I Bet You Love Me

ND
Chapter #24

A Home To Build

AUDREY

Hari kedua di rumah sakit kondisiku masih belum begitu baik. Pagi hari suster mengecek suhu tubuhku, memberi obat dan mengambil darah lagi. Siangnya seorang dokter melakukan visit dan melarangku untuk turun dari tempat tidur karena trombositku semakin turun, meskipun beliau mengatakan tidak perlu terlalu khawatir. Yang perlu kulakukan adalah istirahat total, perbanyak cairan, dan tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat terjadinya pendarahan seperti menyikat gigi dan menggosok hidung terlalu keras.

Mama dan Papa menjagaku sepanjang hari. Malamnya Dinar dan Bella membesuk, membawa kabar Nadya telah melakukan klarifikasi. Sedangkan Kelvan, dia memang tidak datang namun jejaknya masih di sini. Di kursi tempat dia kemarin duduk untuk melihatku yang tertidur. Di bunga yang semalam dia kirimkan. Mama meletakkan bunga pemberiannya di nakas samping ranjang.

Kutatap bunga itu dengan perasaan aneh. Dulu jantungku bisa berdebar-debar menerima bunga pemberian Kelvan. Lengkap dengan senyum simpul dan perasaan hangat yang menjalar di dada. Tapi sekarang rasanya seperti bunga itu menggores luka yang diakibatkan oleh pengirimnya. Keberadaannya tidak membuatku lebih baik baik melainkan terasa seperti pengingat betapa bodohnya aku dulu. Betapa mudahnya aku percaya. Betapa cepatnya aku jatuh.

Bahkan belum cukup sekedar bunga, hujan yang turun malam ini dengan lancang membawaku kembali ke suatu malam di mana kami berdua berbincang di bawah atap sebuah ruko yang sudah tutup. Saat itu Kelvan mengantarku pulang dengan motornya sehabis kami berkeliling beberapa tempat di Jakarta.

Langit mendadak gelap padahal saat itu waktu masih menunjukkan pukul lima dua puluh sore. Hujan langsung turun dengan deras disertai angin kencang yang membuatku mengeratkan pelukan di pinggang Kelvan. Kelvan segera menepi walaupun baju kami sebenarnya sudah terlanjur basah kuyup.

"Siapa tadi yang bilang bakalan cerah seharian?" ejekku sambil membuka helm dengan susah payah.

Kelvan terkekeh. "Namanya juga ramalan cuaca, kan. Bisa salah."

Aku mendelik. "BMKG aja bisa salah, apalagi kamu."

"Iya-iya lain kali jangan percaya aku kalau ramalan cuaca, tapi percaya yang lain sih harus ya. Yang ngawur itu doang kok."

"Aku udah ingetin lho bawa jas hujannya buat jaga-jaga."

Kelvan tidak menggubrisku. Setelah meletakkan helm kami berdua dengan aman, dia menggamit lenganku, menuntunku untuk duduk di sebuah kursi panjang yang sudah usang. Tangannya lalu sibuk memerah bagian depan jaketnya yang basah.

Dia mendongak. "Katanya kamu suka bau hujan campur tanah, kan? Nah ini kamu bisa cium baunya. Kalau pakai jas hujan kan kita nggak bakal begini." Sorot matanya kembali iseng seperti dulu.

Aku memutar bola mata namun tetap tersenyum pada akhirnya karena Kelvan masih ingat apa yang beberapa waktu lalu kubilang. Aku selalu terkesan pada betapa detailnya dia mengingat hal-hal kecil tentangku.

"Katanya bau hujan tuh asalnya dari bakteri di tanah dan minyak tumbuhan," jelas Kelvan dengan wajah agak serius. "Terus karena indera penciuman kita terhubung langsung sama otak, jadi kalau cium bau hujan kita jadi ingat sama memori lama yang terjadi pas hujan."

Aku tergelak. Bukan karena Kelvan yang tiba-tiba jadi pintar membahas sains melainkan sepotong adegan yang kami lewati beberapa waktu lalu kini berputar di otakku. Di mobil saat hujan.

"Ih. Kamu dulu anak IPA, ya," seruku berusaha terlihat takjub, yang sebenarnya sedang menutupi kegugupan.

"Hahahaha aku googling, Dre, waktu kamu bilang suka bau hujan. Biar kelihatan pintar." Kelvan menggerak-gerakkan kedua alisnya.

"Heleh." Aku menyenggol sebelah lengannya.

Aku mendongak, menatap derasnya air hujan yang jatuh dari atap genting. Jalanan di depan kami mulai padat dengan kendaraan yang melambat. Cahaya merah dan kuning memantul dari genangan air di jalan raya yang anehnya menciptakan pemandangan yang indah. Tiba-tiba ada yang menelusup ke kepalaku, membuat senyumku muncul tanpa bisa kutahan.

"Ingat waktu pertemuan pertama kita waktu itu?" Aku menoleh ke Kelvan. Dia nampak bingung tapi tetap mengangguk pelan.

"Waktu itu hujan terus, kan. Aku berharap banget hujan bisa gagalin pertemuan kita waktu itu. Aku berharap banget karena hujan kamu nggak jadi datang ke rumah karena udah nggak ada lagi alasan yang bisa aku pakai untuk menghindari kamu hari itu."

Kelvan melotot. "Maksudnya kamu pengen aku kejebak banjir gitu? Atau lebih parahnya lagi mungkin kamu berharap mobilku ketiban pohon tumbang."

Aku cepat-cepat menutup mulutku karena hampir tertawa.

"Beneran?" tanyanya lagi, kali ini dibuat dramatis.

"Nggak ketiban pohon tumbang juga, sih. Itu mah seram dan kejam banget kalo sempe mikir kayak gitu." Aku meringis.

Kelvan melihatku sambil geleng-geleng kepala. Jarinya mencubit pipiku lembut. "Thank God, aku nggak memilih putar balik waktu itu. Padahal beneran itu macet karena ada pohon tumbang. Aku sempat jengkel juga."

Aku spontan tertawa lalu tiba-tiba saja muncul pertanyaan ini. "Menurut kamu, kalo kita waktu itu gagal ketemu lagi, apa yang bakal dilakuin mamaku dan mama kamu? Itu bakal jadi ketiga kalinya rencana mereka gagal."

Wajah Kelvan nampak sedang berpikir. "Aku rasa mamaku udah habis kesabaran, deh. Mungkin pertemuan yang selanjutnya langsung mau ngelamar kamu aja."

Sedetik kemudian Kelvan mengaduh kesakitan sambil mengelus-elus pahanya yang baru saja kupukul. "Aduh! Sakit, Dre!" keluhnya sambil tetap tertawa.

"Apa yang kamu pikirkan tentang aku waktu itu?"

Lihat selengkapnya