I Bet You Love Me

ND
Chapter #27

Terapi Patah Hati

KELVAN

Jadi itu lah akhir kisah cinta gue. Sudah tamat. Audrey benar-benar mendepak gue dari hidupnya meskipun gue udah mati-matian kasih penjelasan ke dia. Nggak ada yang gue tutupin. Memang nggak semua penjelasan gue sesuai dengan rencana awalnya tapi justru itulah diri gue yang paling jujur. Sayangnya kejujuran sudah nggak bisa merubah apapun.

Dan di sinilah gue sekarang. Di apartemen dengan keadaan yang paling berantakan sepanjang hidup gue. Gue udah nggak ingat berapa hari gue nggak keluar apartemen. Nggak ingat ini hari apa. Nggak ingat itu kotak pizza di meja dari kapan. Kalau nih gerombolan manusia nggak datang ke sini, mungkin gue udah jadi fosil dan menggemparkan seluruh stasiun TV dengan judul berita, 'Tewasnya Lelaki Tampan'.

"Lepasin nggak!" perintah Rafi yang sekarang lagi narik satu-satunya benda yang mengingatkan gue dengan Audrey. Jaketnya yang ketinggalan.

Di samping kami yang lagi tarik-tarikkan jaket, ada Bram dan Rudy. Rudy melihat gue dengan tatapan aneh semenjak datang, sedangkan Bram, gue nggak tahu ya itu manusia otaknya di mana. Kayak nggak ada sama sekali rasa prihatinnya. Yang dia lakukan dari tadi adalah merekam video gue dengan kamera ponselnya. Entah maksudnya apa dan gue juga sebenarnya nggak peduli.

Setelah tarik-tarikkan yang cukup lama akhirnya gue menyerah. Rafi mengambil jaket Audrey, menyatukannya dengan beberapa helai baju kotor yang tadi dia pungut di mana-mana. Rudy membuang kotak pizza, botol soda yang sudah kosong, dan beberapa sampah makanan lain. Bram mengambil pel dan sapu lalu mencuci piring. Mereka berdua cukup cekatan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga.

"Nih apartemen udah kayak bukan ditinggalin sama orang," celetuk Rudy saat sudah selesai membuang sampah terakhir.

"Memang bukan orang itu. Tapi seonggok," timpal Bram.

Dan ejekan-ejekan lainnya. Semua hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Nggak ada yang benar-benar gue pedulikan. Jangankan omongan orang lain, diri gue sendiri aja gue hampir nggak peduli.

Setengah jam kemudian apartemen sudah cukup bersih. Rafi dan Rudy menarik kursi makan, bergabung bersama Bram yang sudah lebih dulu duduk di depan gue sambil membolak-balik halaman sketchbook.

"Rumah impian Audrey dan Kelvan?" Dia bertanya dengan nada geli, memperlihatkan gambarnya ke depan wajah gue.

Gue rebut buku itu darinya lalu menutupnya dengan gerakan kasar. Mereka tersentak.

"Jangan mulai. Gue lagi nggak mood diajak bercanda," suara gue yang tadinya seksi jadi parau.

"Yah lagi nggak asik."

Rafi menengahi. "Udah lo diam dulu." Matanya terarah ke gue. "Sekarang lo cerita."

Gue mengerang, tangan menutup wajah, ingatan beberapa hari lalu berlarian di kepala tanpa bisa gue cegah. Dengan cerita ke mereka sama aja seperti mengulik lagi luka gue yang masih basah. Tapi beberapa hari ini gue udah terlalu lama nggak bicara. Hanya kepala gue yang ributnya setengah mati.

Setelah menghela napas kasar, dan erangan yang membuat Bram hampir melempar gue dengan gelas, cerita itu ngalir. Tapi tetap aja di tengah-tengah cerita gue mengerang lagi.

"Dia bilang dia benci gue. Dia nggak mau balik sama gue karena takut sakit hati lagi." Gue mengingat apa yang Audrey ucapkan malam itu. Bahkan setiap kata-katanya kayak di tempel di tubuh gue biar gue sadar diri.

Rudy menggaruk tengkuknya. "Ya wajar sih."

"Lo mau minum dulu nggak? Nangis ya lo? Kalo orang nangis kelamaan bisa dehidrasi."

Mata kami semua tertuju ke Bram yang saat ini lagi nyengir. Sumpah ya manusia itu.

"Terus lo nyerah?" tanya Rafi. Dia biasanya jadi yang paling bijak di antara gue dan Bram namun sekarang sepertinya dia juga nggak tahu harus berkata apa.

Gue menghela napas berat. "Lo pikir gue mau kayak gini? Tapi gue ngomong jujur aja, dia tetap nggak mau balik sama gue."

Nggak ada yang berkomentar lagi. Rudy sibuk garuk-garuk lagi, tangan Rafi mengetuk-ngetuk pinggiran kursi, sedangkan Bram masih sama menjengkelkannya. Diamnya mereka semakin mempertegas kalau hubungan gue dan Audrey memang sudah nggak bisa diselamatkan. Gue kembali meringkuk di sofa, menyelimuti seluruh badan gue dengan selimut yang sudah seminggu nggak dicuci.

Udah berapa hari ya gue nggak ngaca? Mungkin gue akan takut melihat diri gue sendiri. Dalam kehidupan yang sebenarnya, gue adalah laki-laki yang sangat terawat dan wangi. Tapi semenjak Audrey memporak porandakan hidup gue, gue lebih mirip seperti manusia gua dengan kaus lusuh dan celana robek.

"Memangnya Audrey bilang udah nggak cinta lo lagi?" Bram nyeletuk.

"Dia bilang gue udah bikin dia retak dan hancur. Dia nggak bisa lagi sama gue." Lagi-lagi gue mengerang. Wajah masih ditutupi selimut sehingga suara yang keluar sedikit teredam.

"Iya dia bilang udah nggak cinta lo lagi?" ulang Bram. Gue tahu dia gemas banget sebenarnya.

"Nggak bilang itu, tapi dia udah nggak mau sama gue lagi." Masih dengan wajah ditutupi selimut.

Tiba-tiba selimut ditarik paksa oleh Bram. "Bego. Berarti dia masih cinta sama lo."

Gue diam. Otak malah jadi nge blank.

"Emang kalo lagi jatuh cinta bikin otak jadi bego," timpal Rudy.

"Dia lagi patah hati," koreksi Rafi.

"Sama aja. Sama-sama bikin otak lemot."

Bram menggeser kursi lebih dekat. Selimut dia lempar sembarangan. Wajahnya serius kali ini sehingga gelas di nakas nggak jadi gue layangkan ke arahnya.

"Dia cuma bilang nggak mau balik sama lo, bukan karena udah nggak cinta lagi."

"Bedanya apa? Intinya dia nggak mau sama gue," pekik gue frustasi.

"Lo cinta Audrey, Audrey juga masih cinta sama lo. Masalah dia yang nggak mau balik sama lo itu dia lagi coba pake logikanya. Bukan perasaannya."

"Dia cuma nggak mau ambil resiko patah hati lagi makanya dia milih mundur aja."

Sekarang Rafi juga ikut-ikutan. Dia pukul lengan gue pake buku. "Kalo Audrey masih cinta sama lo, berarti masih layak diperjuangin. Meskipun dia bilang nggak mau balik, tapi kalo dia masih cinta sama lo, berarti lo masih ada kesempatan."

"Untuk ngelupain seseorang yang masih dia cintai pasti butuh waktu yang nggak sebentar, kan? Nah itu kesempatan lo."

"Selama dia belum punya pacar baru sih menurut gue masih bisa, ya." Rudy menambahi meskipun dari raut wajahnya dia sendiri nggak terlalu yakin.

Gue terdiam cukup lama, mengulang lagi apa yang mereka bicarakan di kepala. Jadi gini rasanya dicintai tapi nggak dipilih. Tapi yang terpenting masih ada harapan, kan? Masih ada kesempatan untuk gue menggapai kebahagian gue sendiri. Bahkan kebahagian Audrey yang tidak berani dia realisasikan. Sekarang seperti beban berat yang gue pikul selama beberapa hari ini mulai terangkat.

Bram memukul lengan gue pelan. "Ayo boy. Lo usaha lagi."

"Tapi kemarin dia makan bareng sama cowok lain." Bukannya gue jadi ragu, cuma sadar kali ini nggak akan mudah.

"Si Danny itu," sahut Rudy.

"Oh Si Danny." Rafi menatap gue santai. Seolah itu bukan masalah besar. "Temen gue yang gue ceritain waktu itu. Sempat dimutasi dia, tapi sekarang udah balik."

"Bisa nggak lo mutasi lagi dia? Yang jauh dan nggak balik-balik kalo bisa." Kata-kata itu muncul begitu saja tanpa gue rencanakan.

"Ya lo gila! Siapa gue," ujar Rafi agak jengkel.

"Lo nggak usah mikirin itu. Audrey juga nggak bakal mau sama Danny. Bukan tipenya."

"Tipenya yang brengsek kayak Kelvan, ya." Bram nyengir tapi diiyakan juga sama Rudy.

"Terus gue harus gimana?"

Asli. Sekarang gue bingung banget tapi tiga orang di depan gue malah saling pandang dan lempar kode nggak jelas.

"Woy gue harus gimana lagi?" ulang gue kali ini galak.

Rafi beranjak duduk di samping gue. "Mulai dari perhatiin diri lo sendiri dulu deh. Lo lihat nggak sih diri lo sendiri kayak apa?"

Lihat selengkapnya