I Bet You Love Me

ND
Chapter #17

Sibuk Merangcang Sibuk Menyembunyikan

AUDREY

Sabtu pagi di venue yang sama seperti Minggu lalu tapi untuk acara berbeda. Aku dan tim sudah berada di sini dari pukul lima pagi. Hanya lima jam berselang setelah sebelumnya kami sudah sibuk di sini sampai pukul dua belas malam. Terlalu pagi menurut yang lain karena acara baru mulai jam sepuluh tapi Mas Ezra tidak bisa dibantah. Dengan mata terkantuk-kantuk aku menyuapkan roti panggang buatan mama di depan panggung yang saat ini sedang dicek oleh beberapa orang crew laki-laki.

"Gila mata gue masih belekan tapi harus udah di sini." Ivan mengeluh sambil menggeret-geret kursi ke atas panggung. Matanya yang sudah sipit nampak semakin sipit saja.

"Dih nggak mandi ya lo. Pantes dari tadi ada bau apa gitu." Rania melewatinya sambil menutup hidung lalu berlari ketika Ivan hendak mengejarnya.

Aku hanya geleng-geleng kepala lalu mulai memasang earpeace di telinga sambil bergerak ke semua area mulai dari pintu pertama masuk yang dipenuhi balon-balon, panggung sampai ke mini playground untuk anak-anak. Tanganku sibuk menandai beberapa catatan di clipboard: posisi dekorasi yang kurang rapi, kabel sound system yang terlalu terlihat, sampai peletakan booth produk yang harus sedikit digeser. Semua masih aman sampai aku menerima laporan kami kekurangan cukup banyak painting kit untuk kegiatan anak-anak melukis nanti.

Menjelang pukul tujuh Mas Ezra datang. Dia langsung mondar-mandir dengan clipboard di tangan, sesekali berhenti untuk memberi catatan kepada vendor dekorasi. Wajahnya serius seperti biasa, seolah kalau bunga meja bergeser setengah sentimeter saja, seluruh konsep acara bisa runtuh.

Ketika hari mulai terang dan beberapa tamu penting telah berada di ruang VIP, aku ikut mendampingi salah seorang timku yang sedang memberikan arahan. Nadya Pramesthi bersama anaknya duduk di sofa, keduanya mengenakan pakaian berwarna biru muda sesuai dengan warna brand kami. Dengan perasaan dag dig dug aku segera mengecek rundown acara bersama MC, mengadakan briefing singkat dengan tim media sosial dan videographer. Sambil mendengarkan MC, tanganku tetap sibuk membalas pesan-pesan di grup. .Ini bukan kali pertama aku melakukannya namun saat hari H aku tetap saja terserang gugup.

Tepat jam sepuluh ketika MC baru memulai acara, suasana sudah cukup riuh dengan anak-anak yang memadati area. Mereka tidak ada yang bertahan lama bersama ibunya karena area playground yang kami sediakan terlihat lebih menarik. Kebanyakan dari mereka datang dengan pengasuh jadi ibu-ibu mereka bisa cukup tenang selama mengikuti acara nanti.

Berikutnya suasana lebih riuh lagi karena Nadya Pramesthi berjalan bersama anaknya memasuki area setelah MC memperkenalkannya sebagai brand ambassador. Sambutannya sangat meriah berupa tepuk tangan, teriakan, sampai ucapan para ibu-ibu yang terkagum-kagum dengan keduanya. Anaknya nampak sangat lucu ketika tangannya melambai-lambai ke semua orang yang menyambutnya.

Merasa semua sedang berjalan sebagai mana mestinya, aku pindah berdiri di salah satu sudut memperhatikan jalannya acara sambil tetap fokus dengan earpiece yang terus berbisik di telinga. Cuaca akhir-akhir ini sering tidak menentu tapi untungnya saat ini terasa sedikit adem.

Semua bertepuk tangan ketika video peluncuran selesai lalu testimoni dari brand ambassador. Para influencer juga sudah mulai membagikan konten real-live di Instagram mereka. Aku bernafas lega setiap kali satu sesi selesai lalu berganti ke sesi berikutnya. Senyumku rekah ketika acara yang berlangsung kurang lebih tiga jam itu sudah memasuki sesi terakhir. Nampak para ibu-ibu influencer mulai berbaur untuk sekedar foto bersama ataupun networking.

Aku meraih air mineral yang tadi disodorkan Rania, meminumnya sedikit sebelum melihat kerumunan media kini bersiap untuk mewawancarai Nadya Pramesthi dan Mas Ezra. Rania dan Ivan dengan sigap mendampingi mereka. Sesekali mencoba menenangkan anaknya yang nampak sudah mulai kurang nyaman.

Mataku lanjut menyapu keseluruhan area. Beberapa anak berlari-larian keluar area playground sampai kulihat bocah laki-laki yang beberapa waktu lalu menggagalkan rencanaku ke pameran buku kini berlari kencang ke arahku. Di belakang ada ibunya yang geleng-geleng kepala sambil mencoba meraih bajunya namun tidak berhasil.

"Tante Audrey." Zavier langsung menghambur ke pelukanku. Tubuhnya cukup berkeringat namun masih tetap wangi khas bayi.

"Hai. Seru nggak?" Aku bertanya dengan antusias.

"Seru banget. Tadi aku ngelukis."

"Wah pasti bagus."

"Aku masih mau main tapi di sana rame banget. Banyak anak kecil." Zavier mengerucutkan bibirnya. Aku tersenyum mendengar ocehan anak berumur empat tahun yang menganggap dirinya bukan anak kecil lagi.

"Makasih ya udah datang," kataku kepada Siska.

Siska menggamit lengan Zavier agar berpindah ke sampingnya lalu dia memelukku. "Ih aku yang berterima kasih ke kamu karena udah undang aku dan Zavier ke sini. Aku senang banget. Dan ini acaranya keren. Produknya juga bagus buat kulit sensitif, Dre. Zavier cocok pakainya."

"Wah Syukur kalau begitu. Udah dapat testimoni nih."

"Pokoknya kalau produknya memang bagus pasti bakalan aku rekomendasikan."

Setelahnya Zavier sudah berlari lagi membuat Siska dengan enggan mengakhiri perbincangan kami. Aku pun segera beralih ke tugas-tugas yang lain sampai tiba waktunya kami baru sempat menikmati makan siang yang terlambat di jam tiga sore. Hari itu rasanya makanan yang kami nikmati menjadi berkali-kali lipat lebih lezat karena selesainya acara launching produk hari ini dengan lancar. Mas Ezra menyalami kami semua, mengambil foto bersama namun tidak lupa dengan briefing singkat tentang kegiatan pasca event.

Kami mulai bergerak lagi membereskan sisa-sisa acara sampai sore mulai merambat pelan. Sisa-sisa riuh anak-anak masih terasa dari balon yang kini mulai kempis dan kertas warna-warni yang tercecer di sudut ruangan. Kru dekorasi sibuk menurunkan backdrop di sana-sini sementara timku sudah separuh kelelahan mengemasi peralatan. Aku sendiri duduk sebentar di salah satu kursi baris belakang, merasakan pegal di kaki setelah hampir seharian mondar-mandir. Jemariku refleks membuka catatan di ponsel, menuliskan poin-poin evaluasi kecil yang harus kubahas di meeting berikutnya.

Di tengah orang-orang yang sibuk berlalu lalang dan mataku yang menyapu ke sekeliling area, aku menemukan beberapa sosok yang kukenali berada di dekat pintu keluar. Nadya, Siska, dan Rafi sedang berbicara sedangkan Zavier sibuk sendiri memainkan balon sisa acara.

Sungguh suatu kebetulan dua orang yang kukenal juga ternyata mengenal Nadya Pramesthi. Bukan kenal sebatas tahu di media sosial tapi ketiganya benar-benar sedang mengobrol. Ekspresi mereka serius, jauh dari kesan ramah yang selama ini kutahu. Mereka bicara dengan nada rendah namun intens. Sepertinya juga bukan percakapan yang menyenangkan jika dilihat dari cara Sika melipat lengan di dada. Lalu entah apa alasannya tapi rasa ingin maju menghampiri mereka begitu mendesak. Kakiku sudah akan melangkah kalau saja suara Mas Ezra tidak memanggil tim untuk briefing terakhir.

Lihat selengkapnya