Waktu merayap seolah kakinya dirantai sore itu. Indera Raka menajam secara tidak wajar; setiap detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman, dan setiap suara langkah kaki di lorong rumah sakit membuat napasnya tertahan. Ia duduk setengah bersandar, ponsel tergenggam erat di tangan yang sedikit lembap oleh keringat dingin. Pandangannya terpaku pada pintu kayu berwarna krem di hadapannya, menanti sosok yang bahkan belum pernah ia bayangkan wujudnya.
Di luar jendela, langit Kota Pinus masih betah dengan warna abu-abu monokrom. Sisa hujan semalam menggantung di udara, menciptakan ilusi optik seolah kota ditahan di paruh waktu—enggan beranjak menuju siang, namun sudah dipaksa meninggalkan pagi.
Dimas, yang duduk di kursi penunggu, mulai kehilangan kesabaran alaminya. Ia berulang kali mengecek jam tangan, lalu melirik Raka dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara bosan, cemas, dan skeptis. Di matanya, Raka terlihat seperti orang aneh yang sedang menunggu keajaiban dari dalam kepalanya sendiri. Namun, getaran ganjil di ruangan itu membuatnya urung untuk melontarkan lelucon datar.
Ponsel di tangan Raka bergetar. Satu pesan pendek masuk.
Utari: Aku jadi ke sana.
Sederhana. Terlalu sederhana untuk dampak yang ditimbulkannya. Jantung Raka bereaksi berlebihan, berdentum keras melawan tulang rusuknya.
“Dia chat apa?” tanya Dimas, nada suaranya naik satu oktav, menyiratkan ketertarikan yang dipaksakan.
Raka tidak langsung menjawab. Ia membaca ulang kalimat itu, memastikan matanya tidak menipunya di bawah pengaruh obat-obatan rumah sakit. Jari-jarinya mengetik balasan dengan hati-hati, seolah setiap karakter bisa mengubah realitas.
Raka: Kamu serius mau ke rumah sakit?
Jeda. Indikator 'typing' muncul dan hilang.
Utari: Iya. Kamu di rumah sakit apa?
Raka mengembuskan napas panjang. Ada rasa lega yang aneh sekaligus ketakutan yang mendesak.
Raka: Sekar Niskala Hospital. Kamar 312.
Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Sunyi kembali menguasai kamar, menyisakan bunyi bip monoton dari monitor jantung.
Lalu—
Utari: Oh…
Jeda lagi. Lebih lama. Raka bisa merasakan Dimas ikut menahan napas di sampingnya.
Utari: Rumah sakit yang dekat sungai itu, ya? Di Jalan Terusan?
Raka mengernyit tipis. Ada nada familiar yang janggal dari pertanyaan itu.
Raka: Iya.
Balasan berikutnya datang lebih cepat, seolah keraguan Utari menguap.
Utari: Aku tahu tempat itu. Dulu aku sering ke sana.