KELVAN
Inilah yang seharusnya gue lakukan sejak lama. Menemui masa lalu gue, menghadapinya dan nggak membiarkannya merusak rancangan masa depan gue. Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru setelah semuanya hancur gue punya keberanian buat ini? Pertanyaan itu terus bergema di kepala gue sepanjang perjalanan ke café.
Sekarang gue baru melakukannya, dan gue nggak tahu apakah masih ada manfaatnya untuk hubungan gue dan Audrey — karena hubungan kami sudah hancur lebur, seperti kaca yang nggak mungkin kembali utuh meski disatukan lagi.
Begitu gue tiba, Nadya sudah duduk seorang diri dengan minuman sederhana favoritnya. Orange juice. Hal kecil itu aja cukup buat nyadarin gue betapa lamanya waktu berlalu, tapi juga betapa nggak banyak yang berubah. Dia masih sama: tenang, elegan, dan kelihatan kuat.
Dia memakai topi dan kacamata hitam. Kontras dengan langit di luar sana yang agak mendung. Seperti bukan untuk melindunginya dari matahari melainkan sedang menyembunyikan dirinya dari dunia luar. Sejenak gue lupa kalau gue bertemu dengan seorang perempuan yang sekarang namanya sedang heboh dibicarakan di mana-mana.
Dia tersenyum kikuk ketika gue menarik kursi di depannya.
"Hey," sapanya pelan, suaranya nyaris tenggelam. Mungkin nggak ingin didengar orang lain.
"Hey," balas gue singkat, mencoba menyembunyikan kegugupan yang nggak semestinya masih ada.
Gue menarik napas panjang, mencoba menghilangkan gugup. Rasanya aneh bertemu lagi setelah sekian lama. Bukan karena masih ada rasa, tapi karena kami bertemu di tengah-tengah hubungan gue yang kacau. Ada jeda canggung yang nggak bisa dijelaskan. Kami berdua cuma diam, seperti dua orang asing yang tahu terlalu banyak masa lalu satu sama lain.
"Aku nggak tahu harus mulai dari mana," katanya dengan kepala menunduk. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi."
Gue mengangguk pelan. Sebenarnya nggak nyangka Nadya akan langsung bicara kayak gitu padahal gue yang minta ketemu dia.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" suara gue agak tercekat. "Terlepas dari gosip-gosip itu." Pertanyaan itu keluar begitu saja, mungkin karena gue butuh sesuatu buat mengalihkan rasa nggak nyaman di dada.
Nadya tersenyum. "Aku dan Mikayla sangat baik. Kami benar-benar bisa melewati semuanya berdua. Dia Tangguh." Ada nada bangga di suaranya.
Gue ikut tersenyum tulus. Ada kelegaan aneh di sana. "Dan kamu nggak perlu minta maaf atas semua yang terjadi. Bukan salah kamu. Bukan salah siapa-siapa. Ini karena aku yang nggak berani beresin dari awal."
Bayangan wajah Audrey muncul kembali di kepala gue. Gue ingat tatapannya waktu terakhir kali kami bertemu— campuran kecewa dan sakit hati yang masih nyangkut di hati gue sampai sekarang. Gue menelan ludah, berusaha menyingkirkan perasaan itu, tapi gagal.
"Kalau aja ada yang bisa aku lakukan untuk membuat hubungan kalian kembali balik pasti akan aku lakukan. Biar gimanapun juga aku terlibat dalam kesalahpahaman ini. Aku berharap ketika nanti aku sudah buat klarifikasi untuk menghentikan gosip-gosip itu, hubungan kalian akan kembali baik."
Gue tersenyum getir. Pengen bilang itu sudah nggak ada gunanya lagi sekarang tapi urung gue sampaikan. "Aku sangat berterima kasih kalau kamu mau melakukannya."
Nadya mengangguk pelan, pandangannya jatuh pada gelas jus yang mulai berembun. Tangannya menggenggam sedotan, memutarnya pelan tanpa berkata apa-apa untuk beberapa saat. Salah satu kebiasaan dia yang masih gue ingat sampai sekarang.
Keheningan menggantung di antara kami. Suara sendok dari meja lain dan musik lembut café jadi latar situasi kami. Kepala gue menoleh ke kanan-kiri, entah untuk apa. Gue merasa ini sedikit aneh— duduk di hadapan seseorang yang dulu sempat jadi bagian dari hidup gue, tapi sekarang yang kami bicarakan justru tentang orang lain yang lebih gue sayangi.
"Cepat juga ya waktu tuh. Udah dua tahun aja. Dan kita bertemu lagi dengan cara yang nggak terduga. Dunia ternyata kecil banget."
Mau nggak mau gue tersenyum dengarnya.
"Audrey ini..." kalimatnya terhenti beberapa saat. "Perempuan pertama yang kamu cintai setelah hubungan kita berakhir dua tahun lalu?"
"Iya. Audrey.... perempuan pertama sejak dua tahun lalu." Gue mengangguk sambil tersenyum samar, tapi senyum itu cepat pudar. "Dan mungkin juga perempuan terakhir yang bisa aku cintai sedalam ini."
Kata-kata itu keluar tanpa gue rencanakan, dengan suara rendah, dan gue bahkan nggak yakin apakah Nadya mendengarnya dengan jelas. Tapi dada gue terasa perih setelahnya, seperti baru aja ngakuin sesuatu yang udah lama gue sembunyikan, bahwa kehilangan Audrey adalah hal paling menyakitkan dalam hidup gue.
Nadya menatap gue cukup lama, seperti sedang mencoba membaca isi kepala gue lewat sorot mata. "Kamu kelihatan beda waktu nyebut namanya," katanya pelan. "Bukan cuma dari cara kamu ngomong, tapi dari cara kamu berhenti di tengah kalimat. Aku rasa dulu kamu nggak pernah kayak gitu, Van."
Mata gue membulat. Sedikit bingung dengan apa yang Nadya bicarakan— maksud di balik kalimatnya.
Namun Nadya menggeleng cepat. "Maksudku itu baik, Van. Bukan maksud membandingkan seberapa besar cinta kamu sekarang dengan yang dulu ke aku. Cinta kamu sekarang lebih dewasa, lebih berani." Lalu Nadya tersenyum. Senyum yang tulus yang gue lihat lagi setelah dua tahun kami nggak bertemu. "Dan itu baik. Aku benar-benar bahagia kalian bersama. Mungkin memang Audrey orang yang tepat untuk kamu."
Gue menghela napas panjang, menatap ke arah luar jendela café. "Tapi aku rasa dia udah terlalu capek untuk dengerin penjelasan aku sekarang. Dan masalahnya berkembang jadi lebih complicated sekarang. Aku udah menghancurkan semuanya."
Nadya tersenyum kecil, tatapannya lembut tapi juga iba ke gue. "Kalau cinta kamu tulus, Van, dia akan tahu. Cepat atau lambat, orang yang benar-benar mencintai kamu akan ngerasa sendiri."