Hujan masih turun ketika pagi datang, meskipun tidak lagi dengan kemarahan yang sama seperti malam sebelumnya; ia jatuh lebih pelan, lebih ragu, seperti langit yang belum sepenuhnya pulih dari sesuatu yang telah dilepaskannya. Dari jendela kamar rumah sakit, kota terlihat pucat dan berat, menggantung rendah di bawah awan yang enggan bergerak, seolah waktu sendiri ikut tertahan di antara sisa-sisa badai. Cahaya pagi tidak benar-benar hadir—ia hanya menyelinap tipis, cukup untuk menunjukkan bahwa hari telah berganti, tetapi belum cukup untuk membuat dunia terasa hidup kembali.
Raka terbangun perlahan dengan tubuh yang terasa asing, seolah setiap ototnya baru saja melewati sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diingat. Beberapa detik pertama selalu kosong—sebuah ruang tanpa bentuk di mana kesadaran belum sepenuhnya menempel pada realitas—hingga akhirnya satu per satu detail kembali: bau antiseptik yang tajam, suara roda troli di lorong, cahaya lampu yang terlalu putih. Rumah sakit. Kata itu muncul terakhir, tetapi langsung mengunci semuanya pada tempatnya.
Ingatan tentang malam sebelumnya tidak datang sebagai cerita utuh, melainkan potongan-potongan yang dipaksa menyatu—aspal basah, jembatan yang terlalu sepi, lalu cahaya putih yang seolah merobek sesuatu di dalam dirinya. Ia tidak benar-benar mengingat rasa sakit; yang tersisa justru sensasi yang lebih aneh, seperti tubuhnya pernah dipaksa beresonansi dalam frekuensi yang salah. Ia mengangkat tangan kirinya perlahan, memperhatikan perban tipis di pergelangan, bukti kecil dari sesuatu yang seharusnya jauh lebih buruk.
“Beruntung.”
Kata itu terlintas begitu saja, mengingatkan pada ucapan dokter semalam. Namun bagi Raka, kata itu tidak pernah terasa seperti penjelasan—ia hanya label untuk sesuatu yang tidak bisa dihitung. Beruntung adalah ketika sistem kembali online sebelum deadline, ketika data tidak korup, ketika semua variabel masih bisa dikendalikan. Bukan ketika tubuhnya dihantam sesuatu dari langit yang bahkan tidak bisa diprediksi. Ia menatap langit-langit cukup lama, seolah berharap menemukan pola di sana—sesuatu yang bisa menjelaskan kenapa ia masih hidup sementara logika seharusnya tidak memihaknya.
Ponselnya tergeletak di meja nakas, tepat di samping segelas air yang sudah kehilangan dinginnya. Ia meraihnya tanpa berpikir, seperti refleks yang datang lebih dulu daripada keputusan. Layar menyala, dan seperti malam sebelumnya, satu percakapan sudah terbuka—sendirian di tengah kekosongan yang tidak wajar. Tidak ada nama. Tidak ada riwayat. Hanya satu jejak yang tertinggal, seperti sesuatu yang menolak dihapus.
Utari: Karena aku juga sedang mendengar hujan sekarang.
Utari: Dan entah kenapa rasanya seperti sesuatu baru saja terjadi.
Raka membaca kalimat itu lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—bukan pada kata-katanya, tetapi pada rasa yang tertinggal setelahnya. Terlalu sinkron. Terlalu dekat untuk sesuatu yang seharusnya kebetulan. Secara logika, ia tahu apa yang harus dilakukan: abaikan, hapus, tutup anomali sebelum menjadi sesuatu yang lebih besar. Namun jemarinya bergerak lebih cepat dari keputusan yang belum selesai ia buat.
Raka: Pagi.
Begitu terkirim, ia langsung menyadari betapa konyolnya itu terdengar. Pagi? Kepada siapa? Ia bahkan tidak tahu siapa perempuan ini, atau bagaimana mereka bisa terhubung sejak awal. Namun sebelum ia sempat menarik kembali pikirannya, tanda centang berubah biru hampir seketika—terlalu cepat untuk sesuatu yang disebut kebetulan.
Tiga titik muncul.
Utari sedang mengetik.
Utari: Pagi.
Utari: Kamu masih di rumah sakit?