Malam di Kota Pinus terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Hujan masih turun tipis di luar apartemen Raka Adita Pradana, membentuk garis-garis air samar yang meluncur lambat di kaca balkon. Lampu-lampu kota berpendar redup di kejauhan, memantul di atas jalanan basah seperti serpihan cahaya yang hanyut terbawa malam.
Raka masih duduk di kursi balkon dengan ponsel lama di genggamannya. Percakapan terakhir mereka beberapa jam lalu masih terpampang benderang di layar.
Utari (2022):
Berarti kita sama-sama kacau ya?
Dan entah kenapa, sebaris kalimat sederhana itu terus-menerus menahan sudut bibirnya untuk kembali datar. Sudah hampir dua minggu sejak koneksi itu aktif kembali. Dua minggu penuh dengan getaran notifikasi kecil yang perlahan, namun pasti, merombak seluruh ritme hidupnya.
Sekarang, tanpa ia sadari, rasa penasarannya telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih personal. Bukan lagi sekadar pertanyaan analitis: bagaimana koneksi ini bisa terjadi? Melainkan sebuah keinginan yang mendesak: seperti apa rupa perempuan yang berhasil membuatnya menunggu notifikasi setiap malam?
Pikiran itu muncul begitu saja. Kecil, namun terus berakar dan tumbuh liar.
Raka menatap ikon foto profil kosong di akun WhatsApp Utari cukup lama sebelum akhirnya mulai mengetik sesuatu. Jari-jarinya sempat membeku di atas keyboard. Ragu. Aneh. Nyaris gugup—sebuah sensasi asing yang sangat jarang singgah di dalam kamus hidupnya.
Namun, pada akhirnya pesan itu tetap meluncur.
Raka (2024):
Tar…
Typing bubble langsung muncul seketika di seberang sana.
Utari (2022):
Hmm?
Raka menarik napas pendek, lalu mengetik cepat sebelum benteng keberaniannya kembali runtuh.
Raka (2024):
Kita udah ngobrol selama ini, tapi aku bahkan nggak tahu wajah kamu kayak gimana.
Jeda. Cukup lama. Terlalu lama untuk sebuah pesan sesingkat itu. Raka mulai mengutuk diri sendiri dan merasa bodoh, sampai akhirnya sebuah balasan muncul.
Utari (2022):
Aku juga penasaran sama kamu.
Deg.
Raka memejamkan mata sebentar sambil mengembuskan napas pelan. Bahaya. Ini mulai terasa terlalu menyenangkan.
Layar kembali berkedip. Utari melanjutkan ketikannya.
Utari (2022):
Terus gimana caranya?
Pertanyaan itu membuat rongga dada Raka menghangat secara aneh. Karena tanpa perlu dijabarkan dengan untaian kata yang panjang, mereka berdua sedang memikirkan satu opsi yang sama.
Video call.
Dan hanya dengan memikirkan kemungkinan itu saja sudah cukup untuk membuat ritme jantung Raka berakselerasi lebih cepat.
Dua tahun di belakang waktunya, Utari Senandika sedang duduk bersila di atas kasur studio kecilnya. Lampu kamar sengaja ia matikan sebagian, menyisakan pendar cahaya hangat dari lampu meja dan layar ponsel yang menerangi wajahnya lamat-lamat.
Ia membaca ulang pesan Raka berkali-kali. Dan setiap kali matanya menyisir kalimat itu, rasa gugup yang aneh justru semakin membesar di dadanya.
Ini konyol. Mereka bahkan belum pernah bertatap muka secara fisik. Namun sekarang, Utari mendadak sibuk merapikan anak rambutnya di depan kamera ponsel yang bahkan masih mati. Ia mengerang pelan, lalu menjatuhkan wajahnya ke bantal dengan gemas.
“Apaan sih…” gumamnya malu pada dirinya sendiri.
Tapi senyum kecil itu menolak hilang dari wajahnya. Karena jauh di dalam hatinya, ia juga ingin tahu. Seperti apa sepasang mata Raka yang sebenarnya? Apakah pria itu benar-benar kaku dan sedingin cara mengetiknya? Apakah dia juga mengulas senyum kecil saat membaca pesan-pesannya? Dan kenapa memikirkan semua itu membuat dadanya terasa begitu penuh?
Bzzzt.
Ponsel di genggamannya bergetar lagi.
Raka (2024):