I Bet You Love Me

ND
Chapter #28

Skenario Baru

AUDREY

Dari sekian banyak hari, Senin memanglah hari yang paling menyebalkan. Bahkan terasanya sudah dari Minggu sore. Makanya aku paling malas sebenarnya kalau diajak kumpul-kumpul sepulang kerja karena sudah kehabisan energi. Niatku sudah jelas tadi. Selesai kerja langsung pulang, sampai rumah, mandi air hangat, lalu langsung tidur. Tadi, sebelum Bella menelepon setengah jam sebelum aku keluar kantor.

Aku juga tidak mengerti kenapa harus ikutan hadir untuk membahas rencana liburan kami minggu ini. Setahuku mereka sudah memutuskan akan ke Anyer dan membuat itinenary lengkap. Rudy bahkan sudah mengirimkan detailnya di grup yang disetujui oleh semua orang. Pada liburan-liburan sebelumnya pun aku biasanya hanya ikutan saja apa yang sudah mereka rencanakan. Seringnya Bella dan Rudy jadi yang paling repot mengatur ini itu selama liburan.

Saat aku datang, mereka sudah duduk di bagian pojok. Tempat yang biasanya kami duduki ketika sedang kumpul. Mereka sedang mengobrol santai sambil menikmati hidangan. Neisha yang pertama kali melihatku, dia melambaikan tangannya lalu menyuruh beberapa orang untuk bergeser. Bella menggamit lenganku untuk segera duduk. Matanya mengerling ke Bimo dan Akas yang segera pindah duduk di depan, sedangkan aku diapit oleh Bella dan Dinar yang terlihat sangat terburu-buru.

"Ayok mulai!" perintah Bella. Nadanya seperti biasa, paling bersemangat di antara yang lain.

"Santai sayang. Itu teman kamu haus kali. " Bimo mengelus lengan Bella.

Rudy dan Dinar tertawa.

"Tau lo! Pantat gue juga baru nempel. Buru-buru banget sih," protesku.

Bella memanggil salah seorang staffnya dan menyebutkan minuman yang biasa kupesan. Tidak ada obrolan basa-basi. Bella langsung membahas rencana liburan. Mungkin mulutnya akan terasa asam jika tidak memulainya sekarang juga. Neisha menggeser sebotol air mineral yang segelnya belum terbuka ke depanku. Dia tahu aku kehausan.

"Jadinya fix ya. Liburan kali ini kita nginep di villa Puncak," ujar Bella disertai dengan tepuk tangan.

Aku mengelap setetes air di sudut bibirku. "Loh bukannya Anyer?"

Dinar yang menjawab, "Nggak jadi, Dre. Bella mabok laut."

Mataku mengarah ke Bella. Karena Bella tidak merespon, Dinar menyenggol lengannya. "Iya gue mabok laut sekarang. Kena angin laut meriang badan gue. Aneh banget, ya. Puncak aja, ya."

"Bukannya udah booking, ya? Terus udah mepet gini emang dapat villa yang masih kosong? Long weekend lho."

Kulirik Bimo yang mendengkus tapi tidak berkomentar.

"Neisha ada kenalan tukang villa. Aman." Bella santai. Sepertinya bukan masalah besar jika harus kehilangan uang suaminya yang sudah terlanjur dibayarkan.

"Dompet masih aman kan, Bro." Akas menepuk-nepuk bahu Bimo.

"Tenang sayang. Nanti aku ngomong sama teman kamu itu biar uang DP nya dibalikin. Bilang buat tambahan biaya lahiran anak kita dia pasti kasihan kok."

Semua memandang Bimo prihatin namun tidak ada yang berkomentar lagi terkait uangnya. Mereka mulai lanjut membagi peran masing-masing. Tidak ada yang merasa keberatan dengan tugas yang sudah ditentukan Bella. Atau mereka terlalu lelah jika harus berdebat karena tahu Bella tidak bisa dibantah. Hanya ada perdebatan mengenai kegiatan yang akan kami lakukan di sana. Kubu perempuan ingin ada kunjungan wisata ke satu atau dua tempat, tapi kubu laki-laki inginnya rebahan di villa saja sepanjang hari.

Debat tak kunjung usai dan mataku sudah lelah menonton dua kubu yang tidak ada tanda-tanda akan menyerah. Akhirnya aku pamit saja ke toilet. Mungkin membasuh wajah dengan air akan membuat wajahku sedikit segar. Aku ingat banyak keluar kantor hari ini. Debu dan polusi sudah pasti melekat sekali di wajahku.

Kakiku melangkah gontai, hendak berbelok ketika akhirnya terpaksa berhenti mendadak. Suara pintu kafe terbuka disusul dengan obrolan dan tawa yang sangat akrab untuk diabaikan. Tiga orang laki-laki masuk. Tertawa-tawa seperti tanpa beban.

Seberapa jauh kamu bisa lari dari takdir? Ada pertemuan yang tidak direncanakan, bahkan tidak diharapkan. Tapi takdir selalu punya caranya sendiri meskipun kamu sudah sekuat tenaga menghindar.

Di sana, laki-laki itu berhenti. Melihatku dengan mata membulat. Wajahnya terkejut tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Ekspresi terkejut itu lekas lenyap. Dia tampak normal, tampak baik-baik saja, seperti pertemuan terakhir kami sebelumnya sama sekali tidak menimbulkan bekas apa-apa. Air wajahnya tenang. Tidak terusik seolah pertemuan kami ini hanya kebetulan yang tidak layak untuk dia sadari.

Kelvan menatapku seperti orang asing, sedangkan aku menghitung setiap detik yang kami habiskan hanya untuk melihat satu sama lain. Setiap detik itu membuatku sadar laki-laki ini tidak lagi keras kepala untuk mengejarku. Dia melanjutkan langkahnya. Bergabung bersama Bram dan Rafi yang sudah lebih dulu mencapai meja. Tidak ada keraguan di dirinya, sedangkan aku masih terpaku di tempat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kenyataan menghantamku sekarang. Kelvan sudah melepasku sepenuhnya.

Lalu seperti takdir yang masih ingin main-main denganku, kini dia membawa skenario baru yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Siska dan Nadya menyusul masuk ke dalam. Seperti dua sahabat lama, lengan Nadya bertaut di lengan Siska. Tawa mereka yang tadinya cekikian kini berhenti begitu sampai di depanku.

"Kalau tahu bakal ketemu di sini, aku pasti bawa Zavier. Dia nanyain terus tuh," ujar Siska ramah setelah sebelumnya dia menyapa dan sempat memelukku.

"Ketemu lagi nih kita." Nadya meremas lenganku pelan. Suaranya terdengar sangat riang. Siang tadi kita bertemu di apartemennya saat membuat konten series bareng Mikayla. Nadya memakai jaket hodie, berkaca mata dan memakai topi yang membuat dirinya tidak mudah dikenali.

Setelah basa-basi singkat mereka pamit untuk bergabung dengan yang lainnya. Kakiku seperti lumpuh karena harusnya aku segera beranjak dari situ. Bukan malah mematung dan membiarkan mataku ini berkhianat — melirik sekilas ke arah mereka yang untungnya tidak sadar aku lirik.

Ketika akhirnya aku sampai di depan toilet, diriku seperti baru saja keluar dari ruangan yang sesak. Aku bisa kembali bernapas, bisa kembali mengontrol diri. Ini wajar, kan? Tidak semua perpisahan meninggalkan bekas yang sama antara kedua belah pihak. Mungkin Kelvan bisa melupakanku lebih cepat, sedangkan aku masih berproses. Dan itu tidak apa-apa. Aku meyakinkan diriku sendiri itu tidak apa-apa.

Jadi kubasuh wajahku beberapa kali, sekedar untuk mengingatkan bahwa ada kenyataan di luar sana yang harus aku hadapi. Kenyataan itu tidak membiarkan aku bersembunyi, tidak membiarkan aku lari, tapi mengujiku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan. Mungkin aku sudah biasa menghadapi Kelvan, namun Kelvan beserta Nadya, aku tidak yakin bisa langsung sukses menghadapinya.

Perjalanan dari toilet kembali ke depan menjadi perjalanan yang terasa panjang. Aku sempat memukul dadaku beberapa kali, mencoba menghempas rasa gemuruh yang entah kenapa muncul padahal sebelumnya tidak ada.

"Kamu nggak apa-apa, Dre?" Neisha sedikit meringis ketika aku sudah kembali duduk di antara mereka. Semua memasang wajah harap-harap cemas.

Kepalaku mengangguk yakin padahal hal pertama yang aku lakukan adalah meraih minumku dan meneguknya sampai tak bersisa, seolah aku habis lari jarak jauh.

Aku sebenarnya bisa mengontrol diriku. Aku yakin aku bisa bersikap biasa saja, namun masalahnya beberapa meter dari kursi tempatku duduk, ada Kelvan dan Nadya yang sedang mengobrol. Mereka duduk berdampingan dengan sebuah laptop yang menyala di depannya. Tidak ada yang menghalangi arah pandangku ke mereka. Dan teman-temanku seperti tidak ada yang peka, tidak ada yang menyuruhku untuk bertukar posisi. Aku pun urung untuk minta pindah karena tidak ingin mereka berpikir aku tertekan di sini.

"Jadi gimana tadi?" Aku berdeham sebelum bertanya. Aku menemukan nada suaraku sedikit berbeda dengan yang tadi.

"Apanya, Dre? Mereka?" tanya Akas, wajahnya bingung tapi kuyakin itu adalah usahanya untuk membuatku jengkel.

"Bukan. Acaranya jadi gimana?" Nadaku meninggi tanpa sadar.

"Mereka lagi reunian kali," jawab Dinar asal. Tidak nyambung dengan pertanyaanku tapi anehnya aku tidak protes dan terbawa hanyut dalam obrolan mereka.

"Dikata semuanya satu kampus kali ah."

"Tau nggak biasanya ada apa setelah reuni?" Rudy bertanya yang membuat semua kepala menoleh ke meja sana. "Kalau reuni biasanya akhirnya ada yang CLBK tau."

"Maksudnya Kelvan sama Nadya?" Entah siapa yang bertanya karena mataku ikutan sibuk melihat dua orang itu yang kini sama-sama sedang menunjuk ke laptop.

"Nggak takut jadi gosip lagi, ya."

"Ngapain takut kalau mereka beneran CLBK."

"Wah padahal belum lama klarifikasi, ya."

"Gue rasa itu ramean biar nggak keendus media, deh. Padahal si Kelvan sama Nadya sedang PDKT lagi. Tuh lihat ih Nadya ngarep banget itu."

Ada satu hal yang menguksikku ketika melihat mereka. Cara Nadya memperhatikan Kelvan ketika sedang bicara. Bertopang dagu, tidak berkedip sedikitpun dan senyum miring. Aku sampai membandingkan dengan caraku sendiri dulu. Sedangkan Kelvan, gerak-geriknya santai, tertawanya seperti teman akrab padahal harusnya mereka sedikit canggung, kan? Bagaimana pun dua orang di sana pernah berbagi masa lalu yang sama.

"Menurut lo mereka lagi ngapain, Dre?" Bella bertanya.

"Kembali merajut tali kasih?" Ngapain juga aku jawab? Kuangkat bahuku sekilas untuk menyamarkan ekspresi sebenarnya.

Bella dan Dinar memandangku.

"Jawaban lo salah, Dre," tegur Dinar, membuat dahiku mengernyit.

Bella mengoreksi jawabanku. "Harusnya lo jawab 'bodo amat sama yang mereka lakukan. Itu bukan urusan gue lagi'. Begitu."

Aku memutar bola mata, meraih lagi gelasku tapi baru sadar minumannya sudah habis. Tindakanku membuat hampir semuanya menahan gelak tawa.

"Gue bantu cari tahu." Bimo beranjak dari duduknya. Tidak ada yang menyuruhnya tapi dia secara suka rela mendatangi meja Kelvan.

"Ngapain sih laki lo?"

Bella hanya mengedikkan bahu. "Make sure apa yang lo bilang kali."

Aku berdecak. "Gue nggak butuh informasi apa-apa. Astaga."

Lihat selengkapnya