I Bet You Love Me

ND
Chapter #29

Antara Keinginan dan Ketakutan

KELVAN

Pagi itu tiga orang laki-laki berangkat liburan ke Puncak. Bagian dari rencana kata Bram, jadi yaudah gue ikut aja meskipun ini kepala gue pening banget. Urusan Audrey belum selesai, tapi hari Senin gue terpaksa harus pergi lagi ke Makassar. Nggak lama sih. Cuma revisi minor sama final alignment. Paling tiga harian sampai seminggu tapi tetap aja gue nggak tenang ninggalinnya.

Gue lirik dua manusia yang masih berada di alam mimpi di kursi belakang. Kami berangkat jam lima dan dua manusia itu langsung melanjutkan tidur bergitu baru jalan, menyisakan gue seorang diri. Nyetir dengan suasana hati yang nggak begitu baik. Gue juga baru tidur jam satu malam. Jam dua pagi baru mulai pules tapi jam empat mereka udah berisik gangguin gue untuk segera siap-siap.

Umpatan kasar keluar saat mobil sudah terjebak selama dua puluh menit tanpa pergerakan sedikit pun. Orang sinting mana sih yang pergi liburan ke Puncak pas libur panjang gini? Niat liburan atau nambahin stress sebenarnya? Dulu gue paling anti kalo diajak liburan ke Puncak pas long weekend gini. Puncak yang harusnya sejuk malah jadi sumpek dengan banyak orang dan kendaraan. Mungkin orang-orang yang tinggal di sini juga malah ikutan stress jadinya karena kedatangan manusia-manusia dari Jakarta.

Gue seruput lagi americano yang udah nggak panas dan menyuapkan sesendok cheesecake ke mulut. Kata Bram gue terkena Audrey's syndrom. Gue memesan makanan dan minuman favorit Audrey. Mungkin sekarang gue nggak bisa dapatin orangnya, tapi paling nggak gue nggak mati rasa. Semua hal tentang Audrey masih ketinggalan di diri gue.

Itu manusiawi kan? Otak kita menyimpan detail sesuatu yang berulang. Misalnya kenangan indah. Ada juga kebiasaan dia yang gue ingat, rutinitas dia yang gue hapal betul. Apalagi wanginya. Semua itu bukan sekedar lewat, bukan cuma jadi arsip, tapi terbuka dengan emosi yang belum dibereskan.

Ngomong-ngomong soal kenangan, ada satu kalimat yang terus berulang di kepala gue sejak pertemuan kami di kafe. Dia bilang kalau gue ingat dia saat bawa Nadya. Tempat kami punya kenangan. Lo bisa jelaskan buat gue nggak? Biar gue nggak terlalu percaya diri. Soalnya takut banget ternyata gue salah sangka. Tapi Audrey menyebutnya kenangan kami, berarti dia masih belum move on kan?

Setelah hampir lima jam perjalanan yang menguras tenaga dan emosi akhirnya kami sampai di villa. Begitu masuk, aura back to nature sangat kental terasa. Di tanah yang luasnya gue perkirakan ada 2 hektar ini terdapat sekitar empat villa yang hampir semua bangunannya menggunakan material kayu. Lingkungannya masih asri, ditambah view Gunung Gede-Pangrango menambah nilai plus pada villa ini.

Berhubung kami sangat kelaparan, kegiatan pertama yang kami lakukan adalah makan. Kami udah nggak peduli lagi dengan barang bawaan kami yang diletakkan sembarangan di depan villa. Kami terlalu lapar untuk memikirkan hal lain. Kami secepat kilat menuju restoran yang letaknya di samping area bermain anak. Memesan makanan dengan porsi kuli lalu nggak ada setengah jam kemudian makanan itu sudah raib. Bram sampai mengelus perutnya yang katanya seperti habis makan gorila.

"Kalau bukan karena nolong temen mah gue nggak mau ikut ke sini. Macetnya nggak ngotak," kata Bram sambil melirik ke gue.

"Demi lo nih," timpal Rafi. Dia harus terima dimusuhin anak istrinya karena mendadak membatalkan rencana yang sebenarnya sudah disusun mereka jauh-jauh hari.

"Ya ini idenya siapa," hardik gue, melempar tisu bekas elap bibir. Bahu Bram bergerak cepat untuk menghindar hingga tisu akhirnya malah masuk ke dalam mangkuk soto yang sisa sedikit.

Dia menaikkan satu alisnya, sekarang mengambil satu batang rokok lalu mulai membakarnya. "Rencananya tetap sama, ya. Cuek aja. Jangan kelihatan lo masih berharap. Udah benar itu waktu di kafe kemarin. Kalo perlu lo telpon Nadya di depan dia. Begitu dia udah goyah banget nih, baru lo penetrasi."

Rafi tergelak. "Bahasa lo ya, penetrasi."

"Mikir jorok ya lo?"

"Lah gue mah udah nikah. Sayang aja udara sedingin ini nggak bawa istri."

"Bagus dah lo nggak bawa. Entar yang ada gue sama Kelvan suruh jagain Zavier lagi, sementara lo berdua enak-enakan."

Rafi nyengir. Bram mau bicara lagi tapi ponselnya lebih dulu berbunyi. Sepertinya sebuah pesan, kemudian tangannya bergerak lincah di atas layar.

"Bella ngabarin udah mau nyampe," ujarnya.

Padahal cuma kabar gitu doang, tapi badan gue langsung bereaksi.

Rafi membetulkan posisi kursinya yang miring. "Pengen nanya dari kemarin tapi lupa mulu. Kok Bella sama Dinar jadi mau bantu? Bukannya mereka jadi orang yang paling marah ya si Audrey patah hati gara-gara Kelvan?"

Gue melirik Bram. Jujur sebenarnya gue nggak peduli. Bram melihat gue, dia nyengir jahil dan gue tahu pasti caranya di luar prediksi kami berdua.

"Lo ingat waktu kita zoom, kan?" tanyanya.

Gue dan Rafi mengangguk.

"Ingat waktu gue rekam video lo di apartemen juga?" tanyanya lagi.

Kami berdua masih nggak ngerti.

"Yang zoom kemaren gue rekam terus gue tunjukkin ke teman-temannya Audrey. Sama video lo yang patah hati kemaren itu juga."

Tawa Rafi meledak.

"Anjiir. Si bego"

Bram menjauhkan kursinya ketika sumpah serapah dari gue belum berhenti. Benar-benar ya tuh manusia.

"Lah yang penting berhasil. Cuma itu doang bukti yang kuat," elaknya.

"Itu aib gue, ya. Muka gue yang lagi jelek itu lo tunjukkin ke mana-mana."

"Yaelah jelek-jelek begitu mah muka lo tetap menjual, Van. Yang penting jadi dapat pendukung, kan. Di kafe kemaren sama liburan ini karena dapat bantuan dari teman-temannya Audrey. Kalau enggak mah nggak mungkin bisa. "

Tangan gue hendak menyentil telinga Bram, tapi tangan Rafi lebih dulu menghalau. Dia mengingatkan untuk segera pergi karena barang bawaan kami belum dibereskan. Setelah membayar semua makanan— kata Bram gue yang harus bayar, kami meninggalkan restoran dengan terburu-buru.

Suasana sekitar villa yang tadinya masih sepi sekarang mulai ramai. Area bermain anak yang tadinya kosong sekarang sudah di penuhi oleh beberapa anak kecil serta kolam renang yang diisi oleh sekitar empat cewek-cewek muda. Rafi sampai harus mengembalikan posisi kepala Bram seolah kepala itu nggak bisa balik lagi setelah melihat sekali ke arah kolam renang.

Kami hampir sampai di persimpangan jalan ketika dari arah depan datang sekelompok orang yang baru tiba. Laki-lakinya menjinjing dua tas sedangkan tiga perempuan asyik bercengkrama di belakang. Benar-benar definisi liburan. Santai, tertawa tanpa beban bahkan beban barang bawaan mereka sendiri.

Kepala gue bergerak reflek mencari sosok lain. Orang-orang itu melambaikan tangan ke kami, tapi sosok itu belum muncul juga. Tubuh gue sampai maju-maju. Mungkin kalau Bram nggak menarik kaos gue, gue udah kebablasan sampai depan pagar.

Baru setelah kami selesai bertegur sapa, sosok itu muncul dengan penampilan yang baru pertama kali gue lihat. Audrey kayaknya belum mandi deh. Kelihatan dari wajahnya yang nyaris tanpa make up selain lipstik nude dan rambut sedikit berantakan. Tapi gimana bisa sih dia tetap cantik begitu? Pakai celana kulot, tank top yang dibalut kardigan serta sandal jepit. Dirinya terlihat jujur. Tanpa rencana, tanpa topeng. Benar-benar hanya seorang Audrey yang baru bangun tidur, mencoba berdamai dengan pagi.

Audrey seperti biasa, nggak masalah kalau harus mengerjakannya seorang diri. Dia membawa tas ukuran sedang dan gelas kopi di tangan kiri. Gue menahan napas ketika mata kami bertemu. Saling tatap. Lagi-lagi seolah waktu berhenti di antara kami. Kalau dia lagi nggak marah kita pasti udah berakhir saling memeluk dan melumat bibir. Tapi sekarang yang ada Audrey kelihatan kayak mau lempar itu gelas kopi ke arah gue. 

Eh tapi gimana ya kalau gue coba cium dia nanti? Mungkin Audrey perlu diingatkan dengan ciuman gue sehingga dia sadar kalau kami memang tercipta satu sama lain. Anjay. Coba nanti gue pikir ulang, takutnya gue malah babak belur.

"Kamu ngapain di sini?" pekik Audrey.

"Udah pasti jawabannya lagi liburan nggak sih?" Gue kembali ke mode menyebalkan.

Dahinya mengernyit lalu berdecak. "Dari sekian banyak destinasi liburan di pulau Jawa, kamu pilih liburan ke Puncak? Dari sekian banyak hotel dan villa di Puncak kamu milih nginep di sini?"

"Ya gimana dong villanya bagus."

Dia mengerjap. "Kamu bisa nggak sih jawabnya yang serius?"

"Udah lama aku serius sama kamu tapi kamu kan nggak percaya."

"Kelvan!"

Gue menghela napas. "Bukan aku yang rencanain liburan ini. Jadi buang jauh-jauh pikiran kamu. Aku nggak lagi ngejar kamu."

Wajah Audrey mendadak pias. Dia mundur selangkah, membuang pandangan ke arah lain. "Dan villa kamu di...?"

Gue menunjuk bangunan di samping kanannya. Audrey mengikuti arah tangan gue. Matanya mengerjap sekali lagi. Semua teman-teman kami seperti menahan napas menonton dua manusia ini berinteraksi.

"Jadi setiap aku mau keluar villa, kemungkinan aku bakal ngelihat kamu gitu?"

"Hmmmm... kayaknya sih. Aku bakal sering keliaran di luar. Atau kamu mau ngedekem aja di dalam. Terserah kamu, sih."

"Buatku ini bukan lagi liburan saat aku lihat kamu di sini juga." Kaki Audrey menghentak.

Gue berani untuk menghampirinya. Hampir goyah saat wangi parfumnya membangkitkan setiap indra di tubuh gue. "Then look away."

Gue berjalan meninggalkannya, diikuti langkah Rafi dan Bram. Kami masuk ke dalam villa, nggak tahu apa yang terjadi dengan teman-temannya setelah Audrey bertanya ke mereka.

***

AUDREY

Liburan biasanya menjadi momen untuk kita melepaskan penat. Di antara rentetan pekerjaan, liburan bisa kasih kita jeda untuk sejenak bernapas, bisa mengistirahatkan hati yang tidak karuan, pelarian dari realita yang tidak menyenangkan. Tapi nyatanya, liburan saat kita patah hati tidak bisa benar-benar menyembuhkannya. Tidak jika orang yang kamu hindari berada di satu lingkungan yang sama dengan kamu.

Aku masih bisa terima dengan kemacetannya. Aku masih bisa terima dengan cuaca yang tidak bersahabat. Tapi Kelvan berada di sini, menghirup udara Puncak yang sama denganku. Meskipun sejuk, itu justru membuatku sedikit sesak. Jaraknya mungkin hanya dua puluh langkah dari tempat aku duduk sekarang.

Dia di sana bersama laki-laki lainnya, ngobrol, tertawa, bergerak bebas ke manapun seperti tidak peduli bahwa aku ada di sini. Mungkin memang benar apa yang dia bilang tadi. Aku nggak lagi ngejar kamu.

Sekarang Kelvan menjauh sedikit untuk menerima telpon. Langkahnya santai, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. Satu kebiasaannya yang masih kuingat. Mataku meneliti raut wajahnya. Sepertinya telpon itu tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dahinya tidak berkerut, tidak ada helaan napas frustasi seperti yang pernah aku lihat dulu. Dia tersenyum tiga kali dan menyugar rambutnya beberapa kali.

Lihat selengkapnya