I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #13

Balasan dari Masa Lalu

Langit Kota Pinus menggantung rendah sore itu, dipenuhi awan kelabu yang tampak terlalu berat untuk benar-benar bergerak. Dari balik kaca lorong darurat lantai dua belas, kota terlihat pucat dan jauh, seperti sebuah foto lama yang warnanya perlahan memudar dimakan waktu.

Raka Adita Pradana berdiri sendirian di sana.

Pinto lorong besi di belakangnya sudah menutup sejak beberapa menit lalu, memutus riuh kantin kantor dan menyisakan dengung samar pendingin udara gedung. Di tangannya, ponsel hitam kusam itu masih menyala redup.

Pesan itu tetap ada di layar.

Raka (2024):

Apa kabar?

Sederhana. Terlalu sederhana untuk kekacauan yang berhasil ditimbulkannya di dalam dada Raka.

Ia mengusap wajah pelan dengan tangan kirinya, mencoba mengatur napas yang sejak tadi terasa terlalu pendek. Jantungnya belum benar-benar kembali normal sejak Dimas menekan tombol kirim itu beberapa menit lalu.

Tidak ada balasan. Tidak ada typing bubble. Tidak ada notifikasi lain. Hanya layar sunyi yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Dan anehnya, justru kesunyian itulah yang terasa paling menyiksa.

Bagaimana kalau koneksi itu benar-benar sudah mati? Bagaimana kalau lima hari diam itu sebenarnya adalah cara semesta menutup semuanya perlahan? Bagaimana kalau Utari memilih melupakan semuanya?

Pikiran terakhir itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ingin ia akui.

Raka mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuh ke dinding lorong yang dingin. Di luar, gerimis tipis mulai turun membasahi kaca gedung. Hujan lagi. Entah kenapa, semua hal tentang Utari selalu berakhir dengan hujan.

Ponselnya tetap diam. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada apa-apa.

Raka menunduk, rahangnya mengeras pelan. Logikanya mulai mengambil alih lagi, mencoba menariknya kembali ke realitas yang masuk akal. Tentu saja ini bodoh. Ia baru saja mengirim pesan ke seseorang yang hidup dua tahun di masa lalu seolah itu hal normal. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan sekarang—berteman? Menunggu? Atau perlahan menghancurkan kewarasan masing-masing?

Getaran kecil di tangannya mendadak memotong pikirannya.

Bzzzt.

Tubuh Raka langsung menegang. Layar ponselnya menyala, menampilkan satu notifikasi masuk: Utari Senandika.

Jantungnya serasa jatuh bebas. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap nama itu tanpa bergerak. Tenggorokannya terasa kering mendadak. Lalu perlahan, dengan ibu jari yang sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.

Utari (2022):

Aku kira kamu nggak akan chat lagi.

Raka membeku. Kalimat itu pendek. Tidak dramatis. Tidak penuh tanda tanya atau kepanikan. Namun justru karena itulah dadanya terasa seperti diremas pelan dari dalam. Karena di balik kalimat sederhana itu, ada sesuatu yang langsung ia pahami tanpa perlu dijelaskan: Utari juga menunggu.

* * *

Dua tahun sebelumnya, di sebuah studio ilustrasi kecil yang tersembunyi di lantai tiga ruko tua dekat pusat Kota Pinus, Utari Senandika duduk sendirian di depan meja gambarnya.

Lampu meja berwarna kuning hangat menerangi tumpukan sketsa yang berserakan. Aroma cat akrilik dan kopi dingin memenuhi ruangan sempit itu, bercampur dengan suara hujan yang turun pelan di luar jendela.

Pensil di tangannya sebenarnya masih bergerak. Namun, pikirannya tidak benar-benar berada di gambar yang sedang ia kerjakan. Sejak malam di rumah sakit itu, hidup Utari terasa berjalan sedikit miring. Tidak cukup besar untuk dilihat orang lain, namun cukup untuk membuatnya sulit tidur.

Selama lima hari terakhir, ia berkali-kali membuka ruang obrolan bernama “Raka”. Berkali-kali mengetik pesan, lalu menghapusnya kembali sebelum terkirim. Kadang hanya satu kata. Kadang pertanyaan panjang tentang apakah koneksi mereka masih ada. Kadang sekadar: “Kamu masih di sana?”

Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar ia kirim. Karena setiap kali jarinya mendekati tombol send, rasa takut itu muncul lagi. Takut bahwa semua ini nyata, dan lebih takut lagi kalau ternyata tidak.

Ponselnya tergeletak di samping tablet gambar ketika layar itu mendadak menyala.

Bzzzt.

Nama itu muncul lagi: Raka.

Tubuh Utari langsung menegang. Pensil di tangannya terjatuh pelan ke meja. Untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam menatap layar itu tanpa berani menyentuhnya, seolah satu gerakan kecil saja bisa mengubah seluruh hidupnya lagi.

Pesan itu akhirnya terbuka.

Lihat selengkapnya