I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #17

Distorsi di Balik Panel

Sore hari di Selasar Balai Kota Pinus datang dengan ketenangan yang nyaris intimidatif. Cahaya matahari senja merayap miring di antara pilar-pilar beton yang tinggi, menumpahkan warna keemasan yang pekat ke atas lantai vinil yang mengilap dan panel-panel kayu yang masih setengah terpasang. Aroma serbuk kayu yang kering, serat kain kanvas, dan uap tajam dari sisa cat akrilik bercampur menjadi satu di udara—membentuk sebuah bau familier yang pekat bagi siapa pun yang menghabiskan terlalu banyak waktu di dalam rahim dunia seni.

Utari Senandika berdiri di tengah ruangan yang bising oleh gema sunyi itu, kedua tangannya memegangi salah satu sudut panel pameran setinggi dua meter. Ujung sepatunya mengetuk lantai secara konstan, mengikuti ketukan melodi imajiner yang hanya terdengar di dalam kepalanya sendiri. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sejak pagi tadi, otot-otot wajahnya berkali-kali melonggar, mengulas senyum tipis tanpa alasan yang jelas.

Atau mungkin, alasannya terlalu gamblang untuk didebat.

Ponsel lama yang tersimpan di dalam saku hoodie oversized warna abu-abunya terasa beberapa ons lebih berat dari biasanya. Bukan karena bobot materialnya, melainkan karena getaran eksistensi seseorang yang tersimpan di balik layarnya.

“Heh, Ndul. Fokus dong. Itu kabel lampunya nyaris jatuh ke lantai,” tegur Utari, menoleh cepat sambil melempar tawa renyah.

Zico, yang sedang bertumpu di atas tangga aluminium, mendengus keras menutupi kegugupannya. “Kegeeran lo, Tar. Siapa juga yang ngeliatin?”

“Tuh, kan. Suara lo langsung gugup gitu.”

“Tar, demi Tuhan, mending lo bantu gue pegangin tangga.”

Utari tertawa lebih keras. Suara tawanya memantul, bergaung di antara panel-panel kosong yang belum sempat dipasangi satu pun mahakarya.

Sudah teramat lama Zico tidak mendengar ledakan tawa seutuh itu dari mulut Utari. Selama lima hari berturut-turut pascakejadian aneh di jembatan, Utari nyaris bertingkah seperti robot birokrasi—ia datang, memegang kuas dengan jemari kaku, lalu pulang dengan rahang mengeras yang sama setiap hari. Namun sekarang, gadis itu seolah ditarik kembali secara paksa menjadi dirinya yang lama. Dan entah kenapa, insting Zico justru menangkap sinyal gelisah dari perubahan drastis itu.

Ketukan.

Langkah sepatu formal bergema memutus tawa mereka dari ujung selasar yang temaram. Satu kali. Dua kali. Beritme konstan, berat, dan semakin mendekat.

Utari dan Zico menoleh secara simultan.

Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan pembawaan yang sangat tenang. Jas abu-abu yang dikenakannya berpotongan sederhana, namun kerutan bahunya membisikkan harga yang mahal. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang. Senyumnya tampak hangat—terlalu hangat untuk tempat sesunyi ini.

Tatapannya bergerak horizontal, menyisir setiap sudut ruangan dengan detail yang janggal. Cara matanya memindai ruangan bukan seperti sorot mata seorang penikmat seni yang haus visual, melainkan lebih menyerupai seorang analis yang sedang mengalkulasi nilai komoditas.

“Permisi,” suaranya berat dan ramah, menginterupsi keheningan. “Apakah saya sedang berbicara dengan Nona Utari Senandika?”

Utari menurunkan tangannya dari panel, mengangguk sopan. “Benar, Pak.”

Pria itu mengulurkan tangan kanan. “Baskoro.”

Jabat tangannya terasa mantap, pas, dan profesional. Tidak kurang, tidak lebih. Namun, ada kilat kalkulatif dalam sepasang manik matanya yang membuat Zico tanpa sadar menurunkan kaki, berpindah satu anak tangga lebih rendah untuk berdiri sedikit di depan Utari.

Percakapan yang mengikuti setelahnya berlangsung sangat taktis. Terlalu taktis. Baskoro menjabarkan identitasnya sebagai perwakilan dari Yayasan Cakrawala Seni. Ia bicara tentang ketertarikan mendalam mereka pada draf konsep Ruang Sunyi, tentang peluang pasar, investasi kultural, hingga masa depan industri seni lokal.

Lihat selengkapnya