Hening merayap kembali, kali ini jauh lebih pekat dan menakutkan, mencekik setiap pertahanan logika yang tersisa di kepala Raka. Di luar jendela, rintik hujan mulai turun kembali, membasahi kaca, memburamkan pandangan ke dunia luar.
Tepat ketika Dimas hendak membuka mulut untuk melontarkan teori penyangkalan lainnya, ponsel di tangan Raka meledak dengan dering yang memekakkan telinga.
Layar ponsel berkedip-kedip brutal, menampilkan panggilan suara dari kontak tunggal itu: 'U'.
Jantung Raka serasa melompat ke tenggorokan. Keringat dingin meletup seketika di dahi dan telapak tangannya, membuat ponsel itu terasa licin dan berbahaya, seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Ia menatap tombol hijau di layar dengan horor. Logikanya berteriak untuk melempar ponsel itu jauh-jauh, menghancurkannya hingga berkeping-keping untuk menghentikan kegilaan ini. Tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. Ini melanggar seluruh hukum alam yang ia ketahui.
“Rak… HP lo bunyi,” bisik Dimas, suaranya parau, matanya terpaku pada layar yang terus berkedip. Ia mundur satu langkah, naluri bertahannya mulai mengambil alih.
Raka tidak punya pilihan. Didorong oleh kekuatan tak kasat mata yang melumpuhkan akal sehatnya, jari jemarinya yang gemetar hebat menggeser tombol hijau itu.
Ia menempelkan ponsel ke telinganya. Napasnya tertahan.
"Halo? Raka?"
Suara itu masuk ke indra pendengarannya, memporak-porandakan sisa-sisa kewarasannya.
Itu adalah suara perempuan. Suara Utari.
Deskripsi Dimas tentang 'penunggu jembatan' langsung sirna. Suara itu terlalu… hidup. Ada nada melodius yang hangat di sana, sedikit serak di ujungnya—tipe suara yang menenangkan, ramah, dan penuh energi yang tertahan. Namun saat ini, suara itu terdengar rapuh, bergetar oleh kebingungan dan ketakutan yang murni.
Raka terpaku. Tenggorokannya terasa seperti disemen. Ia mencoba bersuara, namun yang keluar hanyalah embusan napas yang tertahan.
“Raka? Kamu dengar aku? Ini… ini aneh banget. Aku berdiri tepat di depan pintu Kamar 312, tapi pintunya dikunci dan susternya bilang… dibilang kamarnya kosong.” Suara Utari meninggi, ada nada keputusasaan yang mulai merayap naik.
Raka menelan ludah pelan, mencoba mengumpulkan serpihan keberaniannya. “Aku… aku dengar,” jawabnya parau, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
“Raka, kamu di mana sebenarnya? Jangan bercanda ya, ini nggak lucu.”
Raka menatap Dimas yang berdiri mematung di dekat pintu, lalu menatap sekeliling kamarnya yang nyata. Ranjang besi, monitor jantung yang masih berdenyut bip monoton, kantong infus yang tergantung. Semuanya ada di sini.
"Aku di sini, Utari," bisik Raka, putus asa. "Di Kamar 312. RS Bhakti Husada. Aku… aku bisa lihat pintu krem di depanku sekarang."