I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #11

Nama yang Terpilih—Wadah Lingkaran Gelap

Sementara di sudut lain Kota Pinus—di tempat di mana kesepakatan-kesepakatan gelap dilahirkan dalam senyap, kebijakan-kebijakan distortif dirancang di balik senyum formal, dan mata-mata tak kasatmata mengawasi setiap aliran uang—siang itu sebuah keputusan kecil sedang dibuat. Keputusan yang tampak sepele, namun kelak akan mengunci takdir seseorang secara perlahan dan tak terelakkan.

Ruangan VIP di lantai atas restoran privat itu dipenuhi asap cerutu yang pekat. Kabut tipis keabu-abuan menggantung rendah di bawah cahaya lampu kuning temaram, membuat udara terasa berat dan pengap. Sesekali terdengar suara tawa, namun itu bukan tawa hangat manusia yang menikmati kebersamaan; itu adalah tawa dingin para pria yang terbiasa membeli hukum, memutar arah kebijakan, dan mengukur moral dengan nominal.

Orang yang baru saja tertawa itu bernama Sutopo.

Seorang pejabat publik paruh baya dengan setelan mahal dan rambut yang mulai memutih di pelipis. Di balik senyumnya yang santun di depan kamera, tangannya memegang kendali atas distribusi anggaran infrastruktur Kota Pinus—terutama proyek-proyek jalan besar yang nilainya cukup untuk membuat banyak orang rela menutup mata.

Di seberang meja duduk Tirta.

Kontraktor utama berbagai proyek strategis daerah. Pria itu tampak lebih muda, lebih rapi, dan jauh lebih tenang. Matanya selalu bergerak lambat ketika berbicara, seperti seseorang yang sudah menghitung lima langkah berikutnya bahkan sebelum lawan bicaranya selesai berpikir.

“Biro Investigasi Tindak Korupsi mulai terlalu aktif belakangan ini, Tir,” ucap Sutopo sambil mengetukkan abu cerutunya ke asbak porselen hitam. “Badan Stabilitas Kota juga memperketat pengawasan transaksi tunai. Kita tidak bisa lagi pakai pola lama. Transfer langsung ke rekening yayasanmu sekarang sama saja menyerahkan leher ke algojo.”

Tirta tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar perlahan gelas wiski di tangannya, membiarkan cairan amber itu berputar seperti pikirannya yang sedang bekerja.

“Saya sudah memikirkan jalur lain, Pak,” katanya akhirnya. Nada suaranya rendah dan stabil. “Kalau sistem keuangan mulai diawasi terlalu ketat, kita tidak perlu melawan sistemnya. Kita cukup menggunakan sesuatu yang nilainya tidak pernah benar-benar bisa dihitung.”

Sutopo menyipitkan mata. “Maksudmu?”

Tirta tersenyum kecil.

“Seni.”

Satu kata itu jatuh pelan di antara kepulan asap.

“Nilai lukisan, instalasi, atau karya ilustrasi bersifat subjektif. Tidak ada angka pasti. Bagi orang biasa, selembar kanvas penuh coretan mungkin terlihat seperti sampah. Tapi begitu kurator resmi menyebutnya sebagai karya bernilai lima belas miliar, maka secara hukum nilainya memang lima belas miliar.” Ia berhenti sejenak, memastikan Sutopo mengikuti arah pikirannya. “Jika perusahaan konsorsium Bapak membeli karya itu melalui galeri resmi sebagai bentuk investasi aset budaya, transaksi tersebut sah. Legal. Bersih di atas kertas.”

Hening sesaat menyelimuti ruangan.

Lalu perlahan, sudut bibir Sutopo terangkat.

“Cerdas,” gumamnya. “Sangat cerdas.”

Lihat selengkapnya