I Bet You Love Me

ND
Chapter #25

Bertemu Kembali

AUDREY

Dua minggu sudah setelah aku keluar dari rumah sakit. Tubuhku sudah membaik dan kembali menjalankan rutinitas seperti biasa. Hanya saja kini tidak ada lagi yang berhubungan dengan Kelvan. Semua kembali ke hari-hari di mana hanya ada aku, pekerjaan, dan kesepian. Lalu ketika weekend tiba, aku akan merecoki sahabat-sahabatku atau memilih mendekam di kamar membaca ulang koleksi buku-bukuku. Aku benar-benar tidak bergairah untuk terhubung dengan dunia luar untuk saat ini.

Setiap pagi aku berangkat kerja seperti biasa, kerja berjam-jam bahkan lebih, menghadiri meeting, memaksa lembur meskipun pekerjaan tidak begitu mendesak dan meneguk kopi yang sudah dingin di meja. Persis seperti dulu ketika Kelvan belum masuk ke kehidupanku. Seharusnya mudah untukku menyesuaikan diri lagi dengan kebiasaan lama namun ternyata beberapa bulan aku bersama Kelvan telah membuatku jadi bergantung padanya.

Aku masih melirik ke ponsel di waktu sore, teringat Kelvan yang biasanya mengirimiku foto matahari terbenam. Ketika sampai loby aku akan melihat ke arah kursi tunggu tempat di mana biasanya Kelvan duduk menungguku. Dua minggu dan aku masih belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayangnya.

Beberapa orang yang melihatku merasakan perbedaannya. Ivan dan Rania bertanya karena mereka tidak lagi melihat Kelvan menungguku di loby sepulang kantor. Mama dan Papa bertanya karena mereka tidak lagi melihat Kelvan semenjak terakhir bertemu di rumah sakit. Aku hanya tersenyum setiap kali mereka menanyakan hal itu. Dan seperti mengerti kalau aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut, mereka akhirnya bungkam dan tidak bertanya lagi.

"Mbak. Udah lapar nih kita. Ayok turun!"

Aku menoleh ke Rania yang duduk di kursi depan. Sepertinya dia sudah coba memanggilku beberapa kali karena dia menghela napas sambil tersenyum miris. Aku keluar dari mobil lalu tubuhku terpaku menyadari di mana sekarang kami berada. Kepalaku reflek mendongak ke bangunan tinggi di depan sana.

Segera saja kenangan-kenangan itu menabrakku tanpa permisi. Tempat di mana aku berharap kemungkinan-kemungkinan tentang masa depan. Tapi tempat itu juga yang sekarang menjadi saksi betapa konyolnya diriku berharap masa depan dengan lelaki yang hanya menjadikan hubungan kami sebuah mainan.

Kualihkan tatapan dari bangunan itu namun yang ada di depan mataku kini tetap tidak bisa menghapus kenangan yang sekarang sedang berputar di kepala. Warung tenda seafood, tempatku dan Kelvan pertama kali makan bersama. Bahkan setiap sudutnya mengingatkanku pada hal-hal kecil tentang kami dulu.

Pemilik warung yang sudah akrab dengannya. Kursi plastik merah yang kami duduki. Lampu kuning temaram yang menggantung rendah. Aku ingat pengamen jalanan yang Kelvan undang untuk langsung menyanyi di depan kami. Semua seperti menarikku kembali ke malam-malam itu.

Aku mengatur napas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk terus melangkah. Ada satu kemungkinan yang menakutkan muncul di benakku. Tidak ingin hal itu terjadi, aku bergegas untuk masuk ke warung itu dan makan dengan cepat. Semakin cepat aku melakukannya, semakin cepat pula aku meninggalkan tempat ini dan tak akan pernah kembali. Kakiku mulai beranjak meskipun langkahnya gontai. Tapi langkahku mendadak harus berhenti.

Laki-laki itu baru keluar dari area tenda. Kupikir aku sedang berhalusinasi, tapi yang aku lihat sekarang terlalu familier bagiku. Kaus putih favoritnya, jaket corduroy coklat dan caranya berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaket. Semuanya menghantam ingatanku keras-keras.

Langkahnya juga terhenti. Kedua matanya lekat menatapku. Bahkan pada jarak sejauh ini aku masih bisa merasakan tatapannya yang mampu menembus dinding pertahanan yang aku bangun. Tidak ada raut wajah terkejut. Entah karena Kelvan sudah lebih dulu bertemu Rania dan Ivan atau dia mampu menyembunyikan perasaan sebenarnya di depanku.

Di bawah cahaya lampu jalan, dirinya terlihat berbeda. Tidak ada senyum percaya diri dan tenaga seperti dulu setiap kali kami bertemu. Kali ini wajahnya terlihat letih. Aku juga bisa melihat ada bayangan gelap di bawah matanya. Tiba-tiba pertanyaan melintas di sana. Sudah berapa malam dia tidak tidur nyenyak? Ini seperti versi dirinya yang kosong— yang tidak bisa lagi membereskan kekacauan yang telah dia buat.

Kelvan berjalan. Tanganku terkepal, waspada. Setiap langkahnya untuk mendekat terasa seperti hantaman keras di dada yang memaksaku untuk mengeluarkan udara dari paru-paru. Rasanya semakin sesak. Ketakutan melingkupiku. Bukan takut Kelvan akan berbuat yang macam-macam tapi takut pada diriku sendiri yang masih merespon kehadirannya. Takut pada diriku sendiri yang akan goyah jika Kelvan kembali memohon seperti dulu.

Dirinya berjalan semakin dekat. Bahkan aku sudah mengenali napasnya meskipun Kelvan belum benar-benar sampai di hadapanku. Matanya menatapku tanpa berkedip. Seolah satu kedipan saja bisa membuatku hilang dari pandangannya. Kemudian dia berhenti beberapa langkah di depanku.

"Audrey..." wajahnya tersenyum namun suaranya terdengar parau di telingaku. Sorot matanya nampak putus asa meskipun senyum itu masih dipasang di wajah letihnya.

Aku memalingkan pandangan dengan cepat, menolak diriku tenggelam dalam sorot matanya. Tidak lagi. Tidak akan pernah. Langkahku berbelok ke samping. Meskipun tiba-tiba berat aku memaksa diriku untuk terus melangkah melewatinya. Seharusnya aku lega karena berhasil namun rasanya justru seperti masa lalu tetap mengejarku.

"Kamu masih akan tetap pergi ke sana," teriaknya.

Langkahku terhenti. Suaranya seperti menghantam punggungku.

"Kamu tahu itu tempat makan favoritku." Kelvan menjeda. "Sepertinya aku masih ada sedikit jejak di hidup kamu, Dre."

Kalimatnya barusan hampir membuatku runtuh. Mataku memejam. Peganganku pada tas di bahu mengerat, menahan untuk tidak berbalik. Aku tidak ingin membuat diriku melemah dengan menatap matanya. Mata yang dulu membuatku percaya, mata yang dulu membuatku jatuh cinta, mata yang sekarang mungkin sedang memohon.

Aku tetap memandang lurus ke depan. Tapi mataku mulai panas dan telapak tanganku berkeringat. Yang aku takutkan akan terjadi seandainya aku masih berdiri di sini. Jadi aku mulai berjalan lagi, memaksakan langkah meskipun kakiku rasanya seperti lumpuh. Aku menjauhi suaranya, kenangan menyakitkan yang menempel pada bayangan sosoknya. Kelvan tidak mengejar, tapi aku bisa merasakan tatapannya di punggungku. Sangat dalam hingga membuatku membenci diri sendiri karena masih ada keinginan untuk berbalik.

***

KELVAN

Kebiasaan gue akhir-akhir ini adalah bengong. Gue nggak tahu udah berapa lama gue hanya duduk di sofa memandang lurus ke dapur. Di bawah cahaya redup lampu, badan gue rebah di sini tapi kepala gue kayak masih tertinggal di warung tenda seafood tadi. Bukan cuma kepala sih, raga gue juga kayaknya masih ketinggalan di sana.

Gue seperti baru saja menemukan oase di tengah padang pasir. Tau kan? Ruang hidup di antara tandusnya pasir. Agak lebay sih tapi kurang lebih rasanya kayak gitu. Setelah dua minggu yang menyiksa, akhirnya gue bisa melihat Audrey lagi meskipun sebagai seorang yang nggak punya hak dekatin dia. Nggak apa-apa. Gue bisa terima untuk saat ini.

Tadinya gue sempat berpikir gue lagi halu. Dua minggu ini otak gue lagi sering mempermainkan gue kan. Tapi ternyata itu beneran dia. Perempuan yang gue cintai lagi berjalan ke tempat makan favorit gue. Tempat pertama kali kita makan bareng.

Dia cantik seperti biasa. Wajahnya sudah nggak pucat lagi seperti terakhir gue jenguk dia di rumah sakit. Tapi entah gue harus sebut ini hari keberuntungan atau hari sial. Gue senang bisa lihat Audrey lagi. Tapi juga perasaan gue kayak dicabik-cabik kalau ingat tadi Audrey nggak mau menatap gue sama sekali.

Lo tahu nggak selama dua minggu ini hidup gue gimana? Dua minggu tanpa Audrey seperti hidup tanpa arah. Setiap hari gue bangun dengan harapan bodoh bahwa hari itu Audrey akan membuka hati lagi buat gue. Iya gue tahu kata orang berharap itu menyakitkan, tapi berhenti berharap jauh lebih menyakitkan buat gue. Nggak bisa gue hidup tanpa Audrey. Beneran. Gue udah hampir gila.

Lalu gue ingat lagi Audrey masih datangi tempat kami dulu. Berarti Audrey masih ingat gue kan? Meskipun mungkin dia terpaksa karena ajakan temannya. Meskipun gue lihat di matanya dia sedang berusaha keras menghapus semua kenangan kami di tempat itu. Meskipun Audrey menghindar. Meskipun melihat Audrey menahan dirinya buat nggak melihat gue itu lebih nyiksa daripada semua diam yang dia kasih selama dua minggu terakhir. Meskipun gelang pemberian gue sudah nggak ada lagi. Banyak banget meskipun. Tapi bukan itu poinnya. 

Poinnya adalah Audrey masih melangkahkan kakinya ke tempat itu. Tempat kami punya kenangan. Sebenci apapun dia sama gue, gue masih punya jejak di hidupnya. Itulah modal yang gue punya sehingga gue bertekad untuk mengakhiri dua minggu yang menyiksa ini. Walaupun jejaknya kecil bahkan hampir hilang tapi nggak apa-apa. Itu sudah bisa menjadi alasan untuk gue tetap berjuang. Seberapa kerasnya Audrey ingin melupakan gue, nggak akan gue buat dia segampang itu melupakannya.

***

AUDREY

Ini jelas bukan pagi yang baik untuk memulai hari. Pertama, aku bangun kesiangan karena memikirkan laki-laki brengsek bernama Kelvan sampai jam dua pagi. Kedua, sudah pasti aku terlambat sampai kantor. Ketiga aku menemukan kubikelku sudah seperti kebun bunga tulip warna-warni. Bahkan tidak ada sama sekali tempat kosong untukku menaruh tas. Tidak ada ruang kosong barang satu sentimeterpun.

Ivan menyodorkan sebuah amplop berwarna pink. Isinya kartu dengan tulisan kata maaf yang besar dan bentuk hati yang mengelilinginya. Aku meremasnya kuat dan sedetik kemudian kertas itu sudah mendarat di tong sampah. Rania sampai bergidik ngeri melihatku.

"Lo mau pake meja gue, Mbak? Boleh kok," tawar Ivan saat melihatku masih berkacak pinggang setelah lima menit aku hanya terpaku di depan kubikelku.

Aku mendengkus. Memejamkan mata sejenak. "Ini beneran nih segini banyak?" gumamku, tapi kemudian Sapto datang dengan dua bunga berikutnya. Karena sudah tidak ada tempat lagi, dia langsung menyerahkannya kepadaku tanpa berkata apa-apa lalu melengos pergi.

"Duh ribut-ribut kalian tuh so sweet banget, ya. Mas Kelvan nih lagi nebus dosa ceritanya." Rania sibuk mengambil foto dengan kamera ponselnya.

"Kenapa lo yang foto, deh?" tanya Ivan. Matanya mendelik.

"Mau gue jadiin story buat pancingan. Biar para cowok sadar. Gini dong kalo ada salah sama ceweknya tuh. Dikasih beginian. Bunga. Apalagi bunga bank," jawabnya asal dengan kedipan mata. "Gue kirimin fotonya ke lo juga ya, Mbak." Dia terkikik.

Aku memelototinya. Ini membuatku pening. Bukan karena aku tidak bisa bekerja di meja tapi karena Kelvan tidak membiarkanku hidup tenang tanpa sesuatu yang mengingatkan aku dengannya. Nyatanya pertemuan tidak sengaja kami semalam bukan menjadi yang terakhir. Bunga yang dia kirimkan pagi ini menjadi pertanda Kelvan tidak akan membiarkanku hidup tenang. Susah payah selama beberapa minggu ini aku berusaha membuangnya dari pikiran, semalam dia seenaknya saja masuk kembali ke kepalaku.

"Ini ada kartu nama floristnya nggak?" tanyaku entah pada siapa sebenarnya.

Kepala Rania melongok ke kubikel. Mengambil secarik kartu dan memberikannya padaku.

Ku ambil benda pipih dari kantong blazer, menekan-nekan nomor yang tertera pada kartu nama itu. Dua kali nada dering, panggilanku dijawab oleh seorang perempuan bernada lemah lembut di seberang sana.

"Saya Audrey yang baru saja terima bunga dari customer kamu bernama Kelvan. Saya ingin semua bunga ini dikirim balik saja."

Bukan hanya Rania dan Ivan yang menoleh, tapi semua orang di ruangan itu nampak terkejut dengan apa yang baru saja aku lakukan.

Lihat selengkapnya