Di tahun 2022, langkah Utari bergerak perlahan menjauh dari meja nakas. Ponsel yang masih berada di tangannya kini telah kembali gelap setelah sambungan dengan Raka berakhir, meninggalkan pantulan samar wajahnya sendiri pada permukaan layar. Beberapa menit sebelumnya benda itu masih menyalurkan suara seorang laki-laki dari dua tahun di masa depan; sekarang Kamar 312 kembali hanya berisi dirinya, sebuah ranjang kosong, dan satu kata yang tersembunyi di bawah meja kayu.
“Mbak, sudah ketemu barangnya?”
Suara perawat dari ambang pintu membuat Utari tersentak kecil. Ia refleks meremas tali tas yang sudah kembali tersampir di bahunya, sementara spidol permanen yang baru saja digunakan telah terselip aman di kantong depan. Untuk sesaat pandangannya kembali jatuh pada meja di samping ranjang. Dari atas, furnitur itu tetap terlihat biasa—bersih, nyaris baru, tidak menyisakan tanda bahwa beberapa saat lalu Utari baru saja menorehkan sesuatu yang, jika semua kegilaan sore ini benar, sedang menunggu untuk ditemukan dua tahun kemudian.
“Sudah, Sus,” jawab Utari cepat. “Maaf jadi lama.”
Perawat itu mengangguk. Tidak ada kecurigaan khusus pada wajahnya, hanya ekspresi seseorang yang masih memiliki banyak pekerjaan di lorong. “Kalau begitu, mari. Kamarnya memang belum dipakai, jadi harus saya kunci lagi.”
“Iya.”
Utari mengikuti perawat keluar. Begitu keduanya berada di lorong, pintu Kamar 312 ditarik menutup dan kunci diputar dari luar.
Klik.
Utari memandang angka 312 yang terpasang pada pelat kecil di samping pintu.
Aneh.
Beberapa menit lalu angka itu hanyalah nomor kamar yang salah. Sekarang ia mengetahui bahwa dua tahun dari hari ini, di balik pintu yang sama, seorang laki-laki bernama Raka akan berbaring setelah tersambar petir dan mendengar suaranya melalui sebuah ponsel tua.
Utari berjalan mengikuti perawat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berhenti.
“Sus...”
Perawat menoleh. “Iya?”
Utari tidak segera berbicara. Pandangannya sempat kembali menuju Kamar 312, lalu turun pada ponsel di tangannya yang kini benar-benar diam. Ada sebuah pikiran sederhana yang baru muncul beberapa detik lalu. Pikiran yang, kalau diucapkan keras-keras, hampir pasti akan membuat dirinya terdengar tidak waras.
Namun setelah semua yang terjadi sore itu, batas antara waras dan mustahil sudah tidak lagi terasa setegas sebelumnya.
“Boleh nitip satu pesan enggak?”
Perawat mengerutkan kening. “Pesan?”
“Iya.”
“Untuk siapa?”
Utari terdiam sebentar.
“Raka.”
Kening perawat semakin berkerut. “Raka yang tadi Mbak cari?”
Utari mengangguk.
“Tapi saya sudah cek, Mbak. Sekarang enggak ada pasien atas nama Raka di kamar itu.”
“Aku tahu.”
“Jadi pesannya buat siapa?”
Utari mengembuskan napas kecil, lalu menatap sekali lagi angka 312 di kejauhan.
“Buat Raka,” jawabnya. “Tapi bukan Raka yang sekarang.”
Perawat menatapnya cukup lama.
Utari langsung tersenyum kikuk. “Aku tahu kedengarannya aneh.”
“Lumayan.”
Utari terkekeh kecil. “Anggap aja aku lagi terlalu capek.”
Perawat tidak mengatakan apa-apa lagi. Mungkin karena penasaran, mungkin juga sekadar ingin percakapan itu segera selesai.
“Pesannya apa?”
Utari menarik napas.
Kemudian ia menyampaikannya.
Beberapa kalimat sederhana, diucapkan pelan di lorong rumah sakit yang sore itu dipenuhi suara roda troli, langkah kaki pengunjung, serta pengumuman samar dari pengeras suara. Tidak ada sesuatu yang dramatis ketika pesan itu berpindah dari Utari kepada perempuan di hadapannya. Tidak ada petir. Tidak ada layar berkedip. Tidak ada tanda bahwa kata-kata tersebut baru saja memulai perjalanan selama dua tahun.
Setelah selesai, perawat masih menatapnya dengan ekspresi campuran antara bingung dan geli.
“Saya enggak bisa janji bakal ingat sampai selama itu, Mbak.”
Utari tersenyum.
“Enggak apa-apa, Sus. Kalau lupa juga enggak masalah.”
“Dua tahun itu lama.”
“Iya.”
Utari menoleh terakhir kali ke arah Kamar 312.
“Tapi siapa tahu.”
Perawat mengangguk kecil, mungkin hanya untuk menghargai permintaan aneh seorang pengunjung yang kelihatannya sedang kelelahan. Utari kemudian mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju lift. Beberapa detik kemudian pintu logam terbuka, menelan tubuhnya, lalu menutup kembali.
Tidak ada seorang pun di lorong itu yang mengetahui bahwa sebuah pesan baru saja ditinggalkan untuk seseorang yang belum datang.
Belum.
* * *
Tahun 2024.
Kamar 312 kembali hanya memiliki satu waktu.
Raka masih duduk di tepi ranjang dengan ponsel lama tergeletak di samping pahanya. Layarnya sudah padam sejak percakapannya dengan Utari berakhir beberapa menit sebelumnya, tetapi pikirannya belum benar-benar berhasil meninggalkan suara perempuan itu. Tatapannya berulang kali jatuh pada meja nakas di sisi ranjang, tepat pada furnitur yang kini menyimpan sesuatu yang tidak mungkin lagi ia bantah.
Sebuah kata yang baru saja dituliskan Utari pada 2022, tetapi telah menunggu selama dua tahun di dunia Raka.
Dimas berdiri di dekat meja sambil menatapnya dengan ekspresi yang masih sulit diterjemahkan. Sejak eksperimen itu berhasil, sahabatnya kehilangan hampir seluruh persediaan komentar sarkastik yang biasanya terasa tidak pernah habis.
Akhirnya ia menjatuhkan tubuh ke kursi penunggu.
“Rak.”
“Hm?”
“Gue enggak tahu besok pagi gue masih bakal percaya sama yang barusan kejadian.”
Raka menyandarkan punggung pada kepala ranjang. “Gue juga.”
Dimas mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. “Kalau besok tulisan itu masih ada?”
Raka memandang meja.
“Berarti masalah kita tetap sama.”
“Bagus.”
Raka menoleh. “Apanya yang bagus?”
“Berarti besok gue masih waras.” Dimas menarik napas panjang. “Atau kita berdua gilanya barengan.”