I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #6

Jejak yang Menembus Waktu

Kesunyian yang tersisa setelah panggilan itu berakhir tidak terasa kosong—ia justru penuh, terlalu padat, seolah setiap sudut Kamar 312 menyimpan gema dari percakapan yang tidak seharusnya terjadi. Raka masih menggenggam ponselnya erat, menatap layar hitam yang memantulkan wajahnya yang pias. Di dalam kepalanya, fondasi logika yang selama ini ia bangun mulai runtuh perlahan, digantikan oleh satu kemungkinan yang terlalu gila untuk diterima, namun terlalu nyata untuk diabaikan.

Di luar jendela, hujan Bandung masih turun tipis—ritme yang tenang, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya.

Dimas berdiri beberapa langkah darinya, mematung. Sifat slengean-nya menguap habis. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki komentar cepat atau teori konspirasi untuk mencairkan suasana. Yang ada hanya diam—diam yang berat, diam yang menanti sebuah pengakuan.

“Rak…” suara Dimas pelan, hampir pecah. “Lo denger sendiri, kan?”

Raka mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. “Iya.”

“Dia… bilang tahun 2022,” Dimas menelan ludah, seolah kata-kata itu adalah duri yang menyangkut di tenggorokannya.

Raka akhirnya mengangkat kepala, menatap lurus ke depan, namun matanya tidak menangkap bayangan ruangan itu. Ia menatap sesuatu yang jauh melampaui tembok rumah sakit. “Dan kita berada di 2024.”

Kalimat itu jatuh seperti vonis. Sederhana, namun menghancurkan.

Hening yang mengikuti terasa berbeda sekarang. Bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan seperti sebuah retakan besar pada realitas yang baru saja menganga di hadapan mereka. Tanpa memberi dirinya waktu untuk ragu, jari Raka bergerak impulsif. Ia membuka kontak tunggal itu—'U'—dan menekan ikon panggilan.

Dimas tersentak. “Rak… lo mau ngapain?”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menempelkan ponsel itu ke telinganya, mendengarkan nada sambung yang berdenyut seirama dengan jantungnya.

Klik.

“...Halo?”

Suara itu muncul lagi. Hidup. Dekat. Begitu jernih hingga Raka bisa mendengar helaan napas kecil di ujung sana. Untuk sepersekian detik, Raka lupa cara bernapas. Itu suara Utari—suara yang sama, namun kali ini tanpa jeda layar atau hambatan teks. Ada kehangatan yang merambat lewat suara itu, sebuah getaran organik yang tidak mungkin dipalsukan oleh algoritma mana pun.

“Utari…” suara Raka rendah, bergetar oleh keraguan.

Lihat selengkapnya