AUDREY
Aku menatap lahan kosong hijau yang akan kami pakai di salah satu wedding venue di Jakarta Selatan. Bukan. Tentu saja bukan untuk urusan pernikahan. Meskipun seringnya digunakan untuk acara pernikahan, venue ini juga bisa digunakan untuk keperluan acara lainnya.
Memiliki dua area yaitu indoor dan outdoor dengan kapasitas yang tidak begitu besar, venue ini cocok untuk yang ingin mengadakan intimate wedding atau pesta kebun. Aku dapat mengerti mengapa Rudy memilih tempat ini untuk pernikahan mereka nanti. Mereka ingin pernikahan yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja.
Pihak pengelola menjelaskan dengan sangat detail ke Mas Ezra mengenai bagaimana lahan ini akan disulap menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak. Untuk acara launching nanti, kami mengundang setidaknya lima puluh ibu-ibu influencer beserta anaknya. Akan ada talk show, beberapa booth, dan juga serangkaian kegiatan menyenangkan untuk anak-anak.
"Ini bakalan panas yah karena kita adain mulai jam sepuluh." Mas Ezra bicara lagi setelah bolak-balik mengecek area dalam dan luar.
Seakan sudah tahu dengan pertanyaan itu, Mbak Silvi salah satu dari pengelola tempat ini tersenyum menanggapinya. Dari tadi dia cukup sabar menjawab pertanyaan Mas Ezra dari A sampai Z.
"Itu resikonya kalau adain acara di outdoor, Mas. Kalau nggak hujan ya kepanasan. Tapi kita bisa sediakan blower yang ditaruh di beberapa titik. Ada lima blower nantinya. Saya rasa sudah sangat cukup untuk acara ini."
Mas Ezra manggut-manggut. Dia menoleh kepadaku. "Ada lagi, Dre?"
Aku mengecek notes di ponsel, menandai lagi bagian mana yang sudah jelas dan belum sampai tersisa satu poin yang belum kami dapatkan infonya.
"Kita butuh ruangan untuk crew dan beberapa tamu. Bisa disediakan?"
"Bisa Mbak. Ada satu ruangan yang bisa dipakai. Cukup luas. Itu tepat di sebelahnya area dalam."
Setelah mendapat detailnya, pikiranku bekerja lagi. Di mana letak booth agar tetap terlihat dalam liputan media? Bagaimana alur registrasi supaya ibu-ibu influencer tidak perlu terlalu lama antri sambil bawa anak? Semua pertanyaan itu berputar di kepalaku sambil aku mengetik catatan di ponsel.
Setengah jam kemudian kami sudah selesai mendapatkan semua informasi yang kami butuhkan. Kami berjalan melewati area dalam yang kental dengan nuansa serba kayu. Ada restoran di sebelah kiri yang buka setiap hari jika tidak ada acara lain dan taman kecil yang terdapat kolam ikan dan air mancur mini di sebelahnya.
Mas Ezra tiba-tiba berhenti membuat pergerakanku yang sedang mengetik pesan jadi ikut berhenti juga. Dia melihat jam tangannya lalu kepalanya melongok ke restoran.
"Mau makan dulu, Dre?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Nggak, Mas. Saya udah dijemput."
Dia termenung sebentar lalu tersenyum meledek. "Pasti sama pacar kamu ya."
Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Anehnya aku tidak berniat mengoreksi bahwa Kelvan belum jadi pacarku. Sekarang dia lanjut berjalan lagi.
"Ini tuh cowok yang waktu itu di restoran, ya? Yang waktu kita makan bareng Rania dan Ivan. Iya bukan, sih?"
Aku menoleh cepat ke arahnya. "Loh memang Mas Ezra lihat?"
"Iya lihat. Cuma waktu itu aku lihatnya kalian malah kayak lagi bersitegang."
Senyumku muncul mengingat masa-masa di mana Kelvan terus menyulut emosiku. Bagaimana mungkin sekarang dia bisa berubah menjadi orang yang paling kutunggu-tunggu. Meskipun enggan mengakuinya tapi diriku memang benar sedikit merindukannya. Kami sudah hampir 2 minggu tidak bertemu.
Kami telah sampai di luar venue. Mas Ezra sedang menunggu mobilnya diantarkan karena tadi dia parkir di bagian khusus tamu VIP, sedangkan Kelvan, kulihat dia sudah menunggu di parkiran seberang kami. Dia dengan santai bersandar sambil melipat tangan. Memakai kemeja berwarna putih dan celana warna khaki. Penampilannya masih kelihatan rapi padahal pekerjaan telah mengambil waktu dan tenaganya. Aku pamit ke Mas Ezra dan berjalan dengan mantap menghampiri Kelvan yang baru saja melambaikan tangan.
Tapi jujur saja, semakin dekat langkahku justru malah makin lambat. Jantungku berdetak kencang. Dia menarik lenganku ketika jarak kami sudah dekat, membuatku hampir saja menubruk dada bidang itu.
"Kelvan!" seruku pelan, separuh kesal, separuh kaget.
Kelvan justru tersenyum geli. Buru-buru ku jauhkan tanganku dari jangkauannya karena khawatir dia akan melakukannya lagi.
"Bisa nggak kamu nggak usah dandan cantik-cantik? Susah jaganya kalau aku lagi jauh," ucapnya sambil memainkan poniku lalu bergerak turun mengesampingkan rambut yang terbang tertiup semilir angin.
"Ih apaan sih ngomong begitu," jawabku tapi dengan wajah yang berpaling darinya karena ku yakin sebentar lagi pasti warnanya akan berubah jadi merah.
Aku mengajaknya untuk segera pergi dari sini karena tidak yakin pertahanan diriku akan kuat jika terus membiarkan Kelvan menggodaku. Tapi bukan Kelvan namanya jika tidak berbuat sesuatu yang membuat pipiku merah. Aku baru saja selesai memasang sabuk pengaman, ketika sebuah buket bunga sudah berada di hadapanku. Bunga tulip yang sangat cantik. Bunga kesukaanku.
Aku nyaris membuka lebar-lebar mulutku kalau tidak ingat harus bersikap elegan di depannya. Kedua tanganku menutup bibir namun tidak bisa menyembunyikan senyuman lebar di baliknya. Aku terlalu syok sampai akhirnya satu menit kemudian tanganku baru berani meraih bunga pemberiannya.
"Buat aku?" Bodohnya aku masih perlu bertanya membuat tawa Kelvan meledak. Kurasa aku baru saja merusak momen indah ini.
"Bunga ini buat perempuan yang barusan banget malah tanya bunganya buat siapa," jawabnya meledek tapi mampu membuat hatiku menghangat.
"Thank you. Bagus banget bunganya," jawabku tulus. Hidungku menghidu berkali-kali buket bunga itu. "Tahu dari mana aku suka bunga tulip? Nggak semua toko bunga jual kan." Selain karena jarang toko bunga yang menyediakannya, harganya juga jadi lebih mahal.
"Ini informannya masih sama sama yang kemarin. Nambah satu orang lagi sih." Kelvan mengedip jahil.
Dia melajukan mobilnya dan selama lima belas menit ke depan kami berkendara tanpa tujuan. Aku menutup wajah dengan buket ketika Kelvan memergokiku sedang tersenyum menatap bunga pemberiannya. Lebih parahnya lagi dia sempat mengambil fotoku dengan kamera ponselnya lalu tertawa seperti sangat puas telah melakukan sesuatu.
"Bikin susah tidur tujuh hari tujuh malem kayaknya, nih," ejeknya.
"Diem nggak!" Dia tertawa kencang. "Kenapa deh tiba-tiba ngasih bunga?"
"Kangen. Tapi nggak tahu deh kamunya kangen juga atau enggak?" Aku memalingkan wajah. Rasanya mulai memanas.
"Aku lapar," jawabku. Tidak nyambung karena bingung bagaimana meresponnya. Jawabanku seperti upaya untuk menyamarkan degupan jantung yang tak juga tenang sejak bertemu dia.
Kelvan melirikku sambil tertawa. "Deg-degan ya?"
Aku sontak menoleh cepat. "Hah? Siapa bilang? Aku biasa aja." Suaraku terdengar datar, tapi di dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Mana mungkin dia tahu aku gemetaran cuma karena duduk di sampingnya?
"Biasa aja tapi pipi kamu merah semua." Mobil berhenti di lampu merah. Dia mencondongkan wajahnya mendekat, membuatku mundur sedikit.
"Beneran nih aku lapar," kataku lagi kali ini dengan memegang perut agar terlihat meyakinkan.
Kelvan tertawa geli. Dia menyerah. "Kamu mau makan apa?"
"Aku kepengen seafood langganan kamu waktu itu. Makan itu yuk."
Tentu saja Kelvan langsung menyetujuinya namun sayangnya saat kami tiba, warung seafood itu sudah penuh dengan orang-orang yang makan di tempat. Sepertinya akan cukup lama sampai tiba giliran kami bisa makan di sini. Akhirnya kami putuskan untuk dibawa pulang saja dan makan di apartemennya.
Ya aku tahu apartemen Kelvan adalah tempat yang seharusnya aku hindari selain Segita Bermuda tapi terkadang apapun yang sudah kita niatkan bisa saja tidak berjalan sesuai rencana kan? Aku mengutuk diriku sendiri begitu sudah tiba di pintu apartemennya.
Kelvan izin untuk mandi sedangkan aku hanya mencuci wajah agar terlihat lebih segar. Aku menghabiskan waktu sampai sepuluh menit di depan cermin hanya untuk memutuskan memakai sedikit blush on dan lipstik agar wajahku tidak pucat. Kelvan sampai memperhatikan pipiku berkali-kali ketika aku sudah kembali di dapur membantunya menyiapkan makanan.
"Aku bakal undang Siska sama Zavier juga ke launching bulan besok deh." Kataku saat kami baru mulai duduk di kursi makan. Aku mengambil tempat duduk di depannya yang sialnya justru membuat Kelvan bisa lebih leluasa menatapku. Seperti sekarang.
"Kamu follow IG dia juga?"
"Dia duluan follow aku. Rafi sama Bram juga tiba-tiba follow aku." Mata Kelvan membelalak.
"Kenapa sih?"
"Nggak apa-apa kok. Kaget dikit. Berarti teman-temanku suka sama kamu."
"Meskipun followersnya cuma sekitar lima ribu tapi kulihat dia cukup konsisten buat konten tentang anak. Aku hampir bukain semua kontennya yang ada Zavier. Lucu banget dia."
"Dari dulu sih dia. Sebelum nikah dia juga udah sering buat konten-konten gitu. Kalau dulu seringnya bikin konten bucin sama Rafi."
"Iya aku juga lihat. Rafi bucin banget."
"Tadi aku tanya dia di mana toko bunga yang jual bunga tulip."
"Karena dia sering kasih bunga ke Siska, ya?" Kelvan hanya mengangguk tapi sebelah tangannya terangkat membersihkan noda makanan di sudut bibir sebelah kiriku.
Tubuhku membeku tapi jantungku bertalu-talu. Ngerti kan seberapa bahaya keberadaannya di dekatku? Aku tahu Kelvan hanya reflek saja sebenarnya. Sama seperti saat dia menyentuh kening dan pipiku waktu itu tapi akibatnya di tubuhku tidak main-main.