I Bet You Love Me

ND
Chapter #19

Firasat

AUDREY

Teman-temanku bilang sekarang aku punya kebiasaan baru. Kupikir-pikir ada benarnya juga. Bukan lagi soal bangun pagi, kerja, pulang, tidur, tapi tentang kapan sinyalnya bagus, kapan jam kerja Kelvan selesai, dan kapan video call bisa nyambung tanpa putus.

LDR itu rada aneh. Kadang kami bisa ngobrol dua jam penuh, ketawa, saling ejek, bahas hal remeh kayak rasa mie instan favorit sampai ke film atau serial yang lagi trending. Tapi di lain waktu, hati bisa jadi tidak karuan gara-gara satu pesan yang lama di balas. Aku tahu sekarang bahwa jarak bukan cuma soal kilometer. Kadang jarak itu terasa di jeda pesan, di menit-menit menunggu, di notifikasi yang kita nanti-nantikan tapi ternyata cuma sekedar pesan pendek.

Ada momen-momen kecil yang hanya dimengerti sama orang yang sedang berjauhan. Kayak ketika aku bangun pagi dan sudah ada pesan dari Kelvan. Atau ketika dia mengirimkan foto pemandangan matahari terbenam dari lokasi proyeknya. Hal-hal kecil seperti itu tapi rasanya berarti sekali untuk pasangan yang sedang LDR.

Jika kami sama-sama sedang ada waktu, aku akan duduk di meja yang sama menatap layar ponsel yang menampilkan wajahnya. Suara jangkrik, lampu redup, dan sinyal yang naik-turun sudah jadi latar rutin kami. Lucunya terkadang kami hanya saling diam, tapi diamnya tidak kosong. Meskipun jauh tapi tetap ada kehangatan yang datang dari sekadar tahu— dia di sana, aku di sini, tapi kita tetap saling ada satu sama lain.

Aku mulai terbiasa menunggu. Menunggu sinyal bagus, menunggu kabar, menunggu foto kirimannya. Aku membayangkan jarak ini seperti jembatan panjang yang belum selesai dibangun. Kami berdua berada di ujung yang berbeda, sama-sama bekerja keras supaya bisa bertemu di tengah.

***

KELVAN

Malam sudah beranjak larut. Beda dengan suasana tiap pagi di lokasi proyek di mana suara mesin pemotong baja hampir nggak pernah berhenti, tukang yang teriak minta alat, dan aroma kopi sachet yang udah jadi parfum wajib di udara. Tengah malam di luar kos, suara serangga bersahut-sahutan, jam segini lampu-lampu di kos kebanyakan sudah padam. Gue masih duduk di ranjang, punggung bersandar ke tembok dingin, lampu agak redup, sambil ngetik sesuatu di ponsel.

Sinyal di sini kadang ngeselin— bisa kadang lemot, putus-nyambung, kayak hubungan yang nggak jelas arahnya. Tapi malam ini, entah kenapa gue maksa buat coba video call lagi. Tiga kali nada tunggu, dan akhirnya wajah Audrey muncul di layar. Rambutnya diikat tinggi, pakai kaca mata, wajahnya polos tanpa make up, cuma cahaya lampu yang bikin kulitnya kelihatan hangat.

"Finally," katanya pelan, separuh senyum.

Gue jadi ikut tersenyum. "Ini kamu lagi di mana?"

Audrey mengganti tampilan layarnya. Terlihat oleh gue dia sedang berada di dapur. Kompor menyala, ada panci kecil di atasnya. Wajahnya kelihatan lagi. Dia berjalan. Sepertinya ke meja makan lalu meletakkan ponselnya.

"Bentar ya." Tubuhnya menjauh dan gue hampir mengumpat.

Kenapa ya Audrey selalu kelihatan memukau kalau lagi di dapur? Padahal dia cuma pakai daster Bali motif tiedye tapi kalau dia yang pakai rasanya kayak lihat iklan sabun cuci piring versi paling elegan di dunia. Gue nyengir sendiri, nggak ngerti kenapa hal sesederhana itu bisa bikin gue betah nunggu di layar.

Audrey masih membelakangi. Dia mengambil mangkok dan menuang apa yang tadi dia masak lalu dibawa ke meja. Gerakannya hati-hati dan gue malah senyum-senyum lihatnya. Selalu kayak gitu, senyum-senyum tanpa alasan yang jelas.

"Ih kenapa senyum-senyum gitu?" Suaranya sekarang sudah terdengar lagi.

"Cuma mengagumi karya seni."

Audrey mengangkat alisnya. Gue buru-buru koreksi. "Lupain deng. Itu kamu masak apa jam segini?"

"Indomie kuah rasa ayam spesial pakai telor dua terus sawi yang banyak."

"Haduh indomie tuh godaan banget jam segini." Padahal gue pengen bilang yang sebenarnya godaan tuh dia jam segini gue lihat di dapur pakai daster begitu. Tapi gue tahan. Kadang perasaan nggak perlu selalu diucapin, cukup disimpan biar nggak ketahuan seberapa parah lo jatuh.

"Laper banget aku," katanya lagi sambil mengaduk mienya perlahan.

"Loh kamu baru makan emang?"

Audrey menggeleng. "Laper lagi maksudnya hehehe. Nggak ada makanan lain selain indomie. Lagi nggak ada orang juga di rumah. Nggak ada yang masak."

"Mama kamu nggak masak?"

"Papa kerja ke Malang. Terus mama ikut nemenin. Ada acara keluarga juga di sana. Seminggu kayaknya deh."

"Duh aku pulang aja kali, ya? Mumpung mama papa kamu lagi nggak ada."

Audrey melotot. "Heh mau ngapain tuh maksudnya?"

"Lho ya nemenin kamu. Dari pada sendirian, kan." Gue mengedip jahil. Audrey hanya mendelik lalu kembali menyuapkan sesendok kuah mie ke mulutnya.

"Kamu mau kayak gitu juga nggak nanti? Nemenin aku kalau ada kerjaan di luar kota."

Audrey terbatuk-batuk. Dia langsung menatap layar dengan ekspresi setengah kaget setengah malu. "Eh—apaan sih? " suaranya agak serak karena batuk.

Gue ngakak pelan. "Lho, nanya doang kok. Masa batuknya sampai begitu."

Lihat selengkapnya