal yang terjadi secara tidak terduga. Kemarin dari yang harusnya dia hanya mengantarku pulang, kami berakhir dengan nonton bioskop dan pergi ke cafenya Bella. Sekarang dari rencana awal Kelvan seharusnya mengantarku ke pameran buku, berujung pada kegiatan kami mengasuh seorang bocah berumur empat tahun. Namun aku akui itu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Aku takjub bahwa aku bisa menikmatinya. Audrey yang biasanya adalah Audrey yang akan bad mood seharian jika ada hal-hal yang sudah diaturnya tidak berjalan sesuai rencana. Namun sekarang Audrey menjadi seseorang yang suka dengan kejutan.

Karena tidak tega membangunkan Zavier yang tertidur pulas di mobil, acara ke pameran buku harus dibatalkan dan berakhir dengan kami berada di apartemen Kelvan saat ini. Tadinya aku sempat ragu ke sini tapi tidak ada pilihan lain. Apartemen Kelvan paling dekat dari lokasi kami tadi dan Zavier perlu tempat yang lebih nyaman untuk tidur siangnya. Anak itu bahkan tidak terbangun sedikitpun ketika kami membawanya sampai kamar.

"Tadi bukannya aku tulis setengah aja ya?" tanyaku saat baru mengeluarkan semua belanjaannya dan menemukan ayam potong seberat satu kilogram.

Kelvan terkekeh sambil menggaruk-grauk kepalanya. "Aku nggak tahu, Dre. Aku ambil aja langsung. Masak aja semua. Kalo disimpan nanti entah kapan bakalan dimasak lagi," jawabnya kemudian berlalu entah kemana. Akhirnya ku bersihkan semua ayam itu kemudian memarinasinya dengan garam dan merica.

Lihat selengkapnya