Mobil Dimas membelah jalanan Kota Pinus yang mulai dipenuhi oleh pendar lampu-lampu sore. Gerimis tipis masih turun di luar, memantulkan warna merah menyala dari lampu rem kendaraan menjadi garis-garis kabur yang hanyut di atas aspal basah. Wiper bergerak perlahan dari kiri ke kanan, lalu kembali lagi dengan ritme monoton yang mengisi keheningan di dalam kabin.
Raka duduk di kursi penumpang dengan ponsel lamanya di dalam genggaman. Layar kecil yang mulai usang itu masih menampilkan pesan terakhir dari Utari. Sebuah kegembiraan yang meluap-luap. Terlalu hidup, terlalu tulus, dan terlalu kontras dengan firasat buruk yang sejak beberapa menit lalu menolak pergi dari kepala Raka.
Jemarinya mulai bergerak di atas papan ketik. Hati-hati, terukur, seolah setiap kata yang ia kirim harus melewati proses penyaringan yang panjang sebelum diperbolehkan melintasi dimensi waktu.
Raka (2024):
Selamat, Tar. Aku ikut senang dengarnya :)
Kalau nanti udah senggang, kita teleponan? Aku pengen dengar ceritanya langsung.
Pesan itu terkirim. Tidak sampai satu menit kemudian, sebuah balasan muncul di layar. Cepat. Terlalu cepat, menyerupai refleks seseorang yang bahkan tidak sempat meletakkan ponselnya sejak terakhir kali mengulas senyum.
Utari (2022):
Mau banget! Ini aku masih di selasar pameran. Nanti kalau udah balik ke studio aku telepon ya! Banyak banget yang mau aku ceritain!
Raka membaca pesan itu dua kali, lalu tiga kali. Dan setiap kali sebaris kalimat penuh semangat itu melintasi matanya, rasa tidak nyaman di ulu dadanya justru tumbuh semakin besar. Sisi analisnya berbisik perih: seseorang yang sedang berjalan menuju tepi jurang biasanya tidak pernah menyadari bahwa ia sedang melangkah ke sana.
Mobil akhirnya berhenti dengan mulus di depan lobi apartemen Raka. Dimas mematikan fungsi wiper. Suara gesekan karet yang sejak awal menemani perjalanan mereka mendadak hilang, menyisakan keheningan kabin yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
“Rak.”
Raka menoleh. Dimas masih menatap lurus ke depan, kedua tangannya diam bertumpu di atas roda kemudi. Tidak bergerak sedikit pun.
“Ada satu hal yang pengen gue bilang ke lo.” Nada suara Dimas merendah, membuat Raka langsung tahu bahwa ini bukanlah bagian dari rangkaian gurauan kantinnya. “Lo boleh nyari jawaban. Lo boleh penasaran setengah mati.” Dimas jeda sejenak, mengembuskan napas pendek. “Tapi jangan sampai lo lupa jalan pulang.”
Raka mengernyitkan dahi. “Pulang?”