Sementara, pada suatu siang di bulan Juni 2022—tak lama setelah peristiwa ganjil di Kamar 312 mengguncang kehidupan Raka dan Utari—sebagian besar Kota Pinus masih menjalankan rutinitasnya seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang menyadari bahwa di salah satu sudut kota, sebuah keputusan kecil sedang dibuat; keputusan yang saat itu tampak tidak berarti, tetapi kelak akan menarik kehidupan seseorang ke arah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Tidak ada keributan, tidak ada ancaman yang diteriakkan, bahkan tidak ada sesuatu yang dari luar terlihat cukup penting untuk mengubah nasib siapa pun. Hanya sebuah ruangan privat di lantai atas restoran eksklusif, dua lelaki yang duduk berhadapan di balik pintu tertutup, dan beberapa lembar dokumen yang sebentar lagi akan membuat nama seorang perempuan yang bahkan tidak mengenal mereka berubah dari sekadar baris administrasi menjadi bagian dari sebuah rencana yang jauh lebih gelap.
Ruangan VIP itu tenggelam dalam cahaya kuning temaram. Tirai tebal menutupi sebagian besar jendela, menahan panas siang sekaligus menjaga pandangan dari luar. Aroma daging panggang yang tersisa dari makan siang bercampur dengan asap cerutu dan wangi kayu dari furnitur mahal, menciptakan udara yang terasa terlalu berat untuk sebuah pertemuan yang secara resmi tidak pernah ada. Di atas meja, gelas-gelas kristal berdiri di antara piring yang sudah hampir kosong, sementara satu asbak hitam menyimpan abu cerutu yang semakin menumpuk.
Sutopo duduk dengan tubuh sedikit bersandar pada kursi kulit. Usianya telah melewati kepala lima, tetapi cara bicaranya masih menyimpan keyakinan seseorang yang terbiasa melihat keputusan berubah hanya karena satu telepon darinya. Di depan publik ia dikenal sebagai pejabat senior yang terlibat dalam pengendalian berbagai program pembangunan Kota Pinus. Wajahnya cukup sering muncul dalam dokumentasi peresmian jalan, forum investasi, dan rapat-rapat anggaran. Namun di balik ketenangan yang selalu ia pertahankan di depan kamera, ada jaringan kepentingan yang selama bertahun-tahun tumbuh jauh lebih cepat daripada proyek-proyek yang namanya tercetak di papan peresmian.
Di seberangnya duduk Tirta.
Pria itu lebih muda beberapa tahun, dengan penampilan yang tidak pernah terlihat berlebihan. Setelan gelap tanpa logo mencolok, jam tangan mahal yang sengaja tidak mencari perhatian, dan cara berbicara yang selalu terdengar seperti seseorang yang telah menghitung kemungkinan jawaban lawan bicaranya sebelum pertanyaan selesai diucapkan. Perusahaannya menjadi salah satu kontraktor yang berkali-kali memperoleh pekerjaan dalam proyek strategis daerah. Namun jaringan Tirta tidak berhenti pada konstruksi. Selama bertahun-tahun ia membangun simpul-simpul lain—perusahaan konsultan, vendor acara, lembaga sosial, hingga yayasan seni bernama Cakrawala, sebuah organisasi yang di atas kertas bergerak dalam pengembangan budaya dan pembinaan seniman lokal.
Secara hukum yayasan itu memiliki pengurusnya sendiri.
Secara praktik, banyak pintu di dalamnya masih terbuka ketika Tirta mengetuk.
Sutopo mengetukkan ujung cerutunya ke asbak.
“Biro Investigasi Tindak Korupsi makin aktif,” katanya. Nada suaranya rendah, hampir santai, tetapi jarinya mengetuk meja dengan ritme yang tidak pernah benar-benar tenang. “Dua proyek terakhir sudah mulai mereka lihat. Badan Stabilitas Kota juga memperketat pemeriksaan aliran dana. Cara lama enggak bisa dipakai terus.”
Tirta hanya mendengarkan.
“Transfer langsung ke lembaga yang masih satu jaringan sama kita sekarang terlalu gampang dibaca,” lanjut Sutopo. “Termasuk yayasan itu.”
Tidak perlu disebutkan yayasan yang mana.
Tirta tahu.
Yayasannya selama beberapa tahun terakhir memang berguna sebagai tempat berkumpulnya banyak kepentingan yang terlihat terhormat dari luar. Beasiswa seni. Pameran. Program budaya. Donasi korporasi. Seluruhnya memiliki dokumentasi, laporan kegiatan, dan foto-foto seremonial yang cukup untuk membuat organisasi itu terlihat seperti salah satu wajah paling bersih dari filantropi Kota Pinus.
Justru karena itu Tirta tidak ingin namanya terlalu dekat.
“Makanya saya enggak mau menggunakan pola yang sama,” katanya.
Sutopo mengangkat satu alis. “Terus?”
Tirta meraih gelas di depannya, memutarnya perlahan tanpa meminumnya. “Kalau sebuah transaksi terlalu mudah dihitung, ya jangan gunakan objek yang punya nilai pasti.”
Sutopo menatapnya beberapa detik.
“Maksudmu?”
Tirta meletakkan gelas.
“Seni.”
Satu kata itu terdengar sederhana.
Namun Sutopo tidak langsung memotong.
Tirta melanjutkan, kali ini dengan nada yang sama tenangnya seperti ketika membahas spesifikasi proyek. “Nilai karya seni selalu punya ruang interpretasi. Dua orang bisa melihat benda yang sama dan memberikan angka yang berbeda. Begitu ada kurator, galeri, kolektor, atau lembaga budaya yang memberikan legitimasi, harga itu punya cerita yang bisa dipertanggungjawabkan di atas kertas.”
Sutopo menyipitkan mata.
“Jadi uangnya masuk lewat pembelian karya?”
“Bisa melalui beberapa bentuk transaksi yang terlihat wajar dalam ekosistem seni.” Tirta berhenti sebentar. “Sponsor kegiatan, akuisisi karya, dukungan program, kerja sama produksi. Yang penting bukan bentuknya. Yang penting ada kegiatan yang memang benar-benar berlangsung.”
Sutopo mulai menangkap arahnya.
“Bukan bikin acara fiktif.”
“Justru jangan.” Tirta menggeleng. “Acara fiktif gampang runtuh kalau diperiksa. Kita pakai acara yang sudah ada. Senimannya nyata. Tempatnya nyata. Karyanya nyata. Orang-orang datang. Foto ada. Berita ada. Semua orang yang terlibat merasa mereka memang sedang menjalankan pameran biasa.”
Sudut bibir Sutopo perlahan terangkat.
“Dan orang yang punya acaranya?”
“Enggak perlu tahu apa-apa.”
Jawaban itu datang tanpa keraguan.
Untuk beberapa detik hanya dengung pendingin ruangan terdengar.
Sutopo mengembuskan asap cerutunya perlahan. “Kita butuh yang enggak terlalu besar.”
Tirta mengangguk. “Saya juga berpikir begitu. Seniman besar terlalu banyak mata yang mengikuti. Media, kolektor, kurator independen. Semakin terkenal orangnya, semakin banyak pertanyaan kalau angkanya tiba-tiba bergerak terlalu jauh.”
“Jadi?”
Tirta meraih tas kulit hitam yang diletakkan di sisi kursinya. Dari dalam ia mengeluarkan sebuah map tipis berisi salinan daftar agenda seni dan budaya yang telah diajukan untuk penggunaan sejumlah ruang publik Kota Pinus pada kuartal akhir 2022. Dokumen itu bukan sesuatu yang rahasia. Sebagian besar informasinya bahkan akan diumumkan kepada publik ketika jadwal penggunaan tempat telah selesai disusun. Tetapi bagi Tirta, daftar itu bukan kalender kegiatan.
Itu adalah daftar kemungkinan.
Ia membuka halaman pertama.
Pameran fotografi.
Dilewati.
Festival mural.
Terlalu ramai.
Pekan seni mahasiswa.
Terlalu banyak peserta.
Pertunjukan instalasi.