I Bet You Love Me

ND
Chapter #15

Senyum yang Tertinggal

AUDREY

Hari itu jam makan siang, aku duduk di sebuah restoran yang baru pertama kali ku datangi, menunggu Dinar yang terlambat hampir lima belas menit padahal restoran ini lebih dekat dari kantornya dibandingkan kantorku. Kulihat lagi buku menu untuk yang kedua kalinya, barangkali pesananku akan berubah setelah melihat-lihat yang kedua kali, namun faktanya aku sudah menutupnya bahkan sebelum mencapai halaman ketiga. Tak lama pintu berderit disertai suara yang familier.

"Sorry lama. Biasalah bos gue rese." Dia nyengir lalu menoleh ke belakang.

Seorang laki-laki muncul di baliknya. Gaya berpakaiannya rapi, potongan rambut pendek dan tatapan mata yang hangat meskipun baru pertama kali bertemu pandang.

"Iya nggak apa-apa." Mataku sempat meliriknya sekilas.

"Lo cuti tapi masih ke kantor tuh gimana ceritanya deh?" Dinar masih mengabaikan pria yang sedang bersamanya.

"Cuma ikut meeting doang terus balik lagi hehehehe."

Dinar menepuk dahinya pelan. " Ya ampun lupa. Nih kenalin," kata Dinar seraya melepas tasnya. "Adjie, teman SD gue. Dia baru pindah ke Jakarta. Baru keterima kerja dia di samping kantor gue. Bisa nih kita maintain traktiran."

Adjie tertawa. Tawanya lepas seperti orang yang bisa akrab cepat dengan siapa saja. Tangannya terulur memperkenalkan diri.

"Hai aku Adjie."

Aku mencoba bersikap biasa. "Audrey."

Kami duduk bertiga. Adjie membiarkan aku dan Dinar mengobrol sedangkan dia nampak menikmati makanannya sambil sesekali memperhatikan kami. Terkadang bergantian, aku yang memperhatikan mereka ketika mereka saling bercerita tentang masa kecil keduanya. Lalu kami bertiga lebur dalam pembicaraan apa saja siang itu.

"Eh udah jam satu lewat. Harus balik gue." Entah disengaja atau tidak tapi Dinar begitu cepat berlalu meninggalkanku dan Adjie berdua di restoran.

Makanan kami sudah habis, harusnya kami juga pergi meninggalkan restoran itu namun satu kalimatnya membuat cerita kami baru saja dimulai.

"Kata Dinar kamu lagi cuti? Jadi nggak buru-buru mau balik, kan?"

Aku ragu-ragu namun akhirnya kepalaku mengangguk juga. Dia tersenyum.

"Aku baru pertama kali ke sini tapi udah langsung suka banget sama menu ini." Adjie menunjukkan piring kosongnya yang tadi terisi salah satu menu pasta. "Entah karena beneran enak atau karena aku makannya bareng kamu, ya."

Lalu restoran itu menjadi tempat favoritku dan Adjie. Sebuah restoran dengan menu makanan khas Italia dan kami hampir selalu memesan menu yang sama setiap kali datang. Red Pesto Penne Pasta, Chicken De Parmesan, dan Rosie Peach Tea. Bahkan aku masih mengingat tiga menu favoritnya.

Mataku menangkap sosoknya yang saat ini sedang duduk di bagian yang biasa kami duduki dulu. Aroma khas basil dan bawang putih tumis memenuhi ruangan, membawaku sejenak ke masa-masa ketika aku dan Adjie bercakap-cakap tanpa henti sambil menunggu makanan datang. Kakiku melangkah ragu, tidak yakin apakah yang aku lakukan ini benar. Menemui Adjie kembali untuk pertama kalinya setelah berkali-kali dia mencoba menghubungiku.

Mungkin benar, mantan itu seperti kenangan yang hidup. Seperti Adjie yang sekarang duduk dengan dua minuman di depannya. Minuman favoritnya, dan Lavenders Blue minuman favoritku. Kenangan hidup yang bisa muncul tiba-tiba walaupun sudah lama sekali berlalu. Dia seperti bab cerita yang sudah selesai namun bedanya aku tidak ingin membacanya ulang melainkan menutupnya rapat-rapat.

"Hai Dre." Adjie bangkit ketika aku sudah berada di hadapannya. "Aku nggak tahu kamu bakal datang atau nggak tapi aku tetap pesan, siapa tahu kamu masih suka yang ini."

Aku menarik kursi pelan, jantungku berdentum lebih keras daripada derit kursi kayu. Aku tidak ingin menatap matanya karena masih ada bagian diriku yang marah. Namun aku tahu wajah itu kini sudah berubah dari terakhir kali kami bertemu. Wajahnya kini sudah kelihatan lebih segar dengan potongan rambut yang sudah kembali rapi dan tidak adanya kantong mata.

"Ini bukan lagi minuman favoritku dan aku yakin kamu tahu pasti apa alasannya," ucapku tajam namun sedikit gemetar sambil menggeser minuman itu ke samping. Sejenak kutatap Lavenders Blue itu, minuman yang dulu sangat familier namun sekarang terasa sangat asing.

Wajah Adjie nampak kecewa tapi lalu segera dia gantikan dengan senyum tipis. "Kamu apa kabar?"

"Sangat baik dan akan lebih baik lagi kalau kamu bisa merangkum apa yang mau kamu sampaikan nggak lebih dari sepuluh menit. Mulai dari sekarang."

Adjie menelan salivanya. Jelas sekali dia tidak menyangka pertemuan kami akan seperti ini. Bahunya yang tadi tegak kini turun. Sedikit senyumnya kini benar-benar tidak ada lagi digantikan dengan raut wajah yang kalau boleh kuartikan sebagai penyesalan.

"Aku udah lama sebenarnya ingin bicara sama kamu tapi aku paham kamu pasti nggak akan mau ketemu aku lagi. Dalam dua tahun itu aku udah beberapa kali ke Jakarta, mencoba cari tahu tentang kamu. Aku pengen banget ketemu kamu lagi. Bicara tentang hari setelah itu."

"Apa sih sebenarnya yang mau kamu sampaikan? Aku nggak ingin kita balik ke sana lagi, Djie. Semuanya udah selesai."

"Dia keguguran, Dre."

Satu kata itu mampu membuat hatiku terketuk. Bukan kasihan pada Adjie. Sama sekali bukan, tapi pada perempuan itu yang meskipun telah menyakiti aku tapi dia tetap perempuan yang pasti akan sangat terpukul kehilangan buah cintanya, separuh jiwanya.

"Dia keguguran beberapa hari setelah pertengkaran kita waktu itu."

Aku terkesiap. Hening. Hening yang sangat lama buatku karena aku tidak tahu harus memberikan komentar apa.

Lihat selengkapnya