AUDREY
Dua hari setelahnya Nadya datang ke kantor untuk kembali membahas rencana gathering bareng komunitas yang akan diadakan bulan depan. Hari itu suasana kantor cukup ramai. Beberapa tim sedang mempersiapkan konsep untuk campaign baru, sementara aku sendiri di ruang meeting bersama Nadya— ruang yang tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk dua orang.
Begitu tadi pintu terbuka, Nadya masuk dengan senyum yang sama seperti biasa. Tenang, rapi, dan terkendali. Tapi entah kenapa, melihatnya lagi membuat sesuatu di dadaku menegang tanpa alasan yang jelas. Dia tersenyum seperti biasa tapi entah kenapa itu justru membuatku tidak nyaman. Senyum itu terlalu ringan untuk seseorang yang menyimpan begitu banyak gosip di sekelilingnya.
Dia duduk di kursi seberangku, menaruh tas tangan kecil di samping dan sebotol air mineral. Aku menunduk sedikit, berpura-pura sibuk membuka file di laptop, tapi mataku sempat menangkap detail kecil. Jemarinya mengetuk pelan meja, kebiasaan yang kulihat juga waktu dia mendengar nama Kelvan tiga hari lalu. Kini semuanya terasa seperti puzzle yang berantakan bagiku.
Aku segera memulai pembahasan rundown acara. "Untuk gathering nanti, kita rencananya bikin suasana semi talkshow aja, ya, Mbak. Santai tapi tetap intimate. Bisa sharing soal parenting dan self-care."
Nadya mengangguk, memperhatikan dengan saksama. "Kayaknya seru. Aku suka konsepnya. Tapi mungkin nanti aku bawa Mikayla juga, biar suasananya lebih natural. Ada siapa lagi?"
"Ada dokter spesialis anak, Mbak. Mereka bisa sedikit konsultasi."
"Sip."
Setelahnya kami mulai membahas lebih detail rundown acara sampai ke hal teknis lainnya. Nadya memperhatikan dengan hati-hati namun aku dapat menangkap gelagatnya yang agak resah setiap kali dia melihat ponselnya. Pandanganku kabur sesaat, sementara tanganku menulis catatan di buku, padahal aku bahkan tak tahu apa yang kutulis. Yang aku tahu setiap kali dia melihat ponselnya, jemarinya menggenggam terlalu erat. Ada sesuatu di sana. Aku tahu.
"Mbak Nadya mau minum kopi atau teh? Aku ambilkan ya sekalian mau cetak materinya." Tanyaku dengan sengaja. Mungkin Nadya butuh waktu beberapa menit untuk sendiri. Mungkin aku juga.
Nadya mendongak. Wajahnya terlihat bingung dan agak kaget namun akhirnya tersenyum seperti lega. "Kopi boleh banget. Terima kasih, ya."
Aku bergegas keluar ruangan, menuju meja Rania dan menyuruhnya untuk mencetak beberapa lembar materi lalu lanjut berjalan ke pantry untuk membuatkan Nadya kopi.
Langkahku gontai. Pergerakanku sedikit melambat karena tubuhku tiba-tiba saja sedikit menggigil dan nyeri di beberapa bagian. Aku rapatkan jaketku lalu mengusap-usapkan kedua tangan, berharap bisa sedikit menghangatkan tubuh. Kurasa aku akan jatuh sakit karena dari pagi tubuhku seperti memberi sinyal untuk tidak melakukan pekerjaan meskipun tidak demam. Aku memaksa masuk sambil berharap vitamin yang kuminum akan membuatku bertahan paling tidak hari ini.
Aku berdiri di depan mesin kopi sambil memperhatikan cairan hitam yang menetes perlahan. Aroma kopi baru diseduh biasanya menenangkan, tapi kali ini rasanya tidak seperti biasa. Aku menatap cairan itu jatuh setetes demi setetes, seolah tiap tetes adalah waktu yang menenggelamkanku lebih dalam pada perasaan aneh yang tak bisa kusebutkan.
Ketika langit di luar sana semakin muram, aku melirik jam di ponsel. Sudah hampir jam lima sore yang artinya aku sudah meninggalkannya cukup lama. Kupikir aku akan kembali ke ruang meeting sekarang.
Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, samar-samar terdengar suara Nadya. Bukan nada suaranya yang biasa tenang dan terkendali, kali ini terdengar lebih terburu-buru dan berbisik.
"Aku pikir baiknya kita ketemu."
Diam sejenak. Lalu, "Aku minta maaf atas segala pemberitaan belakangan ini. Aku janji akan aku bereskan."
Ayahnya Mikayla muncul pertama di pikiranku. Jika benar, ini terlalu pribadi untuk didengar oleh orang yang bukan siapa-siapa jadi aku berniat untuk kembali saja nanti. Tanganku sudah akan menarik pintu sampai suara Nadya kembali terdengar di telingaku.
"Demi Tuhan Kelvan..."
Aku mematung. Nama itu menamparku keras-keras.
"Aku cuma butuh kamu buat bantu aku membangun rumah impian aku. Aku benar-benar nggak ada maksud apa-apa. Aku nggak ingin arsitek lain. Aku kurang suka. Kamu tahu seleraku kan."
Hening kembali.
"Aku akan jauhkan Mikayla dari kamu kalau kamu khawatir. Kamu akan aman dari ini semua dan bisa tetap lanjutkan hidup kamu tanpa aku dan Mikayla."
Napasku mulai memburu dan dadaku terasa sesak.
"Jadi kapan kamu balik dari Makassar?"
Aku hampir menjatuhkan cangkir di tanganku. Beberapa kata itu. Kelvan, arsitek, Makassar. Dunia di sekitarku terasa berhenti.
"Oke. Nanti malam aku bakal ke apartemen kamu. Habis meeting ini selesai aku langsung ke sana. Jangan di luar. Aku nggak bisa. Aku bakal hati-hati."
Suara itu seperti paku terakhir yang menembus dadaku.
Aku melangkah mundur dan menutup pintu. Tanganku gemetar hebat. Cairan kopi di dalam cangkir ikut bergoyang, hampir tumpah. Aku buru-buru meletakkannya di meja Rania dan menyuruhnya untuk melanjutkan meeting dengan Nadya. Suaraku ikut bergetar. Rania nampak bingung dan khawatir namun kuabaikan. Aku menggenggam ponselku erat-erat lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
Koridor terasa terlalu panjang. Napasku terlalu cepat. Udara terlalu dingin untuk tubuhku yang sedang menggigil. Setiap langkah seperti menarik serpihan kaca di dada. Begitu sampai di toilet lantai atas, aku masuk ke salah satu bilik dan menutup pintu rapat-rapat. Aku jatuh terduduk di lantai, punggung bersandar ke dinding dingin. Air mata keluar tanpa peringatan.