I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #5

Halo, Perempuan Misterius

Dering ponsel itu memecah keheningan Kamar 312 dengan kasar. Raka menatap layar yang menyala di tangannya, sementara satu huruf yang beberapa jam lalu ia simpan sebagai nama kontak kini berpendar di tengah layar.

U

Untuk beberapa detik ia hanya diam. Rasa dingin menjalar dari telapak tangannya hingga ke tengkuk, bukan karena ia takut menerima telepon dari seorang perempuan asing, melainkan karena beberapa menit sebelumnya perempuan itu mengaku sedang berdiri tepat di depan kamar yang kini ia tempati—sebuah kamar yang, menurut semua orang di sisi Utari, kosong.

Dimas ikut terpaku pada layar.

“Angkat, Rak.”

Raka tidak bergerak.

“Kalau lo enggak angkat sekarang, gue yang angkat.”

Ancaman itu akhirnya membuat jemari Raka bergerak. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

“...Halo?”

Suara perempuan terdengar dari seberang.

“Raka?”

Raka membeku.

Untuk pertama kalinya, Utari tidak hadir sebagai huruf-huruf di layar. Suaranya nyata—hangat, sedikit serak di ujung, tetapi saat ini dilapisi kegelisahan yang sulit disembunyikan. Ada napas yang terdengar sedikit terburu-buru, juga gema samar khas lorong rumah sakit di belakangnya.

“Raka? Kamu denger aku?”

Raka menelan ludah. “Iya.”

“Oh, syukurlah.” Utari mengembuskan napas panjang. “Aku kira HP kamu mati lagi.”

Raka melirik Dimas, lalu kembali menatap pintu Kamar 312.

“Kamu sekarang di mana?”

“Ya di depan kamar kamu.”

Jawaban itu datang begitu cepat hingga terasa seperti hantaman.

Raka menatap pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

“Utari, serius.”

“Aku juga serius.” Nada Utari mulai meninggi. “Aku udah sampai di ruang perawatan. Tadi aku tanya bagian admisi, terus aku tanya suster yang jaga di lorong. Mereka bilang Kamar 312 kosong. Pintunya juga dikunci.”

Raka merasakan tengkuknya menegang.

“Aku ada di dalam kamar ini.”

“Hah?”

“Aku lagi duduk di ranjang Kamar 312 sekarang.”

Sunyi.

Utari tidak langsung menjawab.

Raka bisa mendengar suara napasnya di ujung sambungan, lalu bunyi langkah seseorang yang melintas di belakang perempuan itu.

“Jangan bercanda deh, Rak.”

“Aku enggak bercanda.”

“Terus aku lagi berdiri di depan kamar siapa?”

Raka tidak tahu.

Itulah masalahnya.

Ia menatap nomor kamar yang terpasang jelas di sisi pintu, lalu mengalihkan pandangan ke monitor jantung, tiang infus, meja nakas, dan Dimas yang berdiri beberapa langkah darinya. Semua benda itu terlalu nyata untuk dijadikan ilusi.

“Aku di RS Bhakti Husada,” kata Raka perlahan. “Jalan Terusan. Kamar 312.”

“Aku juga di RS Bhakti Husada.”

“Yang dekat sungai?”

“Iya.”

“Gedung utama?”

“Iya.”

“Lantai tiga?”

Utari berhenti sebentar. “Iya.”

Raka menahan napas.

Semua variabel lokasi cocok.

Dimas yang sejak tadi hanya bisa mendengar sisi percakapan Raka mulai terlihat frustrasi.

“Speaker,” bisiknya.

Raka menoleh.

“Gue juga harus denger.”

Untuk sekali ini Raka tidak membantah. Ia menjauhkan ponsel dari telinga dan menyentuh ikon pengeras suara. Suara statis tipis memenuhi kamar, lalu napas Utari terdengar lebih jelas di antara bunyi monitor jantung.

“Utari,” ujar Raka, “aku nyalain speaker. Temanku ada di sini.”

“Ada orang lain?”

“Dimas.”

Dimas mendekat sedikit. “Halo.”

Hening singkat muncul dari seberang.

“...Halo?”

Dimas langsung menoleh kepada Raka dengan mata sedikit membesar.

Suara itu cukup nyata.

Bukan rekaman yang terdengar mekanis. Bukan text-to-speech. Bukan pula suara yang sengaja dibuat mengerikan seperti lelucon murahan. Perempuan di sisi lain benar-benar bereaksi terhadap keberadaannya.

“Gue Dimas,” katanya. “Temennya Raka.”

“Oh.” Utari masih terdengar bingung. “Berarti Raka beneran enggak sendirian?”

“Sayangnya iya,” sahut Dimas. “Gue lagi lihat manusia ini duduk di Kamar 312.”

“Dim,” tegur Raka.

“Apa? Fakta.”

Utari tidak tertawa.

Raka pun tidak.

Situasinya sudah terlalu aneh untuk dicairkan dengan humor.

Raka menarik ponsel sedikit lebih dekat ke arah dirinya. Naluri analitisnya mulai mengambil alih, memaksa kecemasan di dalam dada mundur beberapa langkah. Jika lokasi sama, maka harus ada variabel lain yang berbeda.

“Tar, aku mau cek beberapa hal.”

“Kenapa nada kamu tiba-tiba kayak lagi interogasi?”

“Karena ada sesuatu yang enggak cocok.”

“Ya jelas enggak cocok. Kamu bilang ada di kamar yang di depanku kosong.”

“Makanya jawab dulu.”

Utari mendengus kecil. “Ya udah.”

Raka memikirkan variabel paling sederhana.

“Di lobi tadi kamu lihat apa?”

“Lobi?”

“Iya.”

Utari terdengar menggeser posisi ponselnya. “Biasa aja. Ramai. Banyak orang. Lantai masih agak basah karena hujan semalam. Tadi ada bapak-bapak hampir kepeleset dekat pintu masuk.”

Raka mengernyit.

Hujan semalam.

Sama.

“Ada payung?”

“Banyak.”

“Basah?”

“Ya iyalah, Rak. Namanya juga habis hujan.”

Dimas melirik Raka. Sejauh ini tidak ada sesuatu yang cukup aneh.

Raka menoleh ke jendela.

Rintik tipis masih menempel pada kaca. Langit Kota Pinus di sisinya tetap kelabu sejak pagi, seolah awan badai semalam belum benar-benar bergerak meninggalkan kota.

“Sekarang cuaca di luar gimana?”

Utari terdiam sebentar.

“Cerah.”

Raka tidak langsung bereaksi.

“Cerah?”

“Iya. Tadi pagi masih mendung, tapi sekarang udah panas banget. Kenapa?”

Raka berdiri sedikit lebih tegak.

Dimas menoleh ke jendela.

Di sisi mereka, langit masih penuh awan gelap dan gerimis kembali turun tipis.

“Di sini masih hujan,” gumam Dimas.

Suara itu terdengar melalui speaker.

Utari langsung menyahut, “Hah?”

Raka meraih ponsel. “Di tempatku sekarang masih gerimis. Langitnya mendung.”

“Enggak mungkin. Di sini terang banget.”

Raka berjalan perlahan menuju jendela. Telapak tangannya menempel pada kaca yang dingin. Tetes-tetes air bergulir turun di depan matanya.

Kesalahan cuaca masih bisa terjadi.

Hujan lokal.

Lihat selengkapnya