KELVAN
Gue punya teori yang mendukung kalau cinta pada pandangan pertama itu nggak ada. Ibaratnya kayak kembang api. Kembang api itu bukan tiba-tiba meledak di langit, tapi lo nyalain dulu, lo jagain biar dia nggak padam dan darr dia bisa meledak. Sama seperti gue dan Audrey. Saat gue melihatnya gue memang tertarik, tapi belum ada perasaan meletup-letup yang bikin gue mabuk sesaat. Semua itu ada alurnya.
Meskipun kami di pertemukan lewat yang katanya perjodohan tapi kami nggak lantas takluk begitu aja. Mungkin ada andil Bram juga sih, dengan taruhan konyolnya itu. Tapi gue udah masa bodo sama taruhan itu. Semua perhatian yang gue curahkan ke dia, semua waktu yang gue habiskan untuk mencoba mengerti dirinya berubah jadi benar-benar tulus. Nggak ada lagi niat membuktikan apapun—gue cuma ingin dia dan semua orang tahu kalau perasaan ini nyata.
Gue ingat awal-awal pertemuan kami justru diisi dengan banyak perdebatan. Audrey lebih sering menghindar dan cuek banget setiap kali gue perhatian ke dia. Tapi dari situ justru muncul rasa penasaran kecil yang nggak berisik. Lalu rasa penasaran itu yang mendorong gue untuk tetap berusaha mengenal dia.
Hari demi hari sampai dia mengizinkan gue masuk, lalu kami akhirnya terbiasa dan hanya mengikuti arusnya. Seperti sungai kecil yang mengalir pelan tapi alirannya tetap bisa mengikis tebing. Seperti hujan sore yang cuma rintik-rintik tapi kalau kelamaan ya tetap bikin basah. Sampai gue nggak lagi cuma kenal Audrey, tapi gue mulai memilihnya. Bukan karena dipaksa lewat perjodohan tapi karena setiap langkah yang gue ambil bersamanya selalu membuat gue membayangkan hidup dengan dia.
Dan kalau ditanya sejak kapan gue tahu gue jatuh cinta sama Audrey, gue juga nggak tahu sejak kapan. Mungkin cinta sudah tumbuh saat pertama kali gue menjemput dia, saat gue terima ajakan taruhan konyol, saat gue jauh dari dia dan menemukan diri gue menatap ponsel sambil senyum-senyum membaca chattingan kami secara berulang-ulang. Bisa jadi saat gue jengkel melihatnya cuma sekedar ngobrol dengan laki-laki lain tapi gue belum sadar, tumbuh di sela-sela ciuman pertama kami di mobil, obrolan serius kami di apartemen gue, mungkin juga baru kemarin saat Audrey dengan berani mengantar gue pulang dan membuatkan gue secangkir kopi yang katanya ada campuran ancaman dan cinta itu.
Atau mungkin karena gue nggak jatuh cinta tapi gue berjalan bareng dia menemukan cinta itu dan gue memutuskan untuk mengambil langkah demi langkah untuk sampai di sana.
Gue tersenyum getir membaca pesan terakhir dari dia. Iya getir, karena gue kembali diingatkan akan kebodohan gue selama ini. Ada yang perlu dibereskan. Beberapa hal perlu dijelaskan. Terlebih lagi banyak yang ingin gue ungkapkan ke dia. Tapi sialnya kami sedang dipisahkan oleh pulau dan gue nggak tahu kapan bisa balik ke Jakarta. Yang pasti nggak dalam waktu dekat ini dan itu yang membuat gue rungsing dari tadi.
Siang ini matahari terik banget sampai bikin kepala gue pusing. Teriknya memantul di permukaan kaca yang baru terpasang di lantai sepuluh bikin kayak lagi ditusuk-tusuk. Belum lagi helm yang terpasang rapat dan blueprint di tangan gue udah lecek karena sering dibuka tutup.
"Buset di sini panasnya udah kayak kita lagi di panggangan sate." Bang Rahmat nyeletuk sambil mengibaskan kerah bajunya yang sudah basah.
"Van, ini kayaknya jarak antar kolomnya ada yang meleset dua sentimeter," ujar Gilang dengan suara keras, sambil menunjuk ke arah salah satu rangka baja yang menjulang. Suara kami memang harus keras untuk mengalahkan bising mesin di belakang.
Gue menghela napas lagi entah untuk yang keberapa kali. Padahal yang kayak gini-gini udah biasa gue temukan tapi hari ini semua kelihatan lebih kacau aja. Kayak semua yang berjalan selalu ada aja salahnya. Gue melihat gambar kerja. "Kita harus benerin sekarang sebelum lanjut."
Kami bertiga bergerak cepat, melangkah mantap di atas permukaan beton yang masih berdebu. Di bawah sana, suara benturan besi, teriakan instruksi, dan desiran angin bercampur menjadi satu. Keringat gue udah kayak air yang ngalir dari pelipis, nyaris bikin kertas di tangan gue basah. Sesekali gue melirik ke arah ke bawah, di tempat lain, di balik cakrawala, entah lagi hujan atau panas, tempat di mana perempuan yang gue pikirkan selama ini berada.
Kelamaan mikir yang lain sambil kerja, membuat gue ngerasa perut gue agak mual. Bukan cuma karena matahari yang lagi menggoreng kepala gue, tapi lebih ke isi kepala gue yang udah penuh sama kata-kata yang pengen banget gue sampein ke dia. Tapi di sini, gue cuma bisa nahan dan sibuk sama baja, beton, dan garis-garis hitam di kertas ini. Nggak lama desakan di perut gue udah nggak tertahankan, jadi gue sempat berhenti sebentar, meminum air dari botol yang udah hangat karena kena matahari lalu lanjut lagi setelah lima belas menit.
Menjelang sore, cahaya matahari mulai condong ke barat. Udara di lantai sepuluh sedikit lebih ramah, walaupun sisa panas masih memantul dari beton. Gue menoleh ke Gilang, dia ngasih tanda jempol dari seberang, Bang Rahmat nyusul sambil bawa meteran.
"Udah sesuai semua. Rapi. Balik yok balik!"