I Bet You Love Me

ND
Chapter #13

Orang dari Masa Lalu

AUDREY

Satu minggu semenjak permainan kartu itu dan kejadian Kelvan menciumku di apartemennya, hubungan kami semakin serius. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Memang tidak ada pernyataan cinta secara resmi di antara kami hanya saja kami semakin sering berinteraksi. Kami bertemu di sela-sela pekerjaan kami yang sedang banyak, bergandengan tangan saat jalan di mall, memeluknya saat Kelvan sedang kebetulan pakai motor, sampai ke saling mencuri pandang saat sedang bersama teman-teman.

Kupikir kami terlalu tua untuk bertingkah seperti remaja yang dimabuk cinta. Dan kami tidak perlu terburu-buru untuk menamai hubungan ini seperti tidak akan ada hari esok. Semua berjalan baik sebagaimana mestinya. Untuk sekarang.

Ku ingat-ingat lagi tidak ada satupun perbuatannya yang tidak membuat diriku merasa diinginkan. Kelvan selalu membuatku takjub dengan perhatian-perhatian kecil yang dia berikan. Seperti sekarang kami sedang sarapan bubur ayam di basement gedung kantorku sebelum lima menit lagi aku harus sudah ada di depan Mas Ezra dan timku. Aku bangun kesiangan gara-gara drakor, tidak sempat sarapan dan dikejar waktu tapi tiba-tiba saja dia berhenti di tukang bubur ayam, memaksaku untuk tetap sarapan meskipun sedikit.

"Ini nggak bakalan bisa aku habisin. Kebanyakan. Harusnya kamu beli setengah porsi tadi," gerutuku sambil melirik jam tangan dan kaget karena waktu cepat sekali berlalu.

"Nggak apa-apa nanti sisanya aku habisin," jawabnya setelah melahap habis sate telur dengan sekali hap. "Harus disempetin sarapan, Dre. Itu penting. Lagian lebih milih drakoran ketimbang telponan sama aku. Kesiangan kan jadinya."

Aku mendelik sebentar. "Itu salahnya drakor, bukan salahku."

Kelvan terkekeh. "Iya, iya. Tapi kalau kamu ketiduran gara-gara nonton aku, aku kan jadinya nggak bakal protes."

Mau tidak mau aku tersenyum mendengarnya. Kelvan menyendokkan bubur terakhir ke mulutnya lalu mengambil satu botol kecil air mineral. Dia membuka segelnya lalu menaruhnya di dekatku. Tangannya kembali mengambil botol mineral yang lain untuk dia minum sendiri.

"Entar aku bisa jemput, Dre. Kamu keluar jam berapa?"

Aku menutup sterofoam yang masih terdapat sisa bubur. Tidak sanggup aku menghabiskannya kalau dikejar waktu begini.

"Aku belum tahu. Siang itu ada pemotretan produk. Kayaknya jam lima lewat baru kelar deh. Beres-beres, mungkin jam enam."

"Oke. Entar aku kabarin papa kamu," ujarnya santai tapi aku tidak mengerti kenapa harus ngabarin papa segala.

"Ngapain ngabarin papaku?"

"Papa kamu ngajak aku main catur lagi. Katanya sebelum besok dia keluar kota. Jadi entar aku ikut makan malem di rumah kamu."

Aku langsung membayangkan papa yang pasti sumringah begitu Kelvan datang. Dia benar-benar suka punya lawan main baru.

Kelvan pernah ditahan papa untuk main catur Sabtu lalu saat dia datang menjemputku ke rumah. Kami ada rencana nonton bioskop lagi saat itu dan akhirnya harus melewatkan lima belas menit pertama film karena Papa belum mau berhenti sebelum dia menang. Padahal Kelvan bisa saja membiarkan dirinya kalah tapi melihat ekspresi papa ketika kalah katanya sangat menghibur.

"Aku telat lima menit!" pekikku lalu membereskan barang-barang yang tercecer dari tasku dengan terburu-buru. Aku tidak sempat dandan tadi jadi kulakukan di mobil. Kelvan diam saja memperhatikanku yang mengabsen satu persatu barang. Sama sekali tidak membantu. Katanya dia selalu suka melihatku saat diserang panik. Aneh.

Aku pamit keluar dengan cemberut karena Kelvan mengacak-acak rambutku setelah sebelumnya dia mengelus pipiku lembut. Dia memang tidak serius melakukannya dan tidak terlalu berantakan sih tapi tetap membuatku kesal mengingat usahaku yang memasang roll rambut selama di perjalanan tadi.

Kakiku setengah berlari menuju lift ketika sapaan dari seorang laki-laki terdengar dari arah kananku. Mas Ezra.

"Hai Dre. Baru datang juga." Maksudnya nyindir mungkin karena aku telat.

"Terlambat juga, Mas," jawabku usil dan dia tertawa.

Kami berjalan bersama, saat baru beberapa langkah aku mendengar suara seseorang yang meneriakkan namaku. Ternyata Kelvan masih di sini.

"Ada yang kelupaan," katanya dengan agak ngos-ngosan. Dahiku mengernyit karena tadi aku sudah memastikan dua kali barang-barangku tidak ada yang tertinggal di mobilnya dan kulihat Kelvan juga tidak bawa apa-apa.

Di tengah kebingunganku karena kedatangannya yang tiba-tiba, tangan Kelvan menarik pundakku lalu berbisik di telinga. "Maaf ya aku cemburuan." Lalu dia mencium puncak kepalaku. "Sampai nanti, ya." Kelvan melesat pergi begitu saja meninggalkanku yang terkejut setengah mati karena perbuatannya di depan Mas Ezra.

Lima menit kemudian meskipun dengan susah payah menyingkirkan senyum simpul dari wajahku, aku berhasil mencapai meja kerja. Hari itu berjalan lebih sibuk dari biasanya. Kami kedatangan brand ambassador untuk pemotretan produk baru dan segala persiapan untuk launching produk bulan depan. Aku bolak-balik memastikan properti untuk pemotretan siap, skrip brief untuk media terdistribusi, serta PR package tidak ada yang keliru.

"Gilaa gilaa. Cakep banget dia." Ivan baru saja kembali setelah tadi diminta Mas Ezra untuk bantu-bantu. Ekspresinya seperti habis melihat tujuh keajaiban dunia.

"Makasih lho," sambar Rania begitu percaya diri sebelum Ivan menggetok kepalanya dengan tumpukkan kertas.

Bukan tanpa alasan perusahaan kami memilih seorang Nadya Pramesthi sebagai brand ambassador. Kariernya dimulai dari content creator sederhana di YouTube dengan video tips kecantikan yang jujur dan sederhana. Lalu namanya melesat ketika beberapa brand skincare menggandengnya, dan dia makin populer setelah tampil di beberapa podcast. Tapi yang membuatnya benar-benar disukai publik bukan hanya wajah cantiknya, melainkan kisah hidupnya.

Nadya sempat tiba-tiba menghilang dari dunia maya selama hampir setahun, lalu muncul dengan pengakuan mengejutkan bahwa ia telah melahirkan seorang anak perempuan yang kini berusia hampir dua tahun. Tidak pernah sekalipun ia membongkar siapa ayah anak itu, dan publik justru semakin penasaran. Instagramnya penuh dengan konten manis bersama putrinya, yang membuat netizen jatuh cinta. Banyak yang memandang Nadya sebagai sosok ibu muda yang tegar, mandiri, sekaligus relatable.

Lihat selengkapnya