Pagi berikutnya datang tanpa suara guntur, tanpa kilatan petir, tanpa pertanda apa pun bahwa sesuatu yang mustahil pernah terjadi beberapa malam sebelumnya. Cahaya matahari merayap masuk melalui jendela besar kantor, jatuh membentuk bidang-bidang terang yang simetris di atas meja kerja Raka.
Di antara monitor utama yang menampilkan grafik rumit, keyboard mekanik, dan tumpukan laporan yang belum selesai diperiksa, dua ponsel tergeletak berdampingan dalam diam.
Satu ponsel berisi kehidupannya yang nyata: email pekerjaan, jadwal rapat, target mingguan—dunia yang bising namun bisa dijelaskan secara logis. Sementara ponsel satunya lagi hanya menyimpan satu kontak, satu ruang obrolan, dan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Anehnya, justru ponsel lama itulah yang pertama kali ia cari pagi ini.
Raka menatap layar gelapnya beberapa saat. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan baru. Hanya bayangan wajahnya sendiri yang terpantul samar di permukaan kaca yang mulai usang. Ia mengembuses napas pendek. Lalu, sebelum sempat logikanya berdebat dan membatalkan keputusannya, jemarinya bergerak mengetik.
Raka (2024):
Good morning, Tar.
Jangan lupa sarapan.
Pesan itu terkirim. Sederhana. Namun bahkan setelah bertahun-tahun hidup dengan jadwal yang terukur dan benteng emosional yang ketat, Raka tahu dirinya baru saja mengizinkan sebuah anomali mengacaukan disiplin dirinya.
Ia meletakkan ponsel itu kembali. Berusaha keras memaku fokus pada grafik penjualan yang terbuka di monitor utama. Gagal. Separuh pikirannya sudah tertinggal di ruang obrolan dua tahun lalu.
Dua tahun sebelumnya.
Di sebuah studio ilustrasi kecil yang berantakan oleh tumpukan sketsa, ceceran cat air, dan gelas-gelas kopi yang terlalu sering lupa dicuci, Utari Senandika baru saja duduk di depan meja kerjanya ketika ponsel di samping tablet grafisnya bergetar pendek.
Bzzzt.
Ia melirik layar. Dan tanpa bisa dicegah, sudut-sudut bibirnya langsung terangkat tinggi. Rasa kantuk yang menggelayuti matanya akibat lembur semalaman menyelesaikan revisi klien mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh luapan dopamin yang mendadak penuh.
Utari mengambil ponselnya, menaikkan kedua lutut ke atas kursi ruji besi, lalu mulai mengetik balasan sambil menyembunyikan senyumnya sendiri.
Utari (2022):
Pagi.
Aku nggak akan pernah terbiasa dapat ucapan selamat pagi dari masa depan.
Beberapa detik kemudian, layar ponselnya berkedip. Balasan muncul hampir instan. Terlalu cepat, seolah pengirimnya di tahun 2024 memang sedang menatap layar sambil menunggu.
Raka (2024):
Aku juga nggak pernah nyangka bakal ngucapin selamat pagi ke masa lalu.