AUDREY
Sebagai seorang manusia biasa kita sudah pasti pernah berbohong. Bahkan orang yang tidak pandai berbohong seperti akupun pernah berbohong. Tapi tahu apa kebohongan yang paling berat? Bukan yang diucapkan ke orang lain melainkan yang kita ucapkan ke diri kita sendiri.
Kalimat, 'aku baik-baik saja' ternyata tidak sesuai dengan yang kita ucapkan. Jauh di dalam diri kita, kita tahu kita masih terluka, kita sangat lelah tapi kita masih peduli, kita masih berharap. Menyakitkan, kan? Tapi adalagi yang lebih menyakitkan; alasan di balik mengapa kita berbohong adalah untuk membuat diri kita bertahan. Lalu kebohongan itu akan mengikis diri kita sendiri. Perlahan tapi pasti. Ada perasaan-perasaan yang biasanya akan mengikuti.
Sinar matahari menerobos masuk lewat sela-sela jendela. Mataku silau karenanya. Rasanya tidak hangat lagi tetapi panas. Begitu kulirik jam di dinding ternyata aku bangun jam sepuluh pagi. Villa sudah kosong karena orang-orangnya sudah berkegiatan di luar. Aku hanya menemukan sepiring nasi goreng yang sudah tidak lagi hangat di meja makan.
Setelah mengisi perut dan selesai mandi, ponselku bergetar panjang. Kucek ternyata mereka sedang mengirim banyak foto. Ada foto mereka sedang jogging dan berenang. Di beberapa foto juga ada Bram dan Rafi, tapi tidak ada Kelvan. Mataku melihat lagi satu per satu foto yang dikirimkan sampai benar-benar yakin memang tidak ada Kelvan di foto manapun. Satu perasaan kecil mulai muncul; gelisah tanpa sebab jelas.
Aku bergegas ganti pakaian untuk menyusul mereka. Begitu sudah di luar, langkahku berhenti di tengah-tengah, memandang lurus ke villa lain di depanku. Yang tidak aku sadari, aku sudah berdiri mematung di sana. Dua menit atau lima menit aku tidak tahu pasti. Bangunan itu nampak sepi. Pintunya tertutup, jendelanya juga. Bram dan Rafi sepertinya belum balik, tapi apa Kelvan juga tidak ada di dalam? Perasaanku kian gelisah. Saat aku masih bergeming, Bella mengabari mereka semua masih renang, jadi aku lanjutkan kembali langkahku sambil membawa perasaan gelisah itu
Kolam renang itu hanya diisi oleh kami. Bella dan Neisha ada di pinggiran, memperhatikan anak-anak lain yang sedang berenang. Rudy melambaikan tangannya ke arahku, tersenyum meledek ketika dia sengaja masuk ke kolam renang khusus anak-anak. Perbuatannya membuat Bimo dan Akas tertawa. Aku melengos, memilih duduk saja di kursi. Tak lama munculah Bram dan Rafi dari dalam air. Keduanya menyapaku yang kubalas dengan senyum lemah. Mataku memandang ke semua penjuru, Kelvan tetap tidak ada.
Jam satu siang para laki-laki terlalu malas untuk mengunjungi tempat wisata, sedangkan Dinar dan Bella sudah keburu kesal membujuk mereka, jadi mereka putuskan untuk mengeksplor perkebunan saja yang lokasinya masih termasuk kawasan villa. Paling tidak mereka masih bisa foto-foto dengan pemandangan bagus kata Neisha.
Tidak banyak yang bisa dilakukan. Kami kebanyakan jalan, sesekali berhenti untuk berfoto dan terakhir Bella mampir untuk membeli tanaman hias. Ketika dia sedang berdebat dengan Bimo, aku melirik ke Bram dan Rafi. Keduanya sedang mengobrol dengan Akas dan Rudy. Kakiku bergeser lebih dekat tanpa bisa kucegah. Aku bisa mendengar mereka sedang membicarakan rencana tanding futsal bareng. Ada yang mencelos dihatiku mengetahui mereka sedang tidak membicarakan Kelvan.
Perasaan itu terus terbawa sampai malam ketika kami semua sedang berkumpul di luar. Hujan yang tadinya sempat turun tidak menghalangi ide Rudy yang ingin membakar jagung. Dia terlihat paling bersemangat, tidak peduli wajahnya sudah tebal diterpa asap, dia membakar jagung untuk yang kelima kalinya dibantu Bram. Wajar saja karena laki-laki memakan dua sampai tiga jagung.
Setelahnya kami membentuk lingkaran. Tidak ada topik yang pasti, tapi obrolan itu sering memunculkan gelak tawa. Aku sendiri sesekali menimpali tapi lebih seringnya diam. Sibuk sendiri, berusaha mengenyahkan perasaan gelisah tapi juga bertanya-tanya di mana Kelvan berada. Sebetulnya mudah saja. Aku bisa tanya langsung ke mereka tapi tentu saja aku tidak akan melakukannya.
Akhirnya perasaan itu kubawa tidur. Itupun tidurku tidak nyenyak. Aku sering terbangun. Lalu tiba-tiba seperti ada yang menggerakan kedua kakiku, kakiku melangkah keluar. Kembali aku berdiri termenung, mata menatap lurus ke bangunan villa di depan sana. Udara dingin membuat kakiku nyaris beku tapi tidak menggoyahkannya.
Aku tahu pintu itu tidak akan terbuka. Kelvan tidak ada di sana. Kalaupun dia ada kurasa dia enggan untuk menyapaku lagi setelah apa yang terjadi di antara kami kemarin. Dia pantas marah. Dia pantas membenciku setelah apa yang aku katakan. Lalu kenapa aku masih di sini? Mengapa semua ini rasanya salah?
Perasaan kedua yang muncul setelah gelisah; aku marah ke diriku sendiri atas apa yang sudah aku lakukan.
Besok harinya datang begitu cepat. Kami semua sudah berada di parkiran untuk pulang. Barang-barang semua sudah masuk, tidak lupa tanaman hias yang di beli Bella kemarin. Kulihat Bram dan Rafi berjalan menuju mobilnya Bimo. Keduanya juga memasukkan barang bawaan mereka ke sana, membuat dahiku mengernyit. Mereka sempat melihatku, diam sebentar sampai akhirnya Rafi menepuk bahu Bram. Rafi masuk ke dalam sedangkan Bram membuka kembali tas yang tadi sudah dia masukkan. Tangannya mengambil sesuatu lalu dibawa untuk ditunjukkan kepadaku.
Bram nampaknya gugup karena dia tidak langsung bicara ketika sudah sampai di depanku.
"Ke..kenapa?" Aku berharap suaraku tidak menunjukkan keingintahuanku tentang Kelvan.
"Kelvan udah pulang dari kemarin pagi," katanya.
Jantungku seperti terhimpit benda berat. Kemarin pagi berarti saat aku berdiri di depan villa dia memang sudah tidak ada.
"Pagi-pagi banget. Dia kayaknya juga nggak sempat tidur, tapi ngotot tetap pengen pulang. Katanya dia lagi capek, mau istirahat sebentar. Gue sih nggak ngerti yang dia maksud capek apa. Bilang capek eh malah balik ke Jakarta."
Aku tidak tahu harus merespon bagaimana tapi otakku mengulang lagi kejadian malam itu. Bagaimana wajah Kelvan malam itu.
"Dan gue ingin minta maaf ke lo secara resmi. Harusnya dari lama gue ngomong ke lo tapi jujur gue takut." Kepala Bram sempat menunduk sebelum kembali bicara. "Gue ingin minta maaf tentang taruhan itu. Gue nyesel banget akibatnya kayak gini. Gue salah, Dre. Itu ide gue awalnya. Gue nggak pikir panjang. Sekarang semuanya runyam."
Sejenak aku terdiam, merasa kurang nyaman itu harus dibahas lagi sekarang.
"Lupain Bram. Gue udah nggak mau bahas itu."
Bram mengangguk, dirinya terlihat pasrah. "Tapi lo perlu lihat ini, Dre." Dia menyerahkan kepadaku sebuah buku, seperti buku sketsa arsitektur. Aku pernah melihatnya. "Pertemuan di kafe kemarin dan liburan ini adalah cara kita supaya lo dan Kelvan balik lagi, tapi buku ini jadi usaha terakhir kita."
Kuraih buku sketsa itu dengan ragu. Tanganku sepertinya bergetar sedikit diikuti perasaan aneh yang menyusup cepat ke dadaku.
"Ada alasan kenapa gue ajak Kelvan taruhan waktu itu." Bram mulai berjalan, kemudian berbicara lagi sebelum benar–benar meninggalkanku. "Itu tentu aja cara yang salah tapi entah kenapa gue yakin dia bakalan beneran jatuh cinta sama lo dan lo tepat buat dia."
***
Kurasa satu hal yang susah dilakukan oleh manusia adalah jujur kepada dirinya sendiri. Mengakui apa yang kita rasakan, inginkan dan kita takuti. Seringnya kita akan merasa tidak nyaman karena berarti harus berhadapan dengan rasa malu, kecewa dan takut gagal. Seperti aku yang masih menganggap ini bisa kuatasi padahal kenyataannya ini menyakitkan.