KELVAN
Memang benar ya kata orang-orang yang udah putus sama mantan ceweknya. Kalau sudah putus tuh mantan ceweknya jadi jauh lebih menarik. Bukan maksud gue bilang dulu Audrey itu jelek. Sama sekali nggak. Audrey bahkan nggak perlu berusaha keras untuk terlihat menarik di mata gue. Tapi sekarang dia NAMBAH CAKEP BANGET! Saking cakepnya sampe udah ada cowok lain yang berusaha dekatin dia padahal kami baru putus belum ada sebulan. Ya tiga minggu lebih dikit lah.
Gue nggak tahu mereka beneran lagi PDKT apa gimana, yang jelas kemarin gue lihatnya dongkol banget. Pengen gue colok matanya yang lihatin Audrey terus. Sampai setelah insiden Audrey tersedak itu rahang gue masih mengeras, menahan diri untuk berbuat lebih jauh. Dia patut bersyukur gue nggak sampai tonjok tangannya yang seenaknya aja pegang-pegang Audrey.
Karena nggak ingin kecolongan lagi sama si pangeran kodok itu, gue sudah menyusun rencana yang akan gue jalankan malam ini. Dan kegagalan nggak ada dalam pilihan. Jangan kalian pikir gue akan membuatnya seperti realiti show Katakan Cinta. Meskipun kelihatannya romantis banget cowok yang melakukan itu, tapi enggak. Nggak ada tiba-tiba ada orang nyanyi lagu romantis di depan mejanya, bunga-bunga bertaburan dan balon bentuk hati. Audrey nggak suka yang begituan. Audrey cuma perlu lihat kesungguhan.
Jadi sekarang di dalam mobil yang sedang membelah kemacetan Jakarta, gue berlatih seperti anak murid SD yang ada tugas tampil pidato. Demi Tuhan, presentasi pertama gue ke klien aja nggak sampai begini. Gue berlatih mengucapkan kalimat yang akan gue ucapkan ke dia. Gue akan memberi tahu perasaan gue yang Audrey nggak ingin tahu karena sudah dirusak duluan dengan taruhan konyol itu.
Bukan cuma itu, di kepala, gue sudah membuat banyak rencana untuk kami. Hal-hal yang akan kami lakukan bersama dan datangi bersama. Besok, akhir pekan, tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya dalam hidup kami. Anjay. Gue sudah memikirkannya sampai sejauh itu padahal belum ada tanda-tanda rencana gue bakalan berhasil.
Gue juga sudah memikirkan cara biar Audrey mau mendengarkan penjelasan gue. Mau nggak mau sih. Dan ini benar-benar tindakan yang paling nekat yang akan gue lakukan. Tindakan yang melibatkan beberapa orang dan semoga saja nggak akan jadi masalah buat mereka setelahnya.
Jam tujuh lewat sedikit gue udah sampai lobby. Ada seseorang yang sudah menunggu bernama Sapto. Seseorang yang bersedia gue libatkan dalam misi mendapatkan cinta gue kembali. Tiga sebenarnya. Yang dua lagi menjalankan misinya di atas.
Nggak butuh waktu lama, gue akhirnya berada di lantai departemen tempat Audrey kerja. Tegap banget tuh langkah gue. Udah kayak siap menghadapi dunia pokoknya. Tapi begitu gue masuk lebih dalam, mata gue langsung tertuju ke tong sampah yang penuh dengan bunga pemberian gue. Itu yang paling mencolok soalnya. Langkah gue langsung kayak orang lagi diare. Lemes bro! Sapto sampai meringis dan menuntut lengan gue. Dia mempersilahkan gue untuk menunggu.
Gue duduk sambil menggerak-gerakkan kedua kaki. Khas orang yang lagi nunggu dengan gugup. Bukan lagi telapak tangan gue yang basah, tapi kening juga. Pandangan gue sekarang lurus ke satu pintu yang di baliknya ada perempuan yang gue sayang.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dua orang keluar dari ruangan. Rania dan Ivan menghampiri gue dengan wajah khawatir.
"Masuk sekarang aja, Mas. Tapi hati-hati ya. Mbak Audrey lagi badmood," kata Rania. Dia bergidik yang membuat gue menelan ludah.
"Pokoknya harus berhasil. Kasihan ini gue udah berlagak jadi orang bego yang dijelasin dari tadi nggak ngerti-ngerti. Mbak Audrey udah kepengen pulang dari tadi." Ivan berdecak. "Padahal kan gue pintar banget!"
Rania mendelik lalu menarik kerah kemeja Ivan untuk menjauh.
Gue menarik napas panjang beberapa kali, mengelap telapak tangan gue yang basah lalu menggoyang-goyangkannya dengan tangan terkepal seperti pejuang yang akan maju ke medan perang. Berlebihan? Bodo amat. Memang rasanya kayak perang. Cuma bedanya ini nggak ada pilihan buat kalah. Titik.
Tangan gue meraih handle pintu yang dingin. Begitu masuk, udara lebih dingin lagi padahal gue udah pakai jaket. Gue putar kunci ruangan. Audrey duduk membelakangi gue.
"Ini terakhir, ya! Terserah deh lo mau ngerti apa enggak. Habis ini gue mau pulang! Besok revisi harus kelar pokoknya. Kirim ke gue sebelum makan siang," suara Audrey setengah berteriak. Nadanya kesal.
Benar kata Rania. Audrey lagi badmood. Sekarang rasanya bukan lagi seperti maju ke medan perang, melainkan masuk sendiri secara suka rela ke kandang Singa yang kelaparan.
Gue masih diam. Tiba-tiba otak gue kosong padahal tadi udah penuh sama hapalan. Telapak tangan gue sibuk membuka tutup seperti sedang mengumpulkan kembali sisa-sisa nyali gue yang hilang entah ke mana. Tapi yang ada gue malahan mundur selangkah. Nggak ada suara sampai Audrey menggeser kursinya. Dengar suara derit kursinya aja gue bisa tahu dia lagi dalam keadaan ingin makan orang.
Kepalanya lurus ke depan. Matanya menangkap sosok gue dari pantulan kaca di depannya. Dia menoleh cepat ke belakang dan matanya membelalak.
"Kok kamu bisa di sini?" teriak Audrey dengan wajah yang mulai panik.
Gue tambah ngehang. Antara terkesima sama ekspresi paniknya atau bingung harus bagaimana.
"Surprise!" Begonya cuma kata itu yang spontan gue keluarkan hingga Audrey di sana terperangah.
Dia memijit-mijit pelipisnya sambil mondar-mandir. "Kamu pasti udah sekongkol sama Rania dan Ivan buat ngelakuin ini, kan?" tuduhnya.
Gue tersenyum miring. "Yaaa.. kurang lebih begitu."
Audrey mengepalkan tangannya. "Aku benci kamu."
Gue udah nggak kaget. "Sorry, kamu bertepuk sebelah tangan, karena aku sayang kamu."
Apa nggak makin marah Audrey gue bilang begini??? Sekarang dia berkacak pinggang. Jelas banget dia menahan emosinya yang hampir meledak. "Buka pintunya sekarang! Aku mau keluar," titahnya.
Gue menggeleng. "Kali ini kamu akan dengarkan aku."
"Aku nggak mau dengar apapun dari kamu."
"Sayangnya kamu mau nggak mau harus dengarkan aku."
Wajah Audrey memerah. Dia bergegas mengambil ponselnya di meja lalu berjalan cepat. Gue pikir dia mau melewati gue, tapi langkahnya malah berhenti beberapa meter dari gue. Cukup dekat sampai gue bisa mencium wangi tubuhnya.
"Minggir! Aku mau pulang." Dia bicara sambil menghentakkan kaki.