KELVAN
"Gue mau mengakhiri hubungan gue dengan Clara." Gue melempar kunci motor begitu saja di meja tempat Bram yang saat ini sedang merebahkan kepalanya. Dia hendak mengumpat tapi setelah sadar apa yang barusan gue bilang, mulutnya malah jadi tergagap.
Rafi jadi yang pertama merespon. "Ih kesambet apa lo?
"Seriusan." Jawab gue pendek lalu mengambil sebatang rokok.
Jam sembilan malam saat ini gue menemui mereka di sebuah kedai kopi yang buka sampai tengah malam. Istilah kerennya warkop tapi dengan konsep yang elit dikit dengan banyak varian menu kopi dan indomie serta kursi dan meja yang cukup banyak. Badan gue capek habis lembur tapi pikiran gue berasa dua kali lipat lebih capek. Kalau nurutin badan, harusnya gue udah di apartemen, packing baju-baju, lanjut tidur cukup biar besok pagi gak telat ke stasiun kereta, bukan ketemuan sama dua manusia ini.
Tapi pikiran gue udah kayak radio rusak— berisik, nggak bisa dimatiin. Clara di satu sisi, Audrey di sisi lain. Dan gue berdiri di tengah mereka, ngerasa bersalah, bingung, sekaligus senyum-senyum bego sendiri.
"Kok jadi insyaf?"
Gue mengabaikannya. "Tapi gimana cara bilangnya ya. Bingung juga."
"Kenapa mesti bingung dah. Lagian kalian kagak pacaran."
"Iya tapi gue tetap bingung. Apalagi sekarang dia terang-terangan dekatin gue mulu. Dia udah putus sama tunangannya."
"Mampus." Bram baru bersuara dan dari sekian banyak kata, kata mampus jadi kata pertamanya.
"Mampus." Rafi juga ikut-ikutan.
"Mampus," ujar Bram yang kedua kali. Belum puas kayaknya.
"Eh tolong ya mampusnya sekali aja."
"Nggak bisa. Enak banget soalnya ngomong gitu ke lo. Mau gue katain lagi nggak?"
Gue mengumpat. "Cobain aja. Gue lempar kursi nih!"
Kami bertiga mulai jadi perhatian beberapa orang yang sedang makan di sini. Rusuh banget nih tiga orang, pikir mereka.
"Kemarin pas lo nganter Audrey pulang ada kejadian apa?" Bram sepertinya bisa menemukan korelasi antara keinginan gue mengakhiri hubungan dengan Clara dan apa yang terjadi sama gue dan Audrey kemarin.
"Oh ada Audrey dibalik batu," ujar Rafi asal lalu menyeruput kopinya yang masih mengepulkan asap.
"Ya biasa," jawab gue enteng. Ciuman itu biasa, kan?
"Apa yang lo anggap biasa, di Audrey mungkin dianggapnya serius."
"Ciuman doang."
Awalnya Rafi melongo, sedetik kemudian dia mengangkat tangan gue untuk bersalaman. Dia menggoyangkannya kuat-kuat. "Selamat. Anda pemenangnya." Lalu sekarang dia menoleh ke Bram. "Besok lo kasih mobil antik lo itu ke dia."
"Nggak bisa nggak bisa. Nggak bisa tanpa bukti," protes Bram, memisahkan tangan kami dengan paksa.
"Ya masa lo mau liat orang ciuman."
"Ya boleh." Gue menjitak kepala Bram. "Ya intinya harus ada bukti nyata dong. Nggak bisa dengan ucapan doang. Siapa tahu si Kelvan cuma ngarang."
"Lah emang gue segoblok itu ngarang?" Gue mendengus.
Lalu mereka berdua berdebat selama dua menit yang membuat beberapa orang kembali memperhatikan kami.
"Ya paling enggak harus ada bukti yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri dong. Ayo deh kumpul lagi rame-rame. Audrey masak lagi tapi. Enak soalnya masakan dia."
Gue mendelik ke Bram. Rafi ikut godain. "Kok sama Audrey lo gampang kebakar? Baru digodain dikit langsung sewot. Takut ditikung, ya?"
Sepanjang jalan pulang kemarin, setelah dengan terpaksa gue membiarkan Audrey keluar dari mobil, gue nggak bisa hitung berapa kali gue nyengir. Berhenti di lampu merah gue nyengir. Gue menoleh ke samping, kursi kosong tempat Audrey tadi mencium gue, gue nyengir. Sampai kembali menginjakkan kaki di dapur apartemen pun gue nyengir. Dan cengiran lainnya yang gue nggak sadar.
Audrey nggak bisa dibilang handal dalam berciuman tapi nggak buruk juga. Sama sekali nggak buruk. Gue justru suka karena respon alaminya yang bikin gue pengen menciumnya lagi. Bibir manis beraroma cherry itu seperti pakai zat aditif yang bikin gue sulit berhenti. Ada juga perasaan sedikit takut terbawa arus. Takut nggak bisa bedain mana rasa sesaat, mana yang serius.
"Jadi gimana?" Gue menyudahi perdebatan konyol dua manusia itu.
"Apanya?" Bram nampak masih kesal. Dia merebut bungkus rokok gue.
Gue berdecak. "Gimana gue bilangnya?"
"Eh tapi kenapa? Kalau lo nggak serius sama Audrey kenapa harus berakhir sama Clara?"
"Nggak bisa aja gue menghandle dua wanita dalam satu waktu. Gue bukan Bram."
Bram tergelak sedangkan Rafi hampir mau mengumpat. "Oh ternyata masih brengsek"
Bram geleng-geleng. "Van, Van... lo kalau udah kebawa perasaan mending ngaku aja deh. Biar nggak sakit kepala sendiri ntar. Kita sih nanti mau masa bodo aja, ya."
"Iya ngaku aja lo udah kebablasan, kan? Cuma lo yang tahu sih. Lo beneran masih main-main karena taruhan atau lo sebenarnya udah mulai serius," timpal Rafi.
Kalimat mereka kedengerannya kayak bercandaan, tapi nyangkut juga di kepala gue. Gue tahu harusnya ini cuma mainan. Gue tahu harusnya ini nggak boleh jadi lebih jauh. Harusnya gue berhenti sampai sini. Tujuan dari semua ini sudah tercapai, kan? Gue menang. Prinsip gue selama ini hubungan yang tidak terikat, kan? Tapi kenyataannya? Wangi Audrey masih nempel di indera gue. Senyumnya kemarin masih jelas terbayang. Suara tawanya bahkan masih kayak gema di telinga gue.
Gue mendesah. "Balik ke topik tadi deh. Jangan pada bacot ke mana-mana. Jadi gimana? Enaknya bilang apa? Pas banget lagi dia udah single."
Rafi mengangkat tangan seolah bilang kalau dia nggak mau ikutan.
"Gue tahu sih cara bilangnya gimana," ujar Bram setelah asap keluar dari mulutnya.
"Gimana?"
Bram memajukan kepalanya. Wajahnya cukup serius hingga kami berdua yakin caranya kali ini nggak akan konyol. Dia berdeham. "Clara, mending kita udahan aja. Ini nggak baik dilanjutkan." Oke Bram benar-benar serius. "Aku dijodohin. Gak boleh nolak. Aku habis ciuman sama cewek itu di mobil. Dan aku rasa aku mulai jatuh cinta sama dia."
Rafi langsung ngakak sampai batuk-batuk. Gue geleng-geleng. "Lo berdua emang setan."
Tapi di balik tawa itu, gue tahu—celetukan Bram tadi nyentil sesuatu. Jatuh cinta sama Audrey? Gue bahkan belum berani jawab pertanyaan itu ke diri gue sendiri.
AUDREY
"Benar-benar deh kehamilan gue ini tuh bikin gue malas banget ngapa-ngapain dan jadi super mellow. Masa cuma ditinggal business trip sehari doang gue tadi nangis sampe meraung-raung tapi pas Bimo ngajak gue ikut gue malah nggak mau." Bella curhat saat aku dan Dinar baru kembali dari dapur, membawa tiga mangkuk ice cream Oreo untuk kami makan bersama. Dia mengelus-elus perutnya yang tertutup daster polkadot berwarna merah muda. Pipinya nampak lebih berisi dari terakhir kami bertemu.
Aku dan Dinar langsung saling tatap lalu ngakak bareng. Dinar sampai menepuk-nepuk lututku. "Lo kebayang nggak, Dre, Bella nangis kejer cuma ditinggal sehari? Padahal gue aja ditinggal Akas seminggu nggak ngechat juga biasa aja."
Bella manyun. "Eh jangan salah! Kalo lo udah nikah nanti, coba aja rasain sendiri. Baru tahu artinya ditinggal sebentar itu kerasa banget."
"Emang katanya kalo hamil tuh jadi mood swing, ya," timpal Dinar.
"Untungnya gue nggak ada mual muntah sih. Makan apa aja masih enak tapi gue kadang kasihan sama Bimo. Dia ngadepin mood gue yang kadang nggak jelas."
"Iya nggak jelas banget. Telpon pas gue lagi meeting sambil nangis-nangis cuma karena ditinggal Bimo sehari keluar kota."
Tadi Bella menelepon saat aku sedang memimpin meeting. Dua kali panggilannya aku abaikan karena sedang melakukan presentasi. Ketika meeting sedang break aku meneleponnya balik dan yang pertama kali kudengar adalah tangisannya yang tersedu-sedu. Bella meminta kami untuk menginap di rumahnya malam ini. Jadilah sepulang kantor, Dinar menjemputku dan sekarang kami sudah duduk nyaman di karpet depan televisi sambil menyendok semangkuk ice cream.
"Terus ya rasa malas gue ini termasuk rasa malas untuk mesra-mesraan sama suami sendiri. Bahkan diajak ciuman aja gue biasa aja. Aneh banget, ya."
Mata Dinar membulat. "Bisa jadi begitu ya. Terus Bimo nggak apa-apa?"
"Kayaknya," jawab Bella nggak yakin. "Dia bilang itu bawaan hamil dan mungkin akan hilang sendiri nantinya pas kehamilan gue sudah semakin besar. Dia nggak ambil pusing. Yang penting gue dan bayinya sehat."
"Sebelum lo hamil aja dia udah sabar banget ya, ini pas lo hamil harus lebih sabar lagi. Stok sabarnya beli di mana dah?"
"Memang udah settingan dari sananya begitu dia. Sabar banget dan lempeng hidupnya."
"Kenapa lo nggak nginep aja di rumah nyokap lo, sih?"
"Nyokap gue lagi repot soalnya nenek gue mau pergi haji. Bantu-bantu di sana."
"Gue sama Audrey nggak bawa baju ganti lho. Besok pagi kita gimana?"
"Pake baju-baju gue banyak. Lo pilih deh mau rok, gaun, apa g-string juga ada."
Bella dan Dinar tertawa. Sedangkan aku? Sedang bernostalgia mengingat kembali sesi ciumanku dan Kelvan Minggu lalu. Aku bersumpah tidak ada lagi yang terjadi pada kami selain hanya saling membalas ciuman. Kelvan mengakhirinya dengan lembut sebelum kami berpikir untuk melakukan hal terlarang lainnya.
"Kok Pipi lo merah sih, Dre?"
"Hah?" Dinar memergokiku sedang melamun. Tanganku dengan cepat menangkup pipi lalu mengalihkan tatapan ke televisi.
"Lo kenapa deh? Sekarang bukan cuma pipi lo yang merah tapi semua muka lo sampe ke kuping-kuping."
"Masa sih? Blush on gue kali," jawabku asal padahal mereka tahu aku tidak pandai berbohong.
"Lo kan tadi udah cuci muka. Lagian ya kali lo pake blush on semuka begitu?"