Sore bergerak lambat menuju petang di balik jendela Kamar 312. Langit Kota Pinus masih tertutup lapisan awan kelabu yang tersisa dari badai malam sebelumnya, membuat cahaya matahari hanya turun sebagai semburat pucat di antara gedung-gedung. Jalanan di bawah masih basah, atap kendaraan memantulkan cahaya seperti potongan-potongan logam, sementara sesekali angin membawa rintik tipis yang menempel pada kaca sebelum menghilang.
Di dalam kamar, waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.
Raka duduk setengah bersandar di ranjang rumah sakit dengan ponsel lama tergenggam di tangan. Sejak beberapa menit lalu, matanya berkali-kali kembali pada satu pesan yang masih terbuka di layar.
Utari: Aku ingin berkunjung… boleh?
Kalimatnya sederhana. Bahkan terlalu sederhana dibandingkan kekacauan yang ditimbulkannya.
Sejak malam sebelumnya, Raka sudah mencoba menerima bahwa ada seorang perempuan asing bernama Utari yang entah bagaimana terhubung dengan ponselnya setelah sambaran petir. Ia masih bisa memaksa pikirannya menerima pesan-pesan aneh itu sebagai kerusakan sistem, anomali jaringan, atau rangkaian kebetulan yang belum memiliki penjelasan.
Tetapi kunjungan?
Itu berbeda.
Jika Utari benar-benar datang ke rumah sakit, maka semua kemungkinan yang selama ini masih bisa ia sembunyikan di balik istilah error, bug, atau anomali akan diuji oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Sebuah pintu.
Jika pintu itu terbuka dan Utari berdiri di sana, berarti perempuan itu nyata.
Jika tidak—
Raka belum ingin menyelesaikan kemungkinan kedua.
Dimas duduk di kursi penunggu beberapa langkah dari ranjang sambil memainkan tutup botol air mineral. Sejak membaca pesan Utari tadi, sahabatnya itu tidak lagi banyak melontarkan lelucon. Sesekali ia melirik Raka, lalu pintu, kemudian kembali menatap jam tangannya seolah ikut menunggu sesuatu yang tidak ingin ia akui sedang dinantikannya.
“Jadi?” tanyanya akhirnya.
Raka mengangkat pandangan. “Jadi apa?”
“Lo izinin dia datang?”
Raka menatap layar lagi. “Belum gue jawab.”
Dimas mendecakkan lidah. “Lah, kenapa?”
“Gue enggak tahu.”
“Tumben.”
Raka mengernyit. “Apanya?”
“Biasanya semua hal di kepala lo punya jawaban. Minimal tabel analisis.”
“Ini bukan pekerjaan.”
“Nah.” Dimas menunjuknya dengan tutup botol. “Justru itu masalahnya.”
Raka memilih mengabaikannya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Utari: Aku jadi ke sana.
Jantung Raka seketika menghantam tulang rusuknya lebih keras.
Ia membaca kalimat itu dua kali, lalu jemarinya mulai bergerak.
Raka: Kamu serius mau ke rumah sakit?
Tiga titik langsung muncul.
Utari: Iya. Kamu di rumah sakit apa?
Raka menarik napas pendek.
Ia menatap Dimas sebentar sebelum mengetik.
Raka: RS Bhakti Husada. Kamar 312.
Pesan terkirim.
Kemudian tidak ada apa-apa.
Tiga detik.
Lima detik.
Sepuluh.
Raka mulai mengerutkan kening ketika indikator mengetik akhirnya muncul, menghilang, lalu muncul lagi.
Utari: Oh…
Raka menatap satu kata itu cukup lama.
Ada sesuatu dalam jedanya yang terasa janggal.
Utari: Yang dekat sungai itu, kan? Di Jalan Terusan?
Raka langsung menegakkan punggung.
Raka: Iya.
Kali ini balasannya datang lebih cepat.
Utari: Aku tahu tempatnya. Dulu aku sering ke sana. Temanku pernah berobat lama di situ.
Raka tidak langsung mengetik.
Justru kenormalan jawaban itu yang terasa aneh.
RS Bhakti Husada bukan rumah sakit kecil yang tersembunyi. Bangunannya berdiri tidak jauh dari sungai utama Kota Pinus dan dikenal hampir semua orang yang tinggal cukup lama di kota itu. Utari mengetahui lokasinya bukan sesuatu yang mustahil.
Tetapi sejak malam sebelumnya, segala sesuatu yang terlalu masuk akal justru membuat Raka semakin waspada.
“Dia tahu tempatnya?” Dimas bertanya.
Raka mengangguk. “Temannya pernah dirawat di sini.”
Dimas mengangkat kedua bahu. “Ya bagus, dong.”
“Bagus gimana?”
“Berarti kemungkinan besar dia manusia beneran.” Dimas kembali bersandar. “Bukan penunggu jembatan yang nyasar ke WhatsApp lo.”
Raka melirik datar.
“Gue serius.”
“Justru itu yang bikin gue khawatir.”
Dimas terdiam.
Untuk sesaat, ekspresi bercandanya memudar.
“Karena kalau dia manusia beneran,” lanjut Raka pelan, “berarti kita harus menjelaskan kenapa semua chat di HP gue hilang dan cuma percakapan sama dia yang tersisa.”
Dimas tidak menjawab lagi.
Ponsel Raka kembali bergetar.
Utari: Aku udah jalan.
Sejak saat itu, perhatian Raka hampir sepenuhnya berpindah pada pintu.
Ia mencoba membaca beberapa pesan kantor yang masuk melalui laptop Dimas, gagal memahami satu paragraf pun, lalu akhirnya menyerah. Setiap suara roda troli dari lorong membuat kepalanya menoleh. Setiap langkah kaki yang mendekat membuat napasnya tertahan sedikit lebih lama. Bahkan suara pintu kamar lain yang terbuka beberapa meter dari sana beberapa kali membuat otot bahunya menegang.
Dimas memperhatikan semua itu dengan ekspresi geli yang sengaja disembunyikan.
“Rak.”
“Hm?”
“Lo sadar enggak dari tadi tiap ada suara sepatu lo nengok?”
“Enggak.”
“Lo bahkan tadi sempat ngerapiin rambut.”
Raka menatapnya tajam. “Enggak.”
“Gue lihat.”
“Refleks.”
“Terus selimut lo juga dirapiin.”
Raka menunduk.
Tanpa disadari, beberapa menit sebelumnya ia memang telah menarik selimut sedikit lebih tinggi dan merapikan lipatannya.
Dimas tersenyum lebar.
“Anjir.”
“Apaan?”
“Lo gugup.”
“Enggak.”
“Raka Adita Pradana gugup nunggu cewek.”
“Dia bukan—”
Raka menghentikan kalimatnya.
Dimas langsung mengangkat kedua alis.
“Bukan apa?”
Raka mendengus. “Diam, Dim.”