I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #3

Cerita yang Tersisa dari Badai

Sorenya, Cahaya matahari seperti tenggelam setengah hati, tersaring paksa oleh lapisan awan kelabu yang belum selesai menumpahkan sisa-sisa hujan. Di dalam kamar rumah sakit, suasana tetap terasa terlalu steril, terlalu sunyi. Udara menyebarkan bau antiseptik yang tajam, seolah menegaskan batasan suci antara ruang isolasi Raka dan dunia luar yang terus bergerak tanpa memedulikannya.

Raka yang masih terbangun cukup lama. Matanya menatap langit-langit putih tanpa kedip, namun pikirannya tertahan di jembatan itu—di titik di mana arus listrik ribuan volt memutus kesadarannya. Tubuhnya terasa ringan, hampir tak berbobot, tetapi di dalam kepalanya, ada sesuatu yang berat dan belum selesai.

Derit pintu yang terbuka pelan memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Dimas masuk dengan langkah santai yang dipaksakan. Jaket tipisnya masih menyisakan jejak basah di bagian bahu, rambutnya berantakan diterpa angin, dan ekspresi wajahnya—campuran antara cemas dan lega—langsung berubah drastis begitu melihat Raka duduk bersandar di tempat tidur.

“Anjir… hidup juga lo ternyata,” cetus Dimas, suaranya terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi itu.

Raka hanya menghela napas pendek, rasa pening sedikit mendera pelipisnya. “Harusnya lo pasang muka sedih dikit.”

“Gue udah sedih lima detik penuh di parkiran tadi. Itu jatah emosi tahunan gue, jangan diminta lagi.” Dimas menarik kursi besi di samping tempat tidur tanpa izin, menimbulkan suara decitan linu. Ia duduk, matanya memindai Raka dari ujung kepala hingga kaki, seperti seorang mekanik yang sedang memeriksa mesin usai kecelakaan fatal.

“Serius, Rak. Kata suster tadi lo kena petir?”

“Katanya.”

“Katanya?” Dimas mengernyit, tidak puas dengan jawaban irit itu. “Lo sendiri gimana? Ngerasain apa pas kejadian?”

Raka terdiam sejenak. Ia mencoba memanggil kembali memori malam itu, namun yang didapatnya hanyalah potongan gambar yang buram. “Lebih kayak… semua mati sebentar. Bukan sakit. Lebih ke… kosong. Gelap total, lalu tiba-tiba gue bangun di sini.”

Dimas mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang keras. “Atau alternatif lain yang lebih masuk akal menurut logika IT gue: lo halu karena kurang tidur, nabrak tiang listrik, kesetrum, terus otak lo dramatisasi kejadiannya jadi ‘disambar petir’ biar terdengar lebih keren di CV.”

Raka melirik sahabatnya itu dengan tatapan datar. “Gue lagi serius, Dim.”

“Gue juga,” balas Dimas cepat, nadanya mendadak turun satu oktav. “Masalahnya lo kebanyakan kerja. Otak lo udah overclock. Halusinasi itu efek samping yang wajar buat orang yang lupa caranya istirahat.”

Hening merayap di antara mereka selama beberapa saat. Dimas berdeham, mencoba mengembalikan suasana santai. “Ngomong-ngomong… HP lo mana? Masih utuh?”

Raka memberi isyarat dagu ke meja nakas. “Itu.”

Dimas mengambil ponsel hitam itu, menyalakan layarnya, lalu langsung mengernyitkan dahi dalam-dalam. “Buset… Rak, ini HP masih lo pake? Lo analis data tingkat tinggi, tapi HP lo udah kayak artefak museum purbakala.”

“Masih bisa dipake buat nelepon dan kirim pesan. Itu cukup.”

“Ya… sekarang enggak,” balas Dimas sambil mengangkat alis, menunjukkan layar ponsel Raka yang sedikit berkedip. “Udah waktunya ganti, Pak. Semesta literally nyetrum lo sampai hampir mati cuma buat bilang: ’Upgrade, Raka. Upgrade!’”

Raka tidak repot-repot menanggapi candaan itu. “Gue butuh bantuan lo.”

Dimas menghela napas panjang, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Nah, ini dia. Baru sadar dari pingsan, langsung mikirin orang lain.”

“Tolong kabarin kantor. Bilang HP gue rusak, jadi sementara sulit dihubungi. Bilang data klien Amanah Tech sudah gue backup di cloud.”

Lihat selengkapnya