I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #12

Meluncurnya Pesan ke Dimensi Waktu yang Salah

Lima hari berlalu sejak malam badai yang mengubah hidupnya di rumah sakit.

Bagi dunia luar, Raka Adita Pradana telah kembali sepenuhnya ke ritme lamanya—menjadi analis data yang dingin, presisi, dan nyaris terlalu efisien untuk terlihat manusiawi. Ia kembali duduk di depan monitor penuh grafik dan tabel statistik, kembali menelan kopi yang sudah dingin sebelum sempat habis, kembali bergerak dari satu rapat ke rapat lain dengan ekspresi datar yang membuat orang sulit menebak isi kepalanya.

Namun ada satu anomali kecil yang diam-diam ia rawat sendirian.

Ponsel lamanya.

Ponsel hitam kusam dengan goresan samar bekas sambaran petir itu tidak pernah ia matikan lagi sejak keluar dari rumah sakit. Baterainya selalu penuh. Sinyalnya selalu aktif. Bahkan ketika tidur, benda itu tetap berada dalam jangkauan tangannya, seolah-olah ia takut kehilangan sesuatu jika layar itu sampai padam terlalu lama.

Raka tidak pernah mengakui alasannya—bahkan kepada dirinya sendiri.

Namun jauh di dasar pikirannya yang dipenuhi logika dan probabilitas, ada harapan kecil yang memalukan: bahwa suatu saat layar itu akan menyala lagi membawa pesan dari seseorang yang seharusnya… sudah tertinggal dua tahun di belakang hidupnya.

Seseorang bernama Utari Senandika.

* * *

Siang itu, kantin kantor dipenuhi aroma makanan hangat dan suara percakapan yang saling bertabrakan. Denting sendok, suara mesin kopi, dan tawa para pegawai membentuk kebisingan rutin khas jam istirahat yang biasanya sama sekali tidak pernah menarik perhatian Raka.

Di salah satu sudut meja yang agak terpisah dari keramaian, Raka duduk berhadapan dengan Dimas.

Di atas meja kayu yang bersih, dua ponsel tergeletak berdampingan.

Satu terlihat baru dan modern—ponsel pengganti yang dibelikan Dimas beberapa hari lalu.

Satunya lagi tampak kusam, sedikit retak di sudut layar, dengan casing hitam yang mulai mengelupas di beberapa bagian. Layarnya gelap. Diam. Namun anehnya, justru benda itulah yang beberapa kali dilirik Raka tanpa sadar sejak tadi.

Dimas mengunyah makanannya perlahan sambil memperhatikan sahabatnya dari balik gelas teh dingin.

“Rak,” katanya akhirnya, nada suaranya santai namun sengaja dibuat ringan, “lo sadar nggak sih kalau dunia ini isinya bukan cuma spreadsheet sama error log?”

Raka tidak langsung menjawab. Sedotannya masih bergerak malas memutar es teh yang mulai mencair.

“Jadi gini…” lanjut Dimas sambil mencondongkan tubuh ke depan. “Ada anak baru dari divisi creative marketing yang nanyain lo ke gue kemarin.”

Tidak ada respons.

“Cakep,” tambah Dimas cepat. “Pinter. Mandiri. Dan yang paling penting—dia nggak kayak mantan lo yang hobi bikin hidup orang jadi drama serial.”

Raka tetap diam.

Dimas mendecakkan lidah pelan sebelum melanjutkan dengan senyum usil.

“Ceweknya udah kasih sinyal hijau, nih. Kalau lo mau buka hati dikit aja, gue bisa arrange pertemuan sore ini habis jam kantor. Gimana?”

Baru kali itu Raka menghentikan gerakan tangannya.

Ia mendongak perlahan, menatap Dimas dengan ekspresi datar yang terlalu tenang untuk benar-benar disebut tenang.

“Sorry, Dim,” jawabnya pendek. “Makasih, tapi gue masih pengin fokus kerja dulu.”

Nada suaranya sopan. Halus. Sangat khas Raka.

Lihat selengkapnya