I Bet You Love Me

ND
Chapter #14

Can't Help Falling In Love

AUDREY

Sudah tidak terhitung berapa kali aku menghadiri pernikahan sejak lulus SMA sepertinya. Namun melihat momen sakral seperti akad nikah bisa dihitung dengan jari. Terakhir saat pernikahan sepupuku sekitar satu tahun lalu. Rasanya selalu membuat bulu kudukku berdiri setiap kali detik-detik akad nikah diucapkan.

Ada sesuatu yang mendalam dalam momen itu—semacam keheningan yang sakral, saat semua orang menahan napas, saat dunia seolah ikut diam menunggu satu kalimat yang akan mengubah dua orang selamanya.

Aku juga ingat momen-momen setelahnya di mana orang-orang mengucapkan selamat kepada kedua mempelai lalu diriku yang baru saja gagal menikah tidak luput jadi target mereka. Mereka akan menepuk pundakku dan mendoakanku. Aku juga masih ingat wajah-wajah mereka yang memandangku iba sambil mengucapkan beberapa kata seperti, sabar, semoga enteng jodoh lalu menarikku ikut ke kerumunan saat kedua mempelai melempar bunga.

Aku berdiri di antara mereka, pura-pura tertawa saat buket bunga itu melayang di udara. Semua orang berteriak riuh, berebut menggapainya seolah benda itu adalah kunci menuju akhir bahagia mereka. Sementara aku hanya menatap tanpa benar-benar berniat meraihnya. Saat buket itu jatuh di tangan seseorang di depanku, aku ikut bertepuk tangan, memberi selamat dengan senyum yang terasa seperti topeng.

Di dalam kepalaku, suara-suara itu terus bergema — doa-doa yang terdengar seperti simpati yang dibungkus kebaikan, tapi sesungguhnya membuatku semakin sadar akan kekosongan di sisiku. Langkah-langkahku terasa berat ketika mencoba menjauh dari kerumunan sampai seseorang menahan lenganku dan berkata, "Siapa tahun depan giliran kamu."

Aku hanya mengangguk, sebisa mungkin tersenyum ramah. Tahun depan bukanlah soal giliran, tapi soal luka yang belum sembuh.

"Alhamdullilah prosesi ijab kabul telah berlangsung dengan lancar dan sah menurut syariat islam. Sebagai bentuk rasa syukur......" ucap seorang MC yang membawaku kembali ke masa sekarang.

Pernikahan Rudy dimulai dengan akad jam delapan pagi di venue yang aku datangi beberapa waktu lalu. Pagi itu terasa hangat seolah langit ikut merayakan. Tidak ada kesan mewah tapi semuanya terasa pas, hangat, sederhana namun penuh makna. Tema pernikahan rustic yang mereka usung memang tak pernah lekang oleh waktu.

Aku duduk di antara Bella dan Dinar. Bella sudah menghapus air matanya entah yang keberapa kali. Satu bungkus tisu yang dipegang Bimo nampak sudah semakin tipis sedangkan Akas tidak pernah melepas genggaman tangannya dari Dinar sejak awal kami duduk menyaksikan akad nikah. Namun ada satu hal manis yang dilakukan kedua sahabatku. Mereka masing-masing menggenggam tanganku seolah kami bertiga saling menguatkan.

Setelah mereka selesai dengan pihak keluarga, kami menghambur ke pelukan Rudy dan Neisha. Dua sejoli itu kini tidak malu lagi menunjukkan kemesraan di depan semua orang.

"Kenapa mata lo kena asap?" Kepala Rudy meneleng ke Bella yang lagi-lagi mengusap matanya.

Kulihat Dinar sudah akan menoyor kepala Rudy namun tangan Akas lebih cepat menggenggamnya. Nggak lucu kan kalo pengantinnya babak belur karena kami.

"Mata gue tuh sensitif kalo lihat kebahagian begini. Nggak bisa. Pasti langsung berurai air mata." jawab Bella. Tubuhnya menghadap Bimo dan segera saja tisu kembali berada di hadapannya.

Kami bertujuh mengambil posisi lalu salah satu fotografer berbaik hati untuk mengambil beberapa foto kami menggunakan ponselku. Salah satu foto ku upload sebagai story instagram dan foto diriku beserta lainnya kujadikan feed yang langsung mendapatkan emoji love dari Kelvan dan Siska.

Tanpa sadar aku meloloskan nafas gusar. Kelvan tidak bisa hadir karena sedang berada di Makassar jadi aku hanya memutar bola mata setiap pasangan itu dengan sengaja menunjukkan kemesraannya di depanku secara berlebihan.

"Jangan ambilin banyak-banyak, Sayang." Neisha baru saja memberi peringatan ke Rudy yang tadi mengambilkannya lima potong daging.

"Kenapa sih, Sayang? Kita kan butuh energi sampai malam nanti. Makannya yang banyak nggak apa-apa buat hari ini doang," jawab Rudy sambil meremas-remas tangan Neisha.

"Lah cuma sampai malam doang? Sampai pagi dong," timpal Akas yang kemudian mendapat tonjokkan di perutnya dari Dinar.

Dinar mendelik. "Kok kamu yang lebih semangat dan lebih tahu, sih, Sayang?"

"Hitungin duit nikahan maksudnya sampai pagi. Emang apa, sih? Semua orang gitu, kan?"

"Hahah pikirannya udah ke mana-mana."

"Gue sama Bimo selesai resepsi langsung tepar sampai pagi. Nggak sempet tuh ngapa-ngapain karena udah capek. Kalau aja gue bisa tidur pake sanggul, pasti gue lakuin."

"Sayang, kamu ingat nggak tidur munggungin aku sampai pagi?" tanya Bimo. Nada bicaranya sedikit takut.

"Hah? Masa sih, sayang? Aku nggak sadar kayaknya deh saking capeknya. Kok kamu baru ngomong sekarang? Udah berapa tahun kita nikah."

"Sebenarnya aku udah pengen ngomong dari lama tapi lupa dan anggap itu biasa aja. Mumpung ini lagi banyak orang jadi yang ngomong, aku jadi ingat lagi."

Bella menangkup pipi Bimo. Pergerakannya membuatku memutar bola mata. "Ya ampun seriusan? Aku kecapean banget deh tuh. Beneran nggak ada maksud cuekin kamu."

"Nggak apa-apa kok, sayang."

Lalu di depan kami semua mereka berdua menampilkan drama roman picisan yang membuat Rudy dan Neisha pasangan yang baru menikah justru terlupakan.

Aku berdecak. "Eh bisa nggak sih lo semua ngomongnya nggak usah pake sayang-sayang gitu? Kuping gue nih sakit dengarnya."

Ucapanku membuat hampir semuanya terkikik. Neisha menepuk-nepuk pundakku dengan pelan lalu buru-buru ditarik lagi tangannya oleh Rudy untuk dia genggam.

"Sabar ya, Sayang. Pangeran berkuda lo belum bisa keluar istana hari ini." Bella menyentil lenganku pelan "Tuh jangan iri. Gue udah panggil sayang barusan," kelakar Bella kembali yang mengundang gelak tawa.

"Hahah pangeran kuda dong. Semoga pas dia udah bisa keluar istana, dia nggak lupa parkir kudanya di mana," tambah Rudy. Neisha melirik suaminya, berpikir suaminya itu memang tidak bisa diam tanpa melucu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapi lelucon mereka. Tawa mereka tumpah ruah seperti biasa, hangat dan tanpa beban.

"Nggak apa-apa nggak pake kuda asal dia jangan nyasar ke istana orang lain aja."

"Entar malah nyasar ke istana mantan repot, ya," celetuk Akas.

Gelak tawa terdengar lagi. Kini Dinar menepuk bahuku pelan, tangannya menyodorkan gelas tinggi-tinggi. "Cheers dulu deh kita! Buat Rudy dan Neisha dan buat sahabat kita Audrey."

"Kenapa gue juga, sih?"

"Dre, lo tuh patut dirayakan juga."

"Apanya yang dirayakan?"

"Lho ya karena udah dapat pacar, lah."

Aku belum sempat bicara lagi tapi semua orang sudah benar-benar mengangkat gelas. Lalu Bella memaksaku untuk ikut juga. Kami benar-benar bersulang lalu tertawa cekikikan.

Di momen ini mataku mengarah ke mereka satu persatu yang saat ini sudah kembali melajutkan obrolannya. Wajah-wajah bahagia itu kini ada di hadapanku. Jelas dan nyata. Ini bukan sekedar momen bahagia tapi juga momen yang mengaduk perasaanku seperti juga dulu saat Bella menikah. Mataku selalu tanpa sadar basah karena haru yang tidak terucap.

Obrolan mereka bergeser ke hal-hal receh, rencana liburan yang entah kapan jadinya, drama kantor, sampai gosip artis yang entah dari mana asalnya. Aku hanya mendengarkan, sesekali menimpali, tapi lebih sering diam sambil menyerap energi mereka.


KELVAN

Selama kurang lebih sepuluh tahun gue kerja, gue baru pernah izin nggak masuk kerja sekali. Gue jarang sekali sakit dan biasa ambil cuti cuma dua sampai tiga kali saja dalam setahun. Hari ini gue membuatnya jadi dua kali izin. Harusnya gue masih di Makassar sampai hari Rabu, mengawasi pembangunan sebuah gedung multifungsi bersama Gilang dan Bang Rahmat tapi tahu-tahu saja sekarang gue sudah berada di dalam taksi yang akan mengantarkan gue pulang dari bandara ke apartemen. Rencananya gue bakal balik lagi berangkat ke Makassar besok pagi. Nggak ada dua puluh empat jam gue di Jakarta. Udah gila ya gue?

Gue manarik kemeja warna sage dan celana warna beige dari dalam lemari sambil makan roti yang kedua. Gue nggak akan sempat mengisi perut jadi gue cepat saja membeli dua roti tadi di bandara. Nggak ada waktu untuk sekedar rebahan karena gue juga baru sampai tiga puluh menit yang lalu dan sekarang sudah pukul enam tiga puluh yang artinya gue harus cepat berangkat paling lambat setengah jam lagi.

Jika perhitungan gue tepat, gue akan tiba pukul tujuh tiga puluh. Tapi ini Jakarta di mana jalanannya nggak peduli lo lagi buru-buru atau enggak. Gue menepuk pelan setir lalu mengeluarkan napas berat di balik kemudi mobil yang nyaris nggak ada pergerakan sedikitpun sejak lima belas menit yang lalu. Klakson mulai bersahutan dan motor-motor mulai meliuk di antara sela-sela mobil. Memang seperti biasa Jakarta selalu jadi campuran sabar dan emosi.

Gue menurunkan kaca mobil dan melihat diri gue sendiri yang sudah mulai kusut. Demi siapa coba gue begini? Padahal kalau gue sekarang di Makassar gue pasti sedang menikmati kuliner khas di Pantai Losari bersama Gilang dan Bang Rahmat yang udah merencanakan itu sejak kami tiba tiga hari lalu.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan satu jam lebih di jalanan Jakarta yang lebih mirip parkiran akbar ini dan tiga kali umpatan ke pesepeda motor yang seenak jidat motong jalan, gue tiba di lokasi tujuan. Gue pernah ke sini sebelumnya waktu jemput Audrey jadi sudah nggak asing. Parkirannya nggak luas. Tadi gue parkir di bagian luar sesuai arahan petugas. Mereka menggunakan lahan kosong dekat perumahan warga.

Begitu masuk lebih dalam gue baru menyadari venue ini nggak cukup besar untuk menampung banyak tamu. Cocoknya buat yang mau adain intimate wedding. Di area dalam di isi oleh catering, meja dan kursi-kursi yang saat ini sudah banyak terisi oleh orang-orang. Lanjut berjalan ke area luar, melewati pergola yang dihiasi kain, bunga, dan lampu, gue melihat kursi-kursi rotan panjang diatur sedemikian rupa. Kursinya bisa ditempati sekitar enam sampai delapan orang dengan meja panjang di tengah-tengahnya dan hiasan bunga di atasnya. Cahaya lampu gantung yang dipasang dari pohon ke pohon menambah suasana hangat di antara orang-orang yang ikut berbahagia menghadiri pernikahan ini.

Mata gue memicing mencari satu sosok yang buat gue rela terbang dari Makassar ke Jakarta di waktu yang mepet ini. Satu menit, dua menit, gue nggak melihatnya jadi gue putuskan untuk masuk ke dalam antrian orang-orang yang hendak menyalami pengantin. Rudy nampak kaget melihat kehadiran gue begitu gue tiba di hadapannya.

Selesai dengan Rudy, gue beranjak untuk mencari sosok itu. Langkah gue terayun, tubuh gue hampir sama seperti motor-motor yang tadi di jalanan, bergerak di sela-sela orang. Di antara banyaknya obrolan yang berbaur dengan suara penyanyi, gue temukan gelak tawa yang berasal dari sekelompok orang yang sedang duduk di deretan kursi paling ujung. Akas, Dinar, Bimo, Bella dan dua orang paruh baya. Tapi Audrey nggak ada di sana dan nggak tahu kenapa gue harus temukan Audrey dulu. Tatap gue memendar lagi. Nggak mungkin kan Audrey udah balik? Gegayaan mau kasih surprise sih, lo!

Beriringan dengan terdengarnya lagu Can't Help Falling in Love milik Elvis Presley, mata gue menemukan sosok yang dicarinya. Dia berjalan di bawah kilauan lampu gantung, mengenakan gaun yang gue yakin cuma cocok dipakai sama Audrey. Gaun sepanjang lantai itu memiliki lengan panjang yang halus dengan belahan serta bagian leher yang bergaris persegi. Kaki indahnya tersingkap setiap kali dia mengayunkan kakinya.

Gue melangkah dengan pelan namun pasti, menyusuri jalan setapak yang dibuat dari papan kayu dan dihiasi rumput dan bunga. Audrey masih menunduk, memperhatikan langkahnya untuk menghindari gaunnya dari sesuatu yang bisa membuatnya tersandung.

"Oh maaf." Dia mendadak berhenti ketika ujung sepatu gue menyentuh high heelsnya.

Tubuhnya sedikit limbung jadi gue tangkap lengan itu dan dia terkejut. Mata kami bertubrukkan, ekspresinya kaget tapi sedetik kemudian senyumnya terbit. Gue membalas senyum itu, meski jantung gue berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Sentuhan kulitnya di lengan gue terasa hangat, halus, dan anehnya menenangkan. Audrey menarik napas pelan, lalu berdiri tegak kembali.

"Thanks. Refleknya cepat juga ya kamu."

Gue nyengir kecil. "Insting penyelamat. Apalagi kalo yang diselamatin cewek cantik gini," jawab gue, berusaha terdengar santai, padahal otak gue mencoba untuk fokus lagi setelah kulit kami bersentuhan.

Senyum Audrey semakin lebar. Hanya sedetik, tiba-tiba saja dia memukul lengan gue beberapa kali dengan wajah kesal. "Kamu bohong ya bilang nggak bisa datang."

Lihat selengkapnya