I Bet You Love Me

ND
Chapter #18

Teka-Teki

AUDREY

Selasa pagi, ruang meeting kantor terasa lebih dingin dari biasanya. Entah karena pendingin ruangan yang dipasang terlalu rendah atau karena suasana serius yang sudah terbentuk sejak Mas Ezra duduk di ujung meja dengan laptop terbuka.

Aku, Rania, dan Ivan masuk hampir bersamaan, masih membawa kantong mata yang belum sempat hilang walaupun sudah dua hari pasca acara itu. Sisa lelah masih terasa, tapi harus kami lawan karena hari ini waktunya evaluasi resmi.

"Pagi," sapa Mas Ezra singkat, tanpa banyak basa-basi. "Kita langsung mulai, ya."

Aku segera membuka laptopku, menyiapkan file catatan dari acara. Ivan dengan malas menyalakan tablet, lalu menguap panjang tanpa berusaha menutupinya. Rania sibuk menuang kopi ke dalam cangkir kertas tapi dengan gerakan slow motion, seperti sengaja memperpanjang ritual itu. Beberapa orang dari tim lain juga nampaknya masih kelelahan. Mata Mas Ezra memperhatikan kami satu persatu, kepalanya menggeleng sampai akhirnya dia menyuruhkan jadi yang pertama melaporkan evaluasi acara kemarin.

Aku menampilkan slide di layar proyektor. Grafik engagement sosial media muncul, lengkap dengan angka interaksi. "Total impression di Instagram mencapai hampir dua kali lipat dari target. Video launching sudah diputar lebih dari seratus ribu kali dalam 24 jam."

Lalu berikutnya laporan-laporan dari bagian lain yang sesekali ditambahi, dikomentari dan dikritisi. Tidak ada senyum di wajah Mas Ezra. Tangannya yang tadi bertengger di dagu kini diturunkan lalu tatapannya tegas menyapu kami semua yang berada di ruangan. "Jangan senang dulu. Yang perlu diperhatikan, post-event content jangan berhenti di situ. Kita butuh minimal tiga minggu sustain. Jadi siapkan kalender konten: testimoni, behind the scene, tips dari brand ambassador, semua harus jalan."

Aku mencatat sambil mengangguk. Meski sebagian besar bahasannya sudah kami obrolkan kemarin, nuansa rapat pagi ini jelas berbeda. Lebih formal, lebih strategis. Mas Ezra menutup laptopnya setelah hampir satu jam membahas poin-poin detail. Dia keluar, menyisakan kami bertiga yang masih duduk santai di ruang meeting menunggu kopi yang baru saja dipesan lagi lewat pantry sambil membuat kalender konten yang harus sudah selesai sore nanti.

Suasana sempat hening sampai Rania tiba-tiba bersuara pelan, "Eh... kalian sempat lihat nggak gosip yang rame di Lambe kemarin malem?"

Aku mengernyit. "Gosip apa lagi?"

"Nadya Pramesthi," jawab Rania cepat. Suaranya diturunkan kembali, seolah takut ada yang menguping. "Gosip dia sekarang naik lagi nih. Masih lanjut ternyata tentang siapa bapak dari anaknya Ada di mana-mana beritanya."

Ivan langsung menegakkan duduknya. "Iya rame lagi tuh. Foto-foto lain mulai bermunculan. Bapak dari anaknya. Netizen indo mantap banget dah emang. Udah kayak FBI. Padahal itu Nadya udah jadi ibu muda sukses, bahagia sama anaknya eh gosip begini muncul lagi."

"Iya fotonya tapi nggak ada yang jelas anjir. Gue penasaran banget ini. Terus si Nadya sampai sekarang juga nggak kelihaan dekat sama siapapun, ya. Santai aja dia hadapi beginian."

Ivan membuka ponselnya, memperlihatkan sekilas tangkapan layar komentar netizen.

"Nih, rame lagi. Ada yang bilang bapaknya anak itu sebenarnya salah satu pengusaha muda. Ada juga yang nuduh artis yang dulu pernah dekat sama dia. Ada juga yang bilang dari kalangan biasa. Intinya spekulasi liar aja sih, tapi kebayang kan, kalau sampai makin melebar? Kenapa dia nggak klarifikasi aja, sih. Kan cepat beres."

Aku terdiam sebentar. Hati kecilku sedikit tidak nyaman mendengar itu. Sebagai bagian dari tim event yang baru saja bekerja keras bersama Nadya, aku tahu betul betapa dia tampil profesional sepanjang acara. Tapi gosip seperti ini memang gampang sekali menyebar.

"Netizen tuh ya, nggak pernah puas. Mau Nadya kerja bagaimanapun tetap aja yang dibahas soal pribadinya. Padahal anaknya lucu banget, kemarin juga ramah banget sama semua orang." Aku akhirnya ikut bersuara.

Rania mengangkat bahu. "Ya gimana. Publik selalu pengen tahu yang nggak kelihatan. Semakin dia tutup rapat-rapat soal bapaknya anak itu, semakin penasaran orang. Kalo nggak dibantah berarti salah satu dugaan itu benar dong."

Ketika pesanan kopi kami datang, rasa ingin tahu masih menggantung di kepala masing-masing. Ivan mengangkat alis, mencondongkan tubuhnya ke meja dengan ponselnya yang masih menyala kemudian jari-jari tangannya sibuk bergerak dengan gerakan yang diulang-ulang. Rania meliriknya, tidak bisa berkonsentrasi.

Lihat selengkapnya