Apartemen Raka adalah ruang yang dibangun dari presisi. Tidak ada barang yang tidak memiliki fungsi, tidak ada cahaya yang tidak terukur. Namun malam ini, keteraturan itu terasa mencekam. Raka duduk di depan meja kerjanya, hanya diterangi oleh pendar biru dari tiga monitor yang menyala, menciptakan bayangan panjang yang seolah ikut mengamati setiap gerakannya.
Di samping keyboard, dua ponsel tergeletak. Satu ponsel baru yang berkilat, dan satu ponsel lama yang tampak kusam—sebuah jangkar menuju tahun 2022.
Jemari Raka menari di atas papan ketik. Sebagai analis data, ia terbiasa membedah tumpukan informasi yang kacau menjadi sebuah pola yang masuk akal. Baginya, setiap orang di abad ke-21 pasti meninggalkan remah roti digital. Tidak mungkin seseorang menghilang tanpa jejak kecuali ia memang tidak pernah ada.
Query: Utari Senandika
Hasil pertama: Pusat Data Pendidikan Perguruan Tinggi Nasional.
Utari Senandika. Mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Pinus. Lulus tahun 2021. IPK yang mengesankan.
Hasil kedua: Arsip Kelulusan SMAN 1 Kota Bahari.
Namanya ada di sana. Berdampingan dengan daftar nilai seni yang sempurna.
Lalu... tidak ada lagi.
Raka mengerutkan kening. Ia mengganti parameter pencarian. Ia masuk ke dalam indeks cache sebuah mesin pencarian, mencari jejak akun yang mungkin sudah dihapus. Ia menemukan URL Instagram yang pernah aktif: @utari.senandika.
Ia mengekliknya.
"This page isn't available."
Ia beralih ke Twitter. Menemukan jejak mention dari tahun 2021 yang ditujukan pada akun @utari_sdka. Namun saat akun itu dikunjungi:
"This account no longer exists."
"Nggak mungkin," gumam Raka, suaranya parau di kesunyian kamar.
Ia mencoba melacak melalui berbagai platform media sosial—termasuk Facebook dan LinkedIn—lalu beralih ke forum-forum niche yang membahas hal-hal spesifik, membedah informasi dari metadata, mengerahkan algoritma riset mendalam berbasis AI, hingga menyisir blog desain gratisan yang tersembunyi. Semuanya bersih. Bukan sekadar tidak aktif, melainkan sengaja dilenyapkan. Seolah-olah seseorang telah melewati internet dengan mesin pengisap debu dan menyedot setiap piksel yang berhubungan dengan Utari Senandika.