Hujan turun tanpa sabar malam itu—lebat, miring, dan bising, seperti ribuan jarum kecil yang dilemparkan tanpa jeda ke permukaan jalan, sementara lampu kendaraan memantul di aspal basah, pecah menjadi garis-garis cahaya yang bergetar setiap kali ban melintas, seolah dunia sedang sedikit bergeser dari tempatnya. Di antara arus kendaraan yang melambat, sebuah motor hitam melaju sedikit lebih cepat dari seharusnya, membelah tirai air yang semakin menebal, dan di atasnya Raka Adita Pradana menundukkan kepala untuk menghindari hujan yang menghantam visor helmnya, jaketnya telah basah kuyup, sarung tangannya mulai terasa licin, sementara dingin malam merayap perlahan ke dalam tubuhnya tanpa bisa dicegah. Di dalam saku celananya, ponsel bergetar sesekali—getaran kecil yang terasa tidak pada tempatnya, seperti sesuatu yang mencoba memanggilnya dari tempat yang tidak bisa ia pahami—namun Raka tidak berhenti untuk memeriksanya; ia hanya ingin segera sampai rumah, karena hari itu terasa terlalu panjang dan entah kenapa seperti belum benar-benar selesai.
Di kantor, listrik sempat mati hampir satu jam, membuat server lumpuh dan laporan tertunda, sementara atasannya—yang biasanya tidak banyak bicara—menghabiskan setengah sore berdiri di belakang kursinya seperti bayangan yang tidak sabar, menekan dengan kalimat yang sederhana tetapi cukup untuk tertinggal lama di kepala: “Raka, aku butuh datanya malam ini.” “Aku tahu.” “Aku serius.” “Aku juga serius.” Percakapan itu masih terngiang bahkan setelah laporan selesai tepat sebelum pukul sembilan, dan di parkiran, di bawah kanopi kecil yang tak banyak membantu, Dimas berdiri menatap langit dengan ekspresi pasrah yang nyaris komikal, lalu bertanya apakah ia benar-benar akan pulang sekarang, sebelum akhirnya mengingatkan dengan nada setengah bercanda namun anehnya terasa lebih berat dari seharusnya: jembatan itu licin kalau hujan seperti ini—kalimat yang seharusnya biasa saja, tetapi entah kenapa ikut terbawa bersamanya ke jalan.
Kini, hampir tiga puluh menit kemudian, Raka berada di jalan utama yang membelah sungai besar di tengah kota, tepat menuju jembatan tua dengan lampu-lampu kuning redup yang tampak lelah, seperti sesuatu yang telah terlalu lama menyaksikan malam demi malam tanpa pernah benar-benar berubah, dan meskipun ia sudah melewati jembatan itu ratusan kali tanpa kejadian apa pun, malam ini terasa sedikit berbeda tanpa alasan yang jelas. Ia menaikkan sedikit kecepatan, roda motornya meluncur di atas lapisan air tipis yang membuat jalan tampak seperti kaca, sementara di kejauhan guntur menggulung panjang, dalam dan berat, dan Raka—yang tidak pernah benar-benar menyukai petir karena ia tidak bisa diprediksi atau dihitung—hanya bergumam pelan, “jangan sekarang,” seolah langit bisa diajak bernegosiasi.
Ponsel di sakunya kembali bergetar, kali ini lebih lama dan lebih mendesak, satu kali, dua kali, tiga kali, seolah ada seseorang yang tidak ingin berhenti, dan tanpa berpikir panjang Raka menunduk sedikit, tangannya bergerak refleks menuju saku hanya untuk menghentikan gangguan kecil itu, namun pada detik yang sama dunia seolah pecah menjadi cahaya putih yang menyilaukan. Kilatan itu datang terlalu cepat untuk dipahami dan terlalu terang untuk dilihat, sementara dentuman yang menyertainya tidak hanya terdengar, tetapi menghantam langsung ke dalam tubuhnya, menjalar melalui tulang dan saraf dalam satu gelombang yang brutal, dan dalam sekejap semua kendali hilang sebelum rasa sakit sempat terbentuk menjadi sesuatu yang bisa dikenali.