KELVAN
Tuhan benar-benar belum selesai menguji mental gue. Tapi kayaknya ini levelnya ketinggian, deh. Belum cukup gue merasakan patah hati sekarang gue harus melihat perempuan yang gue sayangi sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Saat tadi dikabarin Rudy kalau Audrey jatuh pingsan dan masuk rumah sakit, gue langsung secepatnya menuju ke sini. Nggak peduli saat itu gue harus berhenti di tengah-tengah meeting. Gue nyetir udah kayak orang kesetanan. Mobil menembus padatnya Jakarta sore itu yang ramai dengan orang-orang pulang kerja disertai gerimis yang mulai turun lagi. Setiap detik di jalan rasanya udah kayak siksaan buat gue.
Begitu tadi sampai di parkiran, gue langsung berlari menerobos antrean di depan pendaftaran. Gue udah nggak peduli apakah tadi gue parkir mobil dengan benar. Gue nggak peduli orang-orang yang kesal karena gue seenaknya aja menerobos mereka. Pikiran gue udah kalut. Langkah gue tergesa, napas gue berat.
Bau antiseptik yang menusuk hidung langsung menyambut, bercampur dengan rasa panik yang menggumpal di dada. Rudy sudah menunggu di depan ruang perawatan. Begitu matanya melihat gue, dia langsung berdiri.
"Dia di dalam. Baru banget tidur," katanya pelan. "Dia kena DBD, Van. Pantesan dia lemes banget padahal dari kemarin udah nggak demam."
Gue tidak menjawab. Hanya menatap Rudy sejenak, kemudian membuka pintu perlahan. Begitu pintu terbuka, udara dingin dari ruangan putih ini langsung menyentuh kulit gue. Audrey terbaring di ranjang, wajahnya pucat dan sedikit tirus dari terakhir gue lihat dan bibirnya sedikit kering. Ada selang infus di tangannya, napasnya tenang dan stabil. Pipinya yang dulu selalu bersemu tiap kali gue godain, sekarang tampak dingin dan tanpa warna, seperti semua kebahagian raib dari dirinya.
Gue melangkah sepelan mungkin ke arahnya, duduk di kursi di sisi ranjang, menentang keinginan gue yang sebenarnya untuk raih tangan dia. Gue nggak ingin Audrey terbangun. Nggak ingin Audrey nyuruh gue pergi. Jadi gue cuma bisa berdiam diri. Sebisa mungkin nggak menimbulkan suara sedikit pun biar Audrey nggak terbangun.
Senyum samar muncul ketika gue lihat masih ada gelang pemberian gue terpasang di tangan kirinya. Padahal mungkin Audrey cuma lupa ngebuangnya, tapi tetap cukup membuat hati gue menghangat.
Gue menatap gelang itu lama seolah benda kecil itu jadi satu-satunya bukti kalau gue masih punya jejak di hidupnya. Sebagian diri gue pengen percaya kalau dia masih nyimpan karena ingin kasih kesempatan kedua, bukan karena lupa. Tapi bagian lain dari diri gue tahu, itu cuma harapan bodoh yang gue cipta sendiri biar nggak tambah hancur.
Menit demi menit berlalu. Gue membiarkan waktu berjalan tanpa suara, cuma duduk di kursi itu sambil terus memperhatikan wajah Audrey yang tenang di bawah cahaya putih ruangan. Setiap detik terasa panjang, kayak dunia sengaja melambat biar gue bisa lebih lama menatap dia. Tapi apalah artinya gue punya banyak waktu kalau hanya untuk melihat perempuam yang gue sayang sedang sakit. Atau mungkin biar gue makin sadar betapa bodohnya gue selama ini.
Gue nggak tahu sudah berapa lama gue hanya diam sampai badan gue sendiri terasa kaku. Sampai akhirnya, pintu kamar terbuka pelan. Kepala Rudy muncul di sela pintu, memberi isyarat halus kalau jam kunjung buat gue sudah habis.
Gue menatap Audrey sekali lagi sebelum berdiri. Setiap langkah menuju pintu rasanya berat, seolah gue ninggalin sebagian diri gue di ruangan itu. Begitu keluar, pintu tertutup di belakang gue dengan bunyi klik kecil yang entah kenapa terasa nyakitin. Rasanya kayak setelah pintu ini tertutup gue nggak punya kesempatan lagi untuk ketemu dia.
"Udah dulu, ya. Ini gue ngabarin lo nggak bilang ke Dinar dan Bella soalnya." Rudy mengarahkan gue untuk duduk di kursi tunggu.
"Thanks ya lo udah mau berbaik hati kabarin gue," ujar gue dengan suara pelan.
Rudy ngelirik gue sekilas, lalu mendengkus pendek.
"Iya, sama-sama." Dia menjeda, ekspresinya berubah sedikit sinis. "Gue tahu masalah lo sama Audrey, tapi nggak tahu kenapa gue masih tetap baik sama lo."
Gue tersenyum getir. "Nggak apa-apa. Kalian memang seharusnya benci gue, sih."
"Bagus deh lo tahu diri." Rudy menyilangkan tangan di dada, nadanya mulai tegas lagi. "Mending sekarang lo pergi dulu. Dinar sama Bella lagi mau ke sini. Dan percaya deh, lo nggak bakal sempat kabur kalau mereka udah liat muka lo di sini. Bisa-bisa lo malah ikut masuk IGD juga gara-gara mereka."
Gue tertawa hambar, berusaha mencairkan suasana padahal perut rasanya kayak lagi diaduk-aduk. "Gue tahu. Sekali lagi makasih, ya."
Rudy berdiri. Gue juga ikut berdiri, ngulurin tangan buat salaman tapi tatapan Rudy mendadak berubah drastis. Matanya membelalak, seolah baru lihat sesuatu yang bikin dia pengen kabur.
"Apa—" gue belum sempat lanjutin kalimat, tapi bola mata Rudy sudah berpindah-pindah dari gue ke lorong belakang gue.
Reflek gue ikut nengok. Dan di ujung lorong dua sosok berdiri dengan wajah yang nggak bisa gue artiin ramah. Bella dengan tangan menyilang di dada, tatapan tajamnya seolah bisa menembus dinding setebal apapun. Dinar di sampingnya, menatap gue dengan ekspresi yang campur aduk— antara kecewa, kesal, dan lebih banyak muak.
Rudy langsung angkat dua tangannya kayak orang menyerah. "Demi Tuhan gue nggak ada maksud nyerahin lo ke mereka, Van," katanya cepat, suaranya terdengar panik beneran.
Gue nggak sempat jawab. Napas gue mendadak berat. Seperti yang gue bilang. Satu-satunya cara untuk keluar dari masalah yaitu hadapi dengan berani. Atau pura-pura berani. Gue menelan ludah. Sedikit pasrah dengan apa yang akan gue alami. Seenggaknya gue udah langsung berada di rumah sakit saat nanti tulang-tulang gue mereka patahin.
***
Kantin rumah sakit ternyata bisa jadi seperti ruang pengadilan bagi gue. Gue duduk sendiri, nggak ada yang bela sedangkan di hadapan gue duduk dua orang sebagai jaksa penuntut umum serta satu saksi. Rudy yang tadinya sudah bantu gue malah sekarang jadi yang paling ketakutan. Dia hanya duduk sambil sibuk menatap lantai seolah-seolah ada hal yang menarik di sana.
"Bel, gue cuma ingin pastikan keadaan dia baik-baik aja," kata gue setelah menarik napas panjang dan ngatur suara.
"Gue belum suruh lo ngomong, ya! Dan jangan panggil nama gue seolah kita masih temenan," jawab Bella tajam.
"Pelanin dikit suara lo." Wajah Rudy masih ketakutan sambil lirik ke kanan-kiri.
"Lo juga diam, ya! Si Kelvan bisa ke sini pasti karena lo kasih tahu, kan." Bella melotot sambil menunjuk-nunjuk wajah Rudy.
Rudy segera menutup mulutnya rapat-rapat lalu melanjutkan kembali kegiatan menatap lantainya.
Dinar geleng-geleng kepala. "Dia butuh waktu lama buat berani terbuka lagi sama cowok. Tapi lo datang dan lo hancurin semua itu dalam semalam."
Bella menghembuskan napas berat. Ekspresinya kayak nggak sudi ngomong ke gue. Beberapa kali dia mau ngomong tapi udahannya mulutnya tertutup lagi.
"Gue senang banget Audrey udah mau percaya lagi sama cowok. Tapi sayangnya cowoknya itu elo," lanjut Dinar.
Dua kalimat itu nusuk banget. Tapi gue hanya diam. Jawaban apa pun sekarang cuma bakal terdengar kayak pembenaran. Dan gue belum disuruh ngomong sama Bella, jadi gue mending diam dari pada disemprot lagi.
"Bisa-bisanya ya lo jadiin dia mainan taruhan sama temen-temen lo itu. Lo anggap Audrey selama ini cuma sebatas itu. Gila dia udah jatuh cinta sama lo begitu. Sakit banget dia pasti."
Gue pengen banget teriak. Audrey nggak cuma sebatas itu. Dia segalanya buat gue!