Di tahun 2022, napas Utari memburu di balik masker medisnya—pendek, tidak beraturan, dan terasa panas. Seolah oksigen di dalam paru-parunya tidak lagi cukup untuk menampung ledakan panik yang baru saja ia ciptakan sendiri. Ia masih berlutut di lantai Kamar 312 yang dingin dan berbau karbol. Matanya bergerak liar, menyisir setiap sudut ruangan yang sunyi, mencoba memastikan bahwa tidak ada mata-mata tak kasat mata yang melihat apa yang baru saja ia lakukan. Sebuah tindakan kecil—mencoretkan nama di balik meja—namun terasa terlalu besar untuk dijelaskan dengan logika apa pun.
Klik.
Suara gerendel pintu yang diputar memotong sisa keberaniannya.
Utari tersentak. Tubuhnya menegang seketika. Jari-jarinya refleks menggenggam ponsel lebih erat, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Seorang perawat berdiri di ambang pintu. Alisnya mengerut, pandangannya tajam namun tidak sepenuhnya marah—lebih seperti seseorang yang menemukan anomali di tempat yang seharusnya steril.
“Mbak? Sedang apa di sini?”
Suara itu datar, namun di telinga Utari, ia terdengar seperti guntur.
“Kamar ini seharusnya kosong,” lanjut perawat itu sambil melangkah masuk. Langkah sepatunya di lantai vinil terdengar seperti hitungan mundur. “Saya tadi sudah bilang di depan, ini area steril. Belum ada pasien yang ditempatkan di sini.”
Utari bangkit dengan gerakan canggung yang kentara. Ia menyembunyikan tangannya ke dalam saku jaket, meremas spidol yang ujungnya masih terasa hangat dan berbau tinta segar. Wajahnya pias, namun ia memaksakan sebuah senyum rapuh yang gagal menyembunyikan kegemetarannya.
“Maaf, Sus… saya tadi mengira teman saya dirawat di sini.” Utari menelan ludah, suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri. “Sepertinya… saya salah rumah sakit.”
Perawat itu diam, menatap Utari beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah-olah ia sedang mencoba membaca garis-garis ketakutan di balik masker Utari, sebelum akhirnya ia menghela napas pelan.
“Mungkin di rumah sakit lain di seberang sungai,” katanya, kini dengan nada yang sedikit lebih lembut. “Mari, saya antar keluar. Area ini harus segera dikunci.”
Utari mengangguk patuh. Ia berjalan mengekor, namun ponsel di genggamannya masih terhubung. Ia tidak berani bicara. Ia hanya bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri yang berpacu melalui mikrofon, meninggalkan ruangan itu, meninggalkan kayu cokelat di bawah ranjang, dan meninggalkan sebuah jejak yang baru saja ia kirimkan ke masa depan.
* * *
Di tahun 2024, suara langkah kaki yang menjauh itu sampai ke telinga Raka sebagai gema yang terdistorsi. Samar, namun cukup nyata untuk membuatnya tetap bergantung pada garis tipis antara kewarasan dan kegilaan.
“Utari?” bisik Raka.