I Bet You Love Me

ND
Chapter #21

Sweet Lies

AUDREY

Kamu tahu kalau dalam suatu hubungan rasa sayang itu terkadang bisa menjadi racun? Racun yang manis. Dan apa hal negatif dari rasa sayang yang terlalu besar? Seseorang jadi mengabaikan logika, peringatan, bahkan hal-hal yang seharusnya menjadi pertimbangan penting. Semua itu seperti selubung tebal yang menutupi tanda bahaya. Dan meskipun kamu dapat sedikit merasakannya, kamu terlalu bebal untuk berkata ini tidak baik-baik saja.

Situasi ini. Untuk kedua kalinya. Aku jatuh ke lubang yang sama. Lubang yang terasa familier. Seperti de javu. Dua tahun lalu aku juga melakukan hal yang sama seperti ini, tapi kali ini entah mengapa rasanya jauh lebih sakit. Anehnya meskipun Kelvan sudah menjelaskan dan aku tahu dia tidak berbohong, rasanya perasaanku tetap sakit.

"Dre, aku bersumpah Mikayla bukan anak aku. Hubungan kami berakhir saat aku tahu dia hamil dengan laki-laki lain. Foto-foto yang beredar itu memang benar aku. Aku beberapa kali antar dia ke rumah sakit karena dia nggak punya siapa-siapa lagi saat itu. Aku cuma nggak bisa ninggalin dia dalam keadaan seperti itu, Dre," ucap Kelvan dengan nada putus asa, seperti seseorang yang sudah berlari terlalu jauh dan kehabisan napas.

Di matanya aku bisa melihat kejujuran namun kejujuran ternyata bisa terasa sangat menghancurkan daripada sekedar kebohongan.

Aku menarik napas panjang. Hatiku bergetar. Kata-katanya masuk ke telingaku, tapi tidak sepenuhnya masuk ke hati. Aku ingin percaya, sungguh. Tapi di antara cinta dan luka, selalu ada ruang kecil untuk ragu. "Apa pernah terlintas di benak kamu untuk menggantikan laki-laki itu? Bagaimana pun kamu pasti masih punya perasaan ke Nadya, Van."

Kelvan tidak langsung menjawab. Dia hanya menjatuhkan tubuhnya di kursi dan menutup wajah. Tanpa sadar air mata kembali menggenang di pelupuk mataku. Aku rasa aku tahu jawabannya dan itu membuatku sedikit sesak.

Sampai akhirnya Kelvan mengangguk samar. "Aku nungguin dia di rumah sakit pada saat Mikayla lahir. Beberapa jam setelah Nadya sadar, aku sempat bilang aku bersedia menikahi dia dan bertanggung jawab atas anaknya."

Satu tetes air mataku mengalir. Punggungku terasa berat. Jantungku seperti diremas. Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari yang kubayangkan.

"Jadi kamu pernah siap menikahi orang lain... demi sesuatu yang bahkan bukan milik kamu? Cinta kamu besar banget, ya."

Kelvan menunduk. "Saat itu rasa cintaku ke Nadya nggak gampang hilang gitu aja meskipun dia sudah berkhianat, Dre. Perasaanku saat itu memang tulus tapi juga orang lain menganggapnya aku terlalu bodoh. Dibutakan sama perasaan."

"Jadi aku bilang ke keluargaku. Ke Papa. Kami bertengkar hebat saat itu. Semua orang menentang. Papa mengancam akan sebarkan ke media siapa yang bikin Nadya hamil kalau aku berani nikahi dia." Kelvan bangkit menghampiriku. Tangannya terulur tapi aku mundur satu langkah. "Tapi itu dulu, Dre. Itu masa lalu. Sekarang aku cinta kamu."

Aku tersenyum getir. "Tapi cinta nggak akan pernah cukup kalau masa lalu kamu masih punya ruang di antara kita, Van."

"Dre, itu semua sudah berakhir buat aku. Aku udah lama nggak ada komunikasi sama Nadya. Bahkan aku nggak ingin tahu lagi tentang dia. Aku dan Nadya hanya kisah lama, Dre. Salahku kisah lama itu nggak aku bagi dengan kamu. Aku pikir itu udah nggak penting lagi. Itu kisah lama yang udah aku tutup rapat-rapat." Kelvan menghela napas. kedua bahunya turun pelan seolah menanggung beban yang tidak kelihatan. "Aku hanya nggak tahu ternyata beritanya muncul lagi dan aku sudah sama kamu saat itu terjadi."

Aku memijit pelipis. Rasanya ada yang menusuk-nusuk di kepalaku sekarang, seperti suara bising yang tiba-tiba tak bisa dihentikan. Napasku berat, jantungku berdegup tidak karuan. Aku menjatuhkan tubuh ke kursi, lemas. Kelvan berlutut di depanku— sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Saat aku tahu ternyata kamu ada kerjasama dengan Nadya aku udah pengen banget bilang jujur dari awal. Tapi saat itu aku belum bisa, Dre. Aku jauh dari kamu. Aku nggak ingin kamu dengar penjelasan yang sepotong-sepotong. Aku harus menemui kamu untuk membicarakan ini. Kalau aku bisa meninggalkan pekerjaan saat itu juga sudah aku lakukan, Dre."

"Hubungan ini baru sebentar, Van, tapi kamu sudah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Kamu hanya membiarkan salah paham ini terjadi. Kamu terlambat. Aku nggak tahu apa aku bisa percaya lagi sama kamu," ucapku sambil menggeleng lemah dan air mataku kembali lolos.

" Iya aku tahu, Dre. Aku hanya nggak berani ambil resikonya. Aku memang pengecut." Kelvan menatapku pasrah. "Aku selalu mikirin kamu. Kamu yang harus selalu berhadapan sama Nadya tanpa tahu kebenarannya. Nggak ada satu haripun aku merasa tenang, Dre."

Suara Kelvan memang terdengar tulus, tapi hatiku sudah terlalu sering disakiti oleh hal-hal yang tampak tulus.

"I've already made a plan. Dan aku pikir itu rencana yang bagus. Aku hanya harus terpaksa berbohong sama kamu sekali lagi dan aku akan bereskan semua hal yang menyangkut Nadya sebelum aku bertemu kamu dan menjelaskan semua ini. Aku ingin menyuruh Nadya untuk klarifikasi tentang gosip-gosip itu."

Kelvan meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat. Lebih erat dari sebelum-sebelumnya. Matanya memerah tapi digunakan untuk menatapku lekat. Ada kebenaran di sana. Aku tahu. Tapi rasanya sulit untuk kembali percaya seperti semula.

"Aku takut, Dre. Aku takut kalau aku cerita lebih cepat, kamu malah ninggalin aku. Aku tahu aku salah, tapi aku beneran sayang banget sama kamu, Dre. Itu bukan kebohongan."

Aku menatapnya lama, tanpa berkata apa-apa. Hanya suara detak jam di ruangan itu yang terdengar disusul helaan napasku yang panjang dan kali ini terasa sangat panas. Nyeri menjalar dari ujung kaki hingga kepalaku dan perut yang bergejolak seperti ingin memuntahkan apa yang tadi siang kumakan. Aku membebaskan tanganku dari genggaman Kelvan. Dia nampak kecewa.

"Aku ingin pulang sekarang, Van," kataku dengan susah payah sambil memijit pelipis.

"Dre, please jangan seperti ini," suara Kelvan tercekat.

Aku bangkit namun badanku rasanya sangat berat. "Aku cuma ingin pulang, Van, sekarang. Please biarin aku pulang. Aku nggak bisa sekarang. Aku ingin pulang."

Kelvan memegang bahuku yang sedikit gemetar. Raut wajahnya berubah. Tangannya berpindah-pindah dari kening, leher, dan telapak tanganku. Panik menyergapnya. "Badan kamu panas, Dre. Kamu sakit. Kita ke dokter, ya."

Aku menggeleng lemah. "Kelvan, aku cuma ingin pulang. Aku nggak ingin kamu antar aku kemana pun. Aku pengen sendiri."

Kelvan nampak frustasi menghadapiku. "Oke. Aku akan biarkan kamu pulang tapi seenggaknya kamu minum obat, Dre. Aku ambilkan obat, ya. Kamu tunggu dulu sampai agak baikan."

Aku tidak membantah. Tubuhku sudah lelah untuk memberi respon apapun. Kelvan menggiringku duduk kembali, membantuku dengan lembut— mungkin terlalu lembut sampai aku nyaris merasa iba. Dia berdiri, menatapku sekali lagi dengan wajah penuh cemas sebelum akhirnya berbalik dan menghilang entah ke mana— aku tidak peduli saat ini.

Aku menutup wajahku yang terasa panas. Semua bagian tubuhku rasanya panas. Rasanya aku hanya ingin diam, tapi suara-suara yang berasal dari ponsel Kelvan di sampingku membuat kepalaku semakin berdentam. Ponsel itu terus berbunyi. Mataku melirik sekilas. Dua nama yang kukenal, Bram dan Rafi muncul pada pop up notification. Satu pesan baru di sana membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.


Lihat selengkapnya