I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #14

Orang yang Mulai Dinanti

Hujan turun sejak subuh di Kota Pinus.

Tidak deras—hanya cukup untuk membuat langit tampak muram dan jalanan memantulkan cahaya lampu kendaraan seperti pecahan kaca basah yang berserakan. Dari balik jendela apartemennya yang minimalis, Raka Adita Pradana berdiri membeku sambil memegang mug kopi yang perlahan mulai kehilangan uap panasnya.

Matanya tidak benar-benar melihat lanskap kota di luar. Pikirannya masih tertahan pada percakapan semalam, terpaku pada satu pesan sederhana yang terus terulang di kepalanya seperti melodi yang menolak berhenti.

“Selama ponsel ini masih menyala, aku nggak akan ke mana-mana.”

Raka mengembusen napas pelan, lalu menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Konyol. Sudah bertahun-tahun ia hidup dengan kepala penuh logika, baris data, dan disiplin emosional yang nyaris obsesif. Namun sekarang, hanya karena seorang perempuan dari masa lalu mengirim beberapa baris kalimat, seluruh ritme hidupnya berantakan tanpa izin.

Dan yang paling mengganggu dari semua itu—ia menyukainya.

Bzzzt.

Ponsel lamanya bergetar pendek di atas meja makan. Jantung Raka langsung bereaksi terlalu cepat. Sebuah refleks yang instan, yang nyaris terasa memalukan bagi seorang analis sedingin dirinya. Ia melangkah dan meraih ponsel itu lebih cepat daripada yang ingin ia akui.

Utari (2022):

Pagi.

Sederhana. Namun, sudut bibir Raka langsung bergerak tipis tanpa sadar. Di jam enam pagi. Normalnya, ia membenci percakapan basa-basi yang tidak efisien. Tapi anehnya, pesan pendek itu terasa seolah seseorang baru saja mengetuk pelan pintu hidupnya yang selama ini terkunci rapat.

Raka mengetik balasan sambil berjalan kembali menuju dapur.

Raka (2024):

Kamu pagi-pagi udah bangun?

Typing bubble muncul hampir instan di sudut layar.

Utari (2022):

Aku belum tidur.

Raka menghentikan gerakannya yang hendak mengambil air minum. Alisnya terangkat samar.

Raka (2024):

Lihat selengkapnya