I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #7

Senandika di Bawah Meja

“Coba kamu jongkok,” perintah Raka, suaranya kini tenang dan terarah, seperti seorang analis yang sedang memandu eksperimen laboratorium. “Lihat bagian bawah permukaan mejanya. Bagian yang tersembunyi.”

Di seberang sana, terdengar suara gesekan pelan—suara kain yang bergesekan dengan lantai, diikuti napas Utari yang sedikit terengah, seolah ia benar-benar menuruti instruksi itu tanpa sepenuhnya memahami apa yang sedang ia lakukan. Jeda itu terasa panjang, tidak nyaman, seperti sesuatu yang sedang menunggu untuk ditemukan, atau mungkin… sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada sejak awal.

“Aku sudah lihat…” suara Utari pelan, ragu. “Kosong. Nggak ada apa-apa di sini. Cuma kayu cokelat yang masih licin.”

Raka menelan ludah pelan. Dadanya terasa sesak. Tentu saja kosong di sana, Utari. Karena di garis waktumu, sejarah itu belum dituliskan.

“Sekarang…” suara Raka sedikit berubah, lebih dalam, lebih berat. “Aku mau kamu ambil sesuatu. Spidol, pulpen, apa saja yang bisa meninggalkan bekas permanen.”

“Ada spidol di meja perawat tadi. Aku sempat mengambilnya tadi... entah kenapa. Kenapa, Raka?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia sendiri baru menyadari betapa gilanya apa yang akan ia lakukan. Ia sedang mencoba merobek tabir waktu dengan tinta murah.

“Aku mau kamu tulis sesuatu di sana. Di bagian dalam kaki meja itu.”

Jeda. Lebih lama dari sebelumnya.

“Raka…” suara Utari terdengar sangat tidak nyaman. “Ini mulai terasa aneh. Aku merasa seperti orang gila yang bicara dengan hantu di lorong rumah sakit.”

“Iya,” jawab Raka pelan. “Memang gila. Tapi kalau ini berhasil… berarti kita tidak sedang berhalusinasi. Kita tidak sedang salah sambung. Kita benar-benar terhubung, Utari.”

Napas Utari terdengar lebih dalam di seberang sana. Keraguan bertarung dengan rasa penasaran di suaranya. Lalu—

“Oke.” Satu kata. Pendek, namun cukup untuk mengubah segalanya. “Aku tulis apa?”

Raka terdiam sejenak. Ia bisa saja menyuruhnya menuliskan tanggal, atau nama. Namun semua itu terasa terlalu biasa untuk kemustahilan ini. Ia ingin sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh logika analis datanya.

“Tulis sesuatu yang… cuma kamu saja yang tahu. Sebuah rahasia, atau kata yang hanya kamu ucapkan pada dirimu sendiri.”

Di sisi lain telepon, Utari terdiam cukup lama. Raka bisa mendengar bunyi gesekan tutup spidol yang dibuka.

“Sudah,” bisik Utari beberapa saat kemudian. Suaranya terdengar bergetar, seolah ia baru saja membocorkan bagian dari jiwanya pada kayu mati. “Aku sudah menulisnya. Satu kata. Di sudut kanan bawah, dekat sambungan kaki meja.”

Lihat selengkapnya