I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #6

Jejak yang Menembus Waktu

“Aku punya ide.”

Nada suara Raka berubah. Ketakutan yang beberapa menit terakhir memenuhi Kamar 312 belum benar-benar hilang, tetapi kini ada sesuatu yang jauh lebih dikenali Dimas di wajah sahabatnya itu—tatapan seorang analis yang akhirnya menemukan satu variabel yang bisa diuji. Raka menurunkan pandangannya ke meja nakas di samping ranjang. Furnitur kayu berwarna cokelat tua itu tidak memiliki sesuatu yang istimewa; satu laci kecil, pegangan logam, permukaan yang sudah sedikit kusam karena penggunaan, serta stiker inventaris rumah sakit yang menempel di bagian samping. Namun justru karena benda itu biasa dan tidak bergerak ke mana-mana, sebuah kemungkinan mulai terbentuk di kepalanya.

“Apa?” tanya Utari dari pengeras suara.

Raka tidak langsung menjawab. Ia membungkuk sedikit, memperhatikan meja itu tanpa menyentuh bagian bawahnya. Jika dirinya benar-benar berada di Kamar 312 pada 20 Juni 2024 dan Utari berdiri di kamar yang sama pada 20 Juni 2022, maka mereka tidak membutuhkan teknologi untuk membuktikan perbedaan waktu tersebut. Mereka hanya membutuhkan sesuatu yang mampu bertahan selama dua tahun.

“Di kamar ini ada meja kecil di sebelah ranjang,” ujar Raka. “Kayu warna cokelat tua. Satu laci.”

Jeda singkat terdengar dari seberang.

“Aku masih di luar kamar, Rak.”

Raka baru tersadar.

Pintu di sisi Utari masih terkunci.

Dimas mengangkat kedua alis seolah ingin berkata, Nah, tuh.

“Bisa minta suster yang tadi bukain?” tanya Raka.

“Buat apa?”

“Aku mau kamu cek sesuatu di dalam.”

“Raka, aku udah bikin suster di sini bingung dari tadi. Sekarang aku minta masuk ke kamar kosong juga?”

“Cuma sebentar.”

Utari mendesah panjang. “Kalau aku diusir satpam, kamu tanggung jawab.”

Dimas menyela dari samping, “Bilang aja pacarmu ketinggalan barang.”

Utari langsung menyahut dari speaker, “Siapa juga pacarnya?”

Dimas menoleh kepada Raka dengan senyum tipis.

Raka memejamkan mata sebentar. “Dim.”

“Ya gue kasih solusi.”

“Enggak membantu.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka mengetahui adanya perbedaan dua tahun, terdengar tawa kecil dari Utari. Pendek, sedikit gugup, tetapi cukup untuk mengurangi tekanan yang sejak tadi memenuhi sambungan.

“Oke, tunggu,” katanya. “Susternya masih ada di ujung lorong. Aku coba minta tolong.”

Suara langkah kaki segera terdengar melalui speaker, semakin cepat lalu menjauh sedikit dari mikrofon. Raka dan Dimas tidak berbicara selama beberapa saat. Dari sambungan, terdengar suara Utari memanggil seseorang, disusul percakapan samar yang tidak seluruhnya bisa mereka tangkap. Nada perempuan lain terdengar menjawab. Ada penjelasan Utari yang agak terlalu cepat, kemudian jeda cukup panjang.

Dimas mendekat ke ponsel.

“Dia bilang apa?”

“Mana gue tahu.”

“Lo yang suruh masuk.”

“Gue tahu.”

Beberapa detik kemudian suara Utari kembali jelas.

“Raka?”

“Iya?”

“Susternya mau bukain, tapi dia ikut masuk.”

Raka mengangguk refleks meskipun Utari tidak bisa melihatnya. “Enggak masalah.”

“Dia nanya aku mau ngapain.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Nyari barang.”

Raka mengernyit. “Barang apa?”

“Belum kepikiran.”

Dimas langsung menutup mulut untuk menahan tawa.

“Utari.”

“Ya daripada aku bilang ada cowok dari tahun 2024 yang nyuruh aku masuk.”

Raka tidak punya argumen.

Terdengar bunyi kunci diputar dari ujung sambungan.

Klik.

Kemudian sebuah engsel berderit pelan.

Suara itu membuat Raka dan Dimas secara bersamaan menoleh pada pintu Kamar 312 di tahun 2024.

Pintu mereka tidak bergerak.

Tetap tertutup.

Namun dari speaker, suara pintu yang sama baru saja dibuka dua tahun sebelumnya.

Sensasi dingin menjalar di punggung Raka.

“Udah masuk,” bisik Utari.

Raka memandang sekeliling kamarnya. Untuk sesaat ia membayangkan perempuan itu sedang berdiri tepat di koordinat yang sama dengannya—mungkin hanya beberapa langkah dari ranjang, tetapi terpisah oleh lapisan waktu yang tidak bisa disentuh. Kesadaran itu terasa jauh lebih ganjil daripada ketika mereka hanya bertukar pesan. Di sisi Raka, ruangan tersebut telah melalui dua tahun penggunaan, ratusan pasien, pergantian petugas, debu yang dibersihkan dan kembali datang. Di sisi Utari, semuanya masih dua tahun lebih muda.

“Gimana kamarnya?” tanya Raka.

“Ya... kamar rumah sakit biasa.” Suara Utari terdengar sedikit bergema sekarang. “Ranjang, tirai, meja kecil di sampingnya. Oh, iya, mejanya ada.”

Raka menatap meja di samping ranjang.

“Cokelat tua?”

“Iya.”

“Satu laci?”

“Iya.”

“Pegangannya logam?”

Utari diam sebentar. “Iya. Kenapa?”

Lihat selengkapnya