Hujan turun dengan cara yang tidak sabar malam itu—lebat, miring, dan penuh suara seperti ribuan jarum kecil yang dilemparkan ke permukaan jalan. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal basah, memecah cahaya menjadi garis-garis panjang yang bergerak dan bergetar setiap kali ban mobil melintas. Di antara arus kendaraan yang melambat, sebuah motor hitam melaju sedikit lebih cepat dari yang seharusnya, menembus tirai air yang terus menebal.
Pengendaranya, Raka Adita Pradana, menundukkan kepala untuk menghindari hujan yang menghantam visor helmnya. Jaketnya sudah basah kuyup, sarung tangannya mulai terasa dingin dan licin, sementara layar ponsel di saku celananya bergetar sesekali—mungkin notifikasi yang datang terlambat karena sinyal yang kocar-kacir di tengah badai.
Raka tidak berhenti untuk memeriksanya. Ia hanya ingin cepat sampai rumah. Hari itu terlalu panjang.
Di kantor, listrik sempat mati selama hampir satu jam. Server down, laporan tertunda, dan atasannya—yang biasanya tidak terlalu banyak bicara—menghabiskan setengah sore berdiri di belakang kursinya seperti bayangan yang menuntut.
“Raka, aku butuh datanya malam ini.” “Aku tahu,” jawab Raka tanpa menoleh dari barisan kode di layar laptopnya. “Aku serius.” “Aku juga serius.”
Laporan itu selesai tepat sebelum pukul sembilan. Di parkiran, Dimas berdiri di bawah kanopi kecil sambil menatap langit dengan ekspresi pasrah yang komikal.
“Lu yakin mau pulang sekarang?” tanya Dimas saat melihat Raka mengenakan helm. Raka hanya mengangkat bahu. “Kalau nunggu hujan reda, bisa sampai subuh.” Dimas menghela napas pendek. “Ya sudah. Hati-hati. Jembatan itu licin kalau hujan begini.”
Kini, hampir tiga puluh menit kemudian, Raka berada di jalan utama yang memotong sungai besar yang membelah kota. Di atas sungai itulah berdiri sebuah jembatan tua yang lampu-lampunya selalu tampak redup dan kuning pucat. Raka sudah melewati jembatan itu ratusan kali. Malam ini seharusnya tidak berbeda.
Ia menaikkan sedikit kecepatan motornya. Air hujan mengalir di permukaan jalan seperti lapisan tipis kaca. Di kejauhan, guntur terdengar panjang dan bergulung, sebuah peringatan dari langit yang ia abaikan.
“Jangan sekarang,” gumamnya pelan di balik helm. Raka tidak pernah benar-benar suka petir. Segala sesuatu yang tidak bisa dihitung atau diprediksi secara logis selalu membuatnya tidak nyaman.
Tepat ketika ia berada di tengah bentang jembatan, ponsel di saku celananya kembali bergetar. Getarannya terasa lebih panjang dan intens, seolah seseorang di ujung sana sedang menekan tombol kirim tanpa jeda. Satu, dua, tiga kali.
Refleks, sambil tetap mengendalikan setir, Raka menunduk sedikit untuk melirik saku celananya. Tangannya bergerak hendak menepuk kantong jaket untuk membungkam getaran itu.
Namun, pada detik itu juga, dunia meledak dalam warna putih.
Sebuah kilatan menyambar dari titik buta di atas kepalanya. Begitu terang hingga saraf matanya seolah dipaksa mati sesaat. Tidak ada waktu untuk berpikir. Cahaya itu datang bersamaan dengan dentuman tajam yang menghantam langsung ke sumsum tulang.
Petir itu tidak jatuh di kejauhan. Ia jatuh tepat di titik tempat Raka berada.
Tubuh Raka terhentak oleh gelombang panas dan listrik yang merambat secepat kilat dari helm hingga tulang punggung. Setir motor terlepas. Pandangannya berubah menjadi salju putih yang menyilaukan, dan sebelum otaknya sempat memproses rasa sakit, tubuhnya sudah terhempas keras ke aspal.
Motornya tergelincir, memercikkan bunga api yang segera padam oleh air hujan. Helmnya menghantam jalan dengan suara tumpul yang final.
Beberapa kendaraan melambat. Lampu rem merah menyala satu per satu di sepanjang jembatan, menciptakan pemandangan yang mencekam di tengah badai.
“Eh! Ada orang jatuh!” “Kayaknya kena petir!”
Suara-suara itu terdengar seperti datang dari dasar sumur yang dalam. Bagi Raka, segalanya memudar. Dingin air hujan yang merembes melalui jaketnya adalah hal terakhir yang ia rasakan sebelum pintu kesadarannya tertutup rapat.