I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #7

Senandika di Bawah Meja

“Kalau gitu...” kata Raka perlahan, “tulis.”

Utari tidak langsung bergerak. Di tahun 2022, ia masih berjongkok di sisi meja nakas Kamar 312 dengan spidol permanen tergenggam di tangan, sementara beberapa langkah di belakangnya perawat yang tadi membukakan pintu berdiri dekat ambang kamar sambil menunggu. Situasi itu tiba-tiba terasa jauh lebih rumit daripada ketika rencana tersebut hanya terdengar sebagai eksperimen melalui telepon. Mencari sesuatu di kamar kosong masih bisa dijelaskan. Mencoret inventaris rumah sakit dengan spidol permanen jelas tidak.

Utari melirik ke belakang.

Perawat itu masih ada.

“Rak,” bisiknya sangat pelan.

“Iya?”

“Susternya masih di sini.”

Raka yang semula hanya memikirkan desain eksperimennya langsung tersadar pada masalah yang sangat sederhana itu. Ia menoleh kepada Dimas, tetapi sahabatnya hanya mengangkat kedua bahu, seolah ingin menegaskan bahwa menjadi saksi fenomena lintas waktu tidak otomatis membuat mereka ahli dalam vandalisme rumah sakit.

“Jangan tulis dulu,” ujar Raka.

“Ya iyalah.”

Nyaris bersamaan dengan itu, suara seseorang memanggil dari lorong.

“Sus, sebentar.”

Perawat di dekat pintu menoleh. Ia menjawab singkat, lalu memandang Utari yang masih berada di sisi ranjang.

“Mbak, silakan dicari dulu. Tapi sebentar saja, ya. Saya di depan.”

“Iya, Sus. Terima kasih.”

Perawat melangkah keluar dan berhenti beberapa meter dari kamar untuk berbicara dengan rekannya. Pintu dibiarkan terbuka. Utari mengikuti kepergiannya dengan pandangan sampai yakin perhatian perempuan itu sudah beralih, lalu cepat-cepat merunduk kembali di sisi meja.

“Sekarang,” bisiknya.

Di tahun 2024, Raka otomatis menegakkan tubuh. Dimas yang berdiri tidak jauh darinya ikut diam. Tidak ada lagi gurauan. Tatapan mereka tertuju pada meja nakas yang sama—lebih kusam, lebih tua dua tahun, tetapi masih berdiri di tempat yang sama.

Raka sengaja tidak menyentuhnya.

Belum.

“Sudah tahu mau nulis apa?” tanyanya.

“Udah.”

“Jangan sebutin.”

“Iya, Pak Analis. Dari tadi juga udah dibilang.”

Raka hampir tersenyum, tetapi ketegangan di dadanya terlalu besar untuk membiarkannya bertahan lama. “Tulis di bagian bawah permukaan meja. Dekat sudut kanan belakang. Jangan terlalu dekat sama pinggir, biar enggak gampang kelihatan.”

Utari menggeser tubuhnya sedikit lebih dalam. Dengan satu tangan ia menopang dirinya pada lantai, sementara tangan lainnya mengangkat spidol ke permukaan kayu yang tersembunyi. Untuk beberapa detik ia hanya menatap bidang kosong itu. Aneh rasanya mengetahui bahwa apa pun yang akan ia tuliskan sekarang mungkin sudah berada di hadapan Raka selama dua tahun.

“Kamu masih di sana?” tanyanya.

“Masih.”

Utari menarik napas.

Lalu ujung spidol menyentuh kayu.

Suara gesekannya kecil sekali, hampir tenggelam oleh dengung pendingin ruangan dan aktivitas rumah sakit di lorong, tetapi mikrofon ponsel menangkapnya. Di Kamar 312 tahun 2024, suara itu keluar dari pengeras suara sebagai goresan samar yang membuat Raka tanpa sadar menahan napas.

Satu tarikan.

Berhenti.

Kemudian bergerak lagi.

Utari menulis perlahan, memastikan setiap huruf cukup jelas untuk bertahan lama. Tidak ada seorang pun di ruangan Raka yang mengetahui kata apa yang sedang lahir dua tahun di belakang mereka. Bahkan Dimas, yang sejak awal mengikuti eksperimen itu, kini hanya berdiri diam dengan kedua tangan terlipat di dada, menunggu sesuatu yang tidak lagi bisa disebut sekadar kebetulan.

Beberapa detik kemudian suara gesekan berhenti.

Utari menutup spidol.

Klik.

“Udah.”

Satu kata itu terdengar jauh lebih berat daripada seharusnya.

Raka menatap meja.

“Jangan kasih tahu aku tulisannya.”

“Enggak.”

“Posisinya?”

“Sudut kanan belakang. Agak masuk dari pinggir, kayak yang kamu bilang.”

Raka mengangguk perlahan. Ia melirik Dimas.

“Lo lihat gue belum pernah ngecek bawahnya, kan?”

Dimas langsung memahami maksud pertanyaan itu. “Iya. Dari tadi enggak ada yang lihat.”

“Dan lo enggak tahu dia nulis apa.”

“Enggak.”

Raka menarik napas.

Sekarang tidak ada lagi langkah tambahan yang bisa dilakukan.

Jika mereka benar-benar terhubung dengan masa lalu, maka sebuah kata yang baru selesai ditulis beberapa detik lalu bagi Utari seharusnya telah menjalani dua tahun kehidupan di dunia Raka. Kayu itu mungkin sudah dibersihkan puluhan kali, dipindahkan beberapa sentimeter, disentuh ratusan pasien, tetapi selama meja tersebut tidak diganti, jejak itu seharusnya masih ada.

Atau tidak ada sama sekali.

Raka memindahkan ponsel ke atas ranjang agar speaker tetap terdengar jelas. Ia melepaskan selimut dari kakinya dan bergerak turun dengan hati-hati, tetapi selang infus yang masih terpasang membuat gerakannya terbatas.

Dimas langsung mendekat. “Pelan, woi. Lo masih pasien.”

“Pegang tiang infusnya.”

“Ini sekarang fungsi gue?”

“Dim.”

“Iya, iya.”

Dimas menarik tiang infus mendekat sambil menggeleng, sedangkan Raka turun dari ranjang dan berlutut di lantai. Permukaan vinil terasa dingin menembus kain celananya. Meja nakas kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

“Raka?” suara Utari terdengar melalui speaker.

“Hm?”

“Kamu lagi lihat?”

“Belum.”

“Kenapa lama banget?”

“Gue—” Raka berhenti, lalu memperbaiki ucapannya. “Aku lagi turun dari ranjang.”

Utari tertawa kecil meskipun suara itu masih terdengar tegang. “Jangan sampai eksperimen waktunya berhasil tapi kamu malah jatuh gara-gara infus.”

“Terima kasih atas perhatiannya.”

“Sama-sama.”

Raka mengembuskan napas perlahan.

Lalu membungkuk.

Dimas menyalakan senter dari ponselnya dan mengarahkannya ke bawah meja.

Cahaya putih menyapu permukaan kayu yang lebih kusam dibandingkan deskripsi Utari. Ada debu tipis di beberapa sudut, bekas gesekan lama, serta noda kecil yang mungkin telah ada selama berbulan-bulan. Raka menggerakkan pandangannya menuju bagian kanan belakang.

Pada awalnya ia tidak melihat apa-apa.

Jantungnya seperti jatuh.

Lihat selengkapnya