I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #9

Dua Perangkat, Satu Takdir

Pagi datang dengan cara yang lebih tertib—lebih tenang, seolah semesta sedang berusaha merapikan kembali sisa-sisa kekacauan yang ia ciptakan dua malam sebelumnya. Cahaya matahari menyusup melalui celah gorden Kamar 312, membelah ruangan dengan garis-garis tipis keemasan. Cahaya itu menyoroti partikel debu yang melayang lambat di udara, sebelum akhirnya berhenti tepat di permukaan meja nakas—furnitur yang kini bukan lagi sekadar kayu mati, melainkan titik temu dari dua garis waktu yang mustahil.

Raka berdiri di depan meja itu, tas ransel hitamnya sudah tersampir di bahu. Gerakannya tetap rapi dan terukur—cara khasnya untuk meyakinkan diri bahwa ia masih memegang kendali atas logikanya. Namun, jemarinya berhenti sejenak saat menyentuh sudut bawah meja. Ia mengusap pelan goresan tinta di sana.

Senandika.

Tinta itu kusam. Tidak ada aroma kimiawi yang segar. Tinta itu telah menyatu dengan serat kayu selama dua tahun, menunggu dalam sunyi bukan untuk ditulis, melainkan untuk akhirnya ditemukan. Raka menarik tangannya perlahan. Semakin lama ia menyentuhnya, semakin sulit baginya untuk menyangkal bahwa dunianya telah retak.

Sejak panggilan telepon semalam berakhir, ponsel lamanya tetap sunyi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada tanda-tanda anomali. Seolah-olah baik dirinya maupun Utari secara diam-diam sepakat untuk mundur satu langkah—memberi ruang bagi napas untuk kembali teratur sebelum dipaksa menghadapi kemustahilan yang lebih besar.

Atau mungkin, keduanya sedang mengumpulkan keberanian yang sama.

* * *

Raka keluar dari kamar setelah menyelesaikan administrasi, langkahnya tenang, tidak terburu-buru, namun juga tidak benar-benar santai. Ketika ia berdiri di depan lift yang baru saja terbuka, suara langkah tergesa memanggil namanya dari belakang.

“Pak Raka! Tunggu sebentar!”

Ia menoleh. Perawat yang semalam berbicara dengannya berlari kecil, napasnya sedikit memburu, namun matanya menyimpan binar lega yang belum tuntas.

“Ada yang bisa saya bantu, Sus?” tanya Raka. Nada suaranya kembali datar—benteng lamanya untuk menjaga jarak dari hal-hal yang mulai terasa terlalu personal.

Panggilan itu tidak keras, namun cukup untuk membuat langkah Raka terhenti tepat di depan pintu lift yang terbuka. Ia menoleh, mendapati perawat semalam berdiri beberapa meter darinya. Tidak ada napas yang memburu atau ekspresi yang berlebihan; perawat itu hanya menatapnya dengan sorot mata seseorang yang baru saja menaruh potongan terakhir pada sebuah teka-teki yang ia simpan selama dua tahun.

"Ada yang tertinggal, Suster?" tanya Raka datar, suaranya tetap terjaga di balik topeng profesionalnya.

Perawat itu melangkah mendekat, memastikan volume suaranya tidak menjadi konsumsi publik lobi yang mulai riuh. "Saya hanya ingin memastikan satu hal," ucapnya hati-hati, seolah sedang menimbang berat kata-katanya sendiri. "Tentang pesan yang saya sampaikan semalam... Apa Pak Raka benar-benar orang yang dibicarakan gadis itu? Apa Bapak memang sedang mencari Utari?"

Jeda panjang tercipta. Dingin udara lobi seolah membeku di antara mereka selama beberapa detik. Lift di belakang Raka berdenting, mencoba menutup, namun Raka menahan sensor pintu dengan satu tangan tanpa perlu memalingkan wajah. Matanya tetap mengunci perawat itu, mencari sisa jawaban yang mungkin masih tertinggal di sana.

"Saya tidak mencarinya," jawab Raka, suaranya rendah namun sangat jelas. "Lebih tepatnya, dia yang menemukan saya."

Perawat itu mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seolah beban ingatan yang ia pikul selama dua tahun akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh. “Syukurlah… Selama ini saya sempat berpikir bahwa itu hanya kebetulan aneh yang tidak perlu saya simpan.”

Lihat selengkapnya